Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habaib. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2015

Habib Luthfi: Jika Anda Hidup di Zaman Walisongo, Tidak Benci Wali Saja Sudah Bejo

Kitab Kuning Digital - Ketika Maulana Habib Luthfi bin Yahya memberikan mauidhah hasanah kepada ribuan jamaah dalam acara pengajian di Masjid Wali, Troso, Pecangaan, Jepara (Jumat malam, 14/01/2017), muncul ajakan untuk tidak mudah dipecah belah antar sesama umat Islam Indonesia.

Habib Luthfi: Jika Anda Hidup di Zaman Walisongo, Tidak Benci Wali Saja Sudah Bejo - Kitab Kuning Digital
Habib Luthfi: Jika Anda Hidup di Zaman Walisongo, Tidak Benci Wali Saja Sudah Bejo - Kitab Kuning Digital


Habib Luthfi: Jika Anda Hidup di Zaman Walisongo, Tidak Benci Wali Saja Sudah Bejo

"Jangan memberikan seujung rambut pun kepada yang mencoba memecah belah umat Islam di negeri ini. Ayo dijaga bareng-bareng. Ayo, jangan mudah disms (nyetatus di medsos, red), terus langsung ditanggapi, ribuut terus," ujar Abah Luthfi dalam bahasa Jawa kromo.

Habib Luthfi prihatin atas fenomena umat Islam sekarang yang mudah disulut untuk membenci, bahkan kepada pemangku kebijakan di negeri ini, "kalau bangsa sudah tidak menerima pimpinannya, maka orang yang ingin menjajah akan mudah masuk lagi ke negeri ini, apa jenengan ingin Belanda masuk lagi?" tanya beliau.

Untuk mengajak bersyukur hidup di negeri ini, Habib Luthfi mengungkapkan perbandingan antara zaman digital dengan zaman ketika para Walisongo berjuang di bumi Nusantara ini. Umat Islam yang hidup di masa demokrasi dan kesejahteraan yang sekarang berlimpah, kata beliau, lebih beruntung dan mestinya lebih bisa bersyukur.

Masjid Wali di Troso, tempat Habib Luthfi ceramah, dijadikan contoh dakwah Walisongo yang tantangannya lebih berat. Masjid peninggalan Mbah Datuk Singorojo tersebut adalah bukti sejarah yang harus dimaknai sebagai bentuk ijitihad wali (ulama) yang penuh kesabaran dan keuletan.

Kata Habib Luthfi, jarang sekali orang sekarang yang berpikir tentang sejarah awal mula didirikannya sebuah bangunan bersejarah hingga hilang kesadararannya untuk menghormati perjuangan para leluhur, "mikirnya orang sekarang, masjid ini dibangun menggunakan gergaji besar dan mesin-mesin canggih, padahal dulu membangunnya menggunakan kampak sederhana, kayu dipotong pakai alat sederhana, digotong banyak orang, yang cukup makan waktu," jelas Habib.

Orang tidak membayangkan sulitnya masa perjuangan para Walisongo, termasuk masjid Wali di Troso itu, karena terkadang, lanjut Habib, masjid yang dibangun itu belum jadi, tapi listrik di lingkungan sudah hidup. Artinya, banyak orang yang hidup di zaman sekarang ini tidak dekat dengan teks dan konteks sejarah masa lampau. Ada keterputusan ingatan di tengah hadirnya kemudahan mengakses sumber ekonomi dan teknologi.

"Untung jenengan tidak menangi Walisongo. Jaman itu, saya bayangkan, ora lanang ora wadon, -pakaian masih terbatas, tekstil masih tebatas,- dari atas ke bawah sudah rapet (berbusana, red) saja itu sangat sulit, saking terbatasnya. Hingga ada orang Cina-orang Arab membawa dagangan kain, kita baru bisa membeli. Mungkin yang kaya bisa beli kemben itu sudah bagus. Kalau yang tidak punya, bagaimana? Itulah yang dihadapi ulama kita zaman itu," papar Habib.

Itu belum menghadapai umat, yang, untuk bersuci saja masih harus diajari detail. Hingga dibuatlah tembang Lir- ilir, Parijotho, Pangkur dan lainnya agar ajaran Islam mudah ditangkap isinya oleh orang Jawa waktu itu, "awake dewe gak telaten, pengene Islam mawon," imbuhnya.

Para Walisongo ketika itu menggunakan media dakwah berupa wayang, misalnya Sunan Kalijogo, "wes wali, ndalang, pakai sinden, zaman semono," terang Habib Luthfi, "kalau jenengan menangi zaman Sunan Kalijogo, ora gething wes bejo. Wali opo iku, kok ndalang, wali opo iku kok main orgen, wali opo iku kok jagongan karo wadon-wadon, kabeh diukur karo awake dewe," lanjut beliau.

