Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

Solo, Kitab Kuning Digital. Setiap diadakannya Tradisi Sekaten yang diadakan di Kota Surakarta, para pengunjung tentu tidak asing dengan beberapa benda sebagai berikut, yakni; kinang, pecut (cambuk), mainan gangsingan, celengan, dan telur.

Benda-benda ini, menurut Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, memiliki filosofi tersendiri. Kinang misalnya, benda yang terdiri dari 5 unsur ini sebagai pembelajaran seseorang harus melaksanakan 5 rukun Islam.

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya (Sumber Gambar : Nu Online)


Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

Dalam kinang bila hanya menggunakan 3 unsur kinang maka sudah enak yang artinya bila kita mampu melaksanakan 3 rukun islam; syahadat, sholat dan puasa maka sudah baik. Sedangkan, dua unsur lainnya, zakat dan haji menjadi penyempurna, bila ada kemampuan, terang Muhtarom yang juga Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu, Selasa (13/12).

Sementara itu, pecut memiliki makna bahwa kita harus berupaya mecut (mencambuk) hawa nafsu. Artinya mampu mengendalikan hawa nafsu, agar hidupnya selamat terarah, kata dia.

Kitab Kuning Digital

Kemudian, gangsingan yang artinya istiqamah. Ketika gangsingan diputar dengan putaran yang sangat kencang maka gerakan gangsingan akan stabil dan celengan, bermakna agar banyak menabung amal shalih.

Hidup di dunia ini pada hakikatnya permainan belaka diibaratkan dengan simbol berbagai dolanan (mainan). Ketika kita kita bisa mengambil nilai-nilai di atas maka hidup kita akan mencapai kesempurnaan maka dilambangkan dengan endok (telur) kamal, pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Kitab Kuning Digital

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73741/mulai-dari-kinang-hingga-telur-kamal-ini-filosofinya

Kitab Kuning Digital

Kamis, 21 Juli 2016

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Kitab Kuning Digital - Acara Istighotsah Kebangsaan yang digelar oleh Warga Nahdliyin Jakarta di Masjid al-Huda Jl Talang No 3 Jakarta Pusat, mengundang polemik. PWNU mengirimkan rilis yang memprotes istighotsah itu.

Anehnya, rilis hanya ditandatangani Rais Syuriah dan Wakil Ketua Tanfidziyah. Kalau resmi, rilis itu mestinya ditandatangi oleh Rais Syuriah, Katib Syuriah, Ketua Tanfidziyah dan Sekretaris Tanfidziyah. Tapi yang menarik, sejak kapan Istighotsah Nahdliyin perlu izin PWNU?

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Kitab Kuning Digital
Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Kitab Kuning Digital


Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Apalagi yang mengadakan adalah tokoh NU yakni Djan Faridz yang mantan Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta (2011-2014) dan dihadiri oleh KH Nur Iskandar SQ, yang baru sembuh dari sakit, yang pernah dikabarkan wafat gara-gara menolak Aksi 411 (Alhamdulillah Kiai, njenengan dipanjangkan umur dan diberi kesehatan setelah difitnah macam-macam).

Bagi pihak yang menolak istighatsah ini menganggap istighasah ini politis, karena diadakan oleh Djan Faridz yang juga Ketua Umum PPP dan hanya dihadiri oleh salah seorang Cagub yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Kita sayangkan politisasi ini, tapi, politisasi terhadap NU tidak hanya dilakukan oleh Djan Faridz, karena sampai ke struktur PBNU juga melakukan. Rais Aam Syuriah, Ketum PBNU dan Sekjend PBNU hanya menerima Paslon Nomer 1: Agus-Sylvi pada bulan Oktober tahun lalu, bahkan diberi KartaNU.

Sejak kapan Agus jadi NU, peduli ke NU, datang ke NU dan sowan ke Kiai, tiba-tiba dapat keistimewaan diberi KartaNU dan langsung oleh Rais Aam PBNU dan Ketum PBNU? Apa kriteria ini? Saya saja yang dari lauhul mahfudz sudah NU, hingga lahir dan besar, perlu ngantri untuk dapat KartaNU. Hehehe..

Banyak yang curiga karena Sekjen PBNU juga merupakan politisi PKB dan anggota DPR Fraksi PKB yang satu koalisi dengan Cikeas. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Rais Aam PBNU, Kiai Ma'ruf Amin (semoga Allah SWT memberikan beliau kesehatan dan panjang umur) adalah Watimpres zaman SBY dan pada Pilkada 2012 mendukung Foke yang merupakan cagub dari Demokrat.

Andai PBNU dan struktur PBNU tidak main-main dengan khittah 1926 yakni benar-benar netral dari politik praktis, maka pihak-pihak lain akan segan melakukan politisasi NU, tapi karena di Pengurus Besarnya sudah "main" maka tidak heran, pihak-pihak lain juga akan melakukan hal yang sama dengan dalih yang bermacam-macam, apalagi di NU dikenal yang kuat adalah jamaah dan kiainya, bukan di strukturnya. Di NU tergantung kiai, juga tergantung ke mana arah politik kiai.

Andai PBNU melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Keluarga Gus Dur di Ciganjur dalam Acara Haul bulan Desember 2016, yakni mengundang semua calon maka, ini akan memberikan dampak yang lebih baik. Meski kita juga tahu, Keluarga Gus Dur sangat dekat secara emosional dengan Ahok.

Ahok pernah diberikan Gus Dur Award dan Ahok membangun RPTRA dengan patung Gus Dur Kecil di depan Taman Amir Hamzah di depan kantor Wahid Institute. Tapi, kedekatan dan kesukaan keluarga Gus Dur pada Ahok, tidak mengurangi mereka untuk bersikap adil pada calon-calon yang lain.

Jadi, kalau menurut Al-Quran, "janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil" maka dalam pesan yang lain bisa juga ditangkap, "janganlah kecintaanmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil." Jadi, meskipun Sekjen PBNU adalah politisi PKB dan satu koalisi dengan Cikeas, harusnya bisa bersikap adil pada cagub-cagub lain.

Publik dan warga NU juga tidak bisa dibohongi, bicara Khittah 1926 dan netral politik, ternyata malah "main" dengan salah satu Paslon Cagub. Ini yang benar-benar disayangkan, sehingga ini menyeret kemuliaan Rais Aam PBNU dan nama baik NU secara jam'iyyah.

Intinya, banyak pihak yang sekarang "main" di NU, khususnya para politisi NU yang masuk di banyak parpol yang tergantung dengan arah koalisi Cagub. Secara struktural PKB memegang NU di Tanfidziyahnya. Tentu saja mereka melakukan segala helah agar NU tetap bisa dimanfaatkan untuk Paslon mereka dan melakukan "blocking" terhadap pengaruh dari politisi-politisi NU dari non-PKB.

Politisi NU dari parpol lain tidak kehilangan akal, karena sebenarnya warga NU sangat cair, tergantung pada kiai. Di sinilah mereka tetap bisa "main". Karena kiai ibaratnya adalah pemilik saham di NU, yang punya jamaah.

Meskipun kiai ini tidak masuk