Kini, kita bisa melihat banyaknya orang yang rajin menyalahkan dan hendak menghancurkan warisan leluhur, bahkan mengingkari ajarannya, hanya karena ia tidak paham konteks sejarah. Jika umat Islam Indonesia yang sekarang ini hidup lalu mengalami sebagaimana zaman Walisongo berjuang, "ora ingkar mawon mpun bejo," kata Abah Luthfi. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/habib-luthfi-jika-anda-hidup-di-zaman-walisongo-tidak-benci-saja-sudah-bejo.html

Sabtu, 06 Juni 2015

Hadapi Radikalisme, Komunitas Pesantren Harus Terdepan

Probolinggo, Kitab Kuning DigitalSalah satu ancaman luar yang saat ini jadi fenomena adalah ancaman radikalisasi agama yang muncul karena adanya pemahaman agama yang sempit dan sepihak. Serta, adanya penafsiran Al-Quran dan hadits sesuai dengan kepentingannya. Baik itu kepentingan politik, ekonomi, ideologi yang dikemas dalam dalih pemurnian ajaran Islam.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Zainul Hasan (YPPZH) Genggong KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan hal ini di sela acara perayaan wisuda Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan (Inzah), Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH), dan program profesi D 1 I-TECH Zainul Hasan Genggon, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (21/01).

Hadapi Radikalisme, Komunitas Pesantren Harus Terdepan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Radikalisme, Komunitas Pesantren Harus Terdepan (Sumber Gambar : Nu Online)


Hadapi Radikalisme, Komunitas Pesantren Harus Terdepan

Kemasannya macam-macam, bisa konstitusi, ekonomi dan sosial budaya. Perubahan politik luar negeri juga akan mempengaruhi kita. Di sinilah peran para sarjana santri dan komunitas pesantren memegang peran penting. Yakni dengan menjadi garda terdepan, ujarnnya.

Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur ini berpesan kepada para wisudawan untuk piawai memanfaatkan keilmuannya dalam memproteksi dan mewaspadai berbagai ancaman, baik eksternal maupun internal. Sebab Indonesia merupakan bangsa yang besar, bangsa yang jadi perhatian dunia dan cukup disegani dunia. Kita jangan sampai lengah, kata Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong ini.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Kiai Mutawakkil juga berharap agar para wisudawan bisa lebih dekat kepada Allah SWT, bertanggung jawab, jujur dan disiplin terhadap keilmuannya.

Ilmu itu akan bermanfaat dan akan dirasakan manfaatnya, hanya dengan memiliki jiwa juang yang disertai keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan pernah menelantarkan pejuang. Tanda-tanda pejuang ia mampu memberikan manfaat bagi orang lain, ujarnya.

Tahun ini, ada sebanyak 389 mahasiswa dari tiga lembaga tersebut yang diwisuda di Gedung Islamic Centre (GIC) Kota Kraksaan. Fakultas Tarbiyah Inzah mewisuda 301 mahasiswa dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 17 mahasiswa dari Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Serta, 18 mahasiswa dari Fakultas Syariah, Prodi Perbandingan Madzhab (PM).

STIH tahun ini mewisuda sebanyak 33 mahasiswa Prodi Ilmu hukum dan Program profesi D 1 I-TECH mewisuda 20 mahasiswanya. Prosesi wisuda yang disaksikan jajaran pengasuh pesantren Zainul Hasan Genggong ini berlangsung khidmat dalam suasana akrab penuh kekeluargaan.

Hadir dalam prosesi wisuda tersebut Ketua Yayasan Pondok Pesantren Zainul Hasan (YPPZH) Genggong KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua STIH Hj. Khusnul Hitamimah, Rektor Inzah DR Abdul Aziz Wahab dan Ketua I-TECH Novi Hendra Wirawan. Serta Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Probolinggo H Asyari.

Pada wisuda ini, lulusan terbaik dari INZAH untuk prodi PAI diraih Sri Wahyuningsih dengan IPK 3,69, prodi PM diraih Moch. Fahmi M dengan IPK 3,55 dan prodi PBA diraih Nafisatul Rohmah dengan IPK 3,65.

Sedangkan dari STIH, lulusan terbaik untuk prodi Ilmu Hukum diraih Firman Juniartanto dengan IPK 3,73 dan I-TECH prodi Adm Perkantoran diraih Jevi Lutfiyah dengan IPK 3,51. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65177/hadapi-radikalisme-komunitas-pesantren-harus-terdepan

Kitab Kuning Digital

Senin, 23 Desember 2013

Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat

Diantara rahasia shalat adalah mengetahui hikmah dan tatacara memberlakukan diri ketika telinga mendengar adzan. Adzan seharusnya menjadi tanda panggil dari Yang Maha Kuasa, hati yang baik akan merasa terpanggil untuk menyambutnya.

Tentunya dengan perasaan yang penuh gembira dan kebahagiaan, bukan dengan perasaan yang memberatkan. Adzan ibarat panggilan dari sang kekasih yang lama telah dirindukan. Sesungguhnya mereka yang bersegera menjawab panggilan ini nanti di hari akhir akan dipanggil dengan lembut oleh Allah swt.

Adapun bersuci yang dalam fiqih disebut dengan thaharah sesungguhnya merupakan thaharah dhahiriyah yang meliputi suci badan, suci pakaian dan suci tempat shalat yang dipergunakan. Ketika thaharah secara fiqihy ini telah dipenuhi, maka usahakanlah thaharah dalam hati. Thaharah dalam hati ini berarti mensucikan diri dari segenap dosa dengan bertaubat mengakui kesalahan dan memohon ampunan atasnya. Dalam shalat hati seharus suci dan bersih, karena hatilah ruang bagi pandangan Dzat Yang Disembah.

Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat (Sumber Gambar : Nu Online)


Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat

Selanjutnya menutup aurat yaitu menutup kejelekan-kejelekan diri dari pandangan-pandangan makhluk, karena jasad badaniah ini menjadi objek pandangan mereka. Sedangkan bagi Allah swt tidak ada satupun yang tertutup bagi-Nya Yang Maha Tahu. Maka bukalah aurat batin karena serapi apapun hati disembunyikan Allah Maha Tahu.

Setelah itu bersegeralah bangunkan perasaan menyesal, malu dan takut kepada-Nya sebagai wahana melahirkan kerendahan dan ketenangan hati. Jika sudah demikian maka shalat akan didirikan dengan wajah tertunduk dengan perasaan tawadhu. Merasa diri lemah, tak berdaya dan penuh dosa di hadapan Yang Maha perkasa. (red. Ulil H)

Kitab Kuning Digital

Dari (Syariah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51870/hakikat-azan-bersuci-dan-menutup-aurat

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Kamis, 28 November 2013

Usai Mencoblos Cagub DKI Jakarta, Kiai Said: Yang Kalah Harus Bersabar

Kitab Kuning Digital - Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pilkada serentak tanpa konflik. Pilkada telah terlaksana, selanjutnya bersama-sama menjaga kondusifitas pasca pencoblosan.

"Ayo kita kawal bersama agar suasana rukun dan guyub ini terus terjaga," kata Kiai Said Aqil sesaat setelah keluar dari TPS di samping kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan siang ini, Rabu, 15 Februari 2017.

Usai Mencoblos Cagub DKI Jakarta, Kiai Said: Yang Kalah Harus Bersabar - Kitab Kuning Digital
Usai Mencoblos Cagub DKI Jakarta, Kiai Said: Yang Kalah Harus Bersabar - Kitab Kuning Digital


Usai Mencoblos Cagub DKI Jakarta, Kiai Said: Yang Kalah Harus Bersabar

Kiai Said menuturkan, ketenangan masyarakat pasca pencoblosan sangat ditentukan oleh statemen, sikap dan tindakan politisi. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan pilkada harus mengendalikan diri.

"Yang kalah harus bersabar, yang menang tetaplah rendah hati," begitu nasehat kiai pengasuh Pondok Pesantren as-Tsaqofah ini.

Kitab Kuning Digital

Jika masyarakat mampu mempertahankan kondusifitas ini, bagi Kiai Said, merupakan kemajuan luar biasa.

"Demokrasi makin matang dan tentu manfaatnya kembali ke masyarakat," ujar Kiai Said Aqil. [Kitab Kuning Digital/anw/ksf].

Kitab Kuning Digital

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/usai-mencoblos-cagub-dki-jakarta-kiai-said-yang-kalah-harus-bersabar.html

Kamis, 05 September 2013

Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama?

Kitab Kuning Digital - Imam Besar Dr. Ahmad Thayyib Syeikh Al-Azhar menjawab beberapa pertanyaan dari anggora parlemen Jerman setelah memberikan pidato yang ditujukan kepada masyarakat internasional pada Selasa (15/3/2016) waktu Jerman, di kantor parlemen.

Wakil Al-Azhar di bidang kesejarahan Dr. Abbas Sauman sempat melontarkan pujian atas jawaban Grand Syeikh Al-Azhar itu yang sanggup membuat semua orang di gedung parlemen itu terdiam. Salah seorang anggota parlemen Jerman bertanya: "Tadi Syeikh Al-Azhar berbicara tentang seorang muslim laki-laki yang boleh menikahi wanita non-muslim, itu adalah hal yang bagus. Akan tetapi mengapa agama kalian (Islam) melarang seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim?

Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama? - Kitab Kuning Digital
Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama? - Kitab Kuning Digital


Mengapa Wanita Muslim Dilarang Menikahi Laki-Laki Beda Agama?

Al-Azhar: Cadar Bukan Ajaran Islam Kedudukan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir Abu Aqila, Pemfitnah Grand Syeikh Al-Azhar Mesir Ketika MUI Ditunggangi Irfan Helmi Wahabi Syeikh Al-Azhar menjawab: "Pernikahan di dalam Islam bukan sekedar ikatan sipil/perdata saja, sebagaimana yang terjadi di negara anda. Akan tetapi pernikahan adalah ikatan keagamaan yang berdiri di atas rasa cinta dan kasih sayang dari dua pihak. Dan seorang muslim boleh menikahi wanita non-muslimah, dari agama nasrani/kristen misalnya, karena dia (laki-laki muslim) beriman kepada Nabi Isa As. sebagai syarat sempurna keimanannya.

“Selain itu juga agama kami memerintahkan seorang lelaki muslim untuk membolehkan wanita non-muslimah (isterinya) untuk menunaikan syariat agamanya, dan dia tidak boleh melarang isterinya untuk pergi beribadah ke gereja. Dan melarang suami yang muslim menghina simbol-simbol suci dari agama isterinya (seperti para Nabi-Nabi dan orang-orang Shaleh Yahudi: red), karena dia juga beriman kepada mereka. Dan karena inilah rasa cinta dan kasih sayang tidak hilang dari seorang lelaki muslim kepada wanita non-muslimah.

Kitab Kuning Digital

"Sebaliknya, jika seorang wanita muslimah menikah dengan lelaki non-muslim, sedang dia (suaminya) tidak beriman kepada Rasul kami Muhammad, dan agamanya si suami tidak memerintahkan untuk mengizinkan isterinya yang muslimah itu -jika dia menikahinya- untuk menunaikan syariat Islam (berjilbab, mendidik anak ala Islam, shalat, haji, dan lain-lain: red), atau memuliakan simbol-simbol suci Islam. Juga karena Islam adalah bentuk penyempurnaan dari Nasrani/Kristen, maka dia (si suami) akan menghinanya dengan tidak menghormati simbol-simbol suci agama isterinya dan menentang Rasul yang disucikan

isterinya.

Kitab Kuning Digital

“Maka dari itu, hilanglah rasa cinta dan kasih sayang di dalam jiwa isteri muslimah kepada suaminya yang non-muslim. Maka dari itu Islam melarang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non-muslim."

Kemudian di akhir jawabannya syeikh Al-Azhar menantang hadirin dengan halus dan sopan, "Apabila ada di sana yang tidak setuju dengan pendapat saya, maka saya akan sangat senang untuk mendengarnya." Tidak ada satupun yang hadir di situ menentang pendapat Syeikh Al-Azhar.

Barakallahu laka ya Syeikhana. Semoga Allah senantiasa menolongmu dalam menyebarkan Islam yang Rahmatan lil 'alamin. Semoga Allah memanjangkan umurnya dan selalu memberikan kesehatan kepadanya untuk bisa terus menyebarkan kedamaian Islam ke seluruh dunia. [Kitab Kuning Digital]

Keterangan: Tulisan ini diterjemahkan oleh Zulfahani Hasyim, dengan diedit seperlunya agar mudah dipahami. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/mengapa-wanita-muslim-dilarang-menikahi-laki-laki-beda-agama.html

Kamis, 07 Februari 2013

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah

Mekkah, Kitab Kuning Digital. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai negara menggelar acara Silaturrahim dan Musyawarah di Rubath Jawa yang terletak di distrik Misfalah, Kota Mekkah, Arab Saudi. Musyawarah antara lain membahas rencana pelaksanaan Konferensi Internasional NU.

Kegiatan yang digelar Kamis (30/10) malam lalu merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan bertepatan dengan musim haji. Hadir perwakilan PCINU dari berbagai negara, antara lain, Ahmad Fuad Abd Wahab (Ketua Tanfidziyah PCINU Arab Saudi), Miftakhul Munif (Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan), Landy T. Abdurrahman (Ketua tanfidziyah PCINU Mesir), Muhammad Taqi (PCINU Syiria), La Ressa Beddu Kulasse (PCINU Lebanon), Rifqi Maula (Sekretaris PCINU Maroko dan juga ketua PPI Maroko).

Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah (Sumber Gambar : Nu Online)


Pengurus NU dari Berbagai Negara Kumpul di Mekkah

Silaturrahim ini juga dihadiri berbagai pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di negara-negara Timur Tengah dan dari Kota Mekkah sendiri. Tampak kader-kader GP Ansor dari Kota Jeddah juga turut menghadiri acara.

Kitab Kuning Digital

Selain menjadi ajang ramah-tamah dan sambung rasa antar pelajar, aktivis dan pengurus cabang istimewa Nahdlatul Ulama dari berbagai negara, forum ini juga membahas hasil Konferensi Internasional NU yang telah digelar di Istanbul, Turki (18-19 Mei 2014) tentang optimalisasi Forkor PCINU LN (Forum Koordinasi Pengurus Cabang Istimewa NU Luar Negeri) sebagai wadah diskusi online antar pengurus dan tentang lokasi Konferensi Internasional selanjutnya tahun 2015 yang diusulkan dengan pilihan lokasi, Eropa di Jerman, Timur Tengah di Mesir atau Asia di Jepang.

Dengan berbagai pertimbangan terutama visa sebagai syarat utama masuk negara lain. Forum musyawarah merekomendasikan lokasi Konferensi Internasional PCINU Luar Negeri yang rencananya akan digelar di medio antara Mei atau Juni tahun 2015 untuk digelar di Jepang.

Yang tak kalah penting, menyikapi berbagai gerakan radikal yang mewabah di negara-negara timur tengah dan upaya mengcounter paham-paham radikal untuk tidak berkembang luas. dalam forum ini, PCINU Mesir mengemukakan pembuatan Jurnal Ilmiah dengan topik Deradikalisasi Agama yang ditulis dengan tiga bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pengurus yang hadir dan berkompeten dalam masalah ini bersedia akan menyumbangkan karya ilmiahnya. Dalam hal ini, PCINU Mesir menyatakan kesanggupan untuk menjadi penanggung jawab dalam proses terbit dan publikasi.

Kitab Kuning Digital

Usai musyawarah, acara dilanjutkan dengan pemberian ijazah sanad Asmaul-Husna, ijazah sanad Al-Quranul-Karim dan doa penutup oleh Syekh KH Jamhuri Al-Banjari Al-Makky yang merupakan salah satu Ulama Kota Makkah asal Indonesia. (Ridho El-Qudsy/Anam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55497/pengurus-nu-dari-berbagai-negara-kumpul-di-mekkah

Kitab Kuning Digital

Sabtu, 31 Desember 2011

Lagi, PBNU Kirim Mahasiswa Beasiswa ke Maroko

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Biro Kerjasama Beasiswa NU akan memberangkatkan mahasiswa S1 dengan beasiswa di Mahad Atiq Imam Nafi Tangier Maroko untuk studi keislaman untuk program S1.

PBNU secara rutin telah mengirimkan kadernya ke Maroko sebagai bagian dari program kerjasama NU dengan Kementeraian Wakaf Marokko, untuk meningkatkan kualitas SDM warga NU. Mereka yang lolos seleksi kali ini berasal dari sejumlah pesantren di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Lagi, PBNU Kirim Mahasiswa Beasiswa ke Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, PBNU Kirim Mahasiswa Beasiswa ke Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)


Lagi, PBNU Kirim Mahasiswa Beasiswa ke Maroko

Banyak yang berminat, tetapi tahun ini, terdapat peningkatan persyaratan, yaitu harus hafal Al-Quran 30 juz, sehingga tidak semuanya lolos, katanya.

Kitab Kuning Digital

Persyaratan lain adalah, bisa membaca kitab dan lancar berbahaya Arab.

Kitab Kuning Digital

Saat ini, ketujuh calon mahasiswa tersebut sudah berada di Jakarta dan mereka akan diberangkatkan, Ahad, 29 September 2013. Pada Jumat sore (27/9) akan dilakukan pembekalan dengan materi ke-NU-an, penguatan tahfidz Quran, bahasa Arab serta mengenal sistem pembelajaran di Marokko. Perkuliahan sendiri akan dimulai Oktober 2013. (mukafi niam)

Foto: Worldnomads.com

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47297/lagi-pbnu-kirim-mahasiswa-beasiswa-ke-maroko

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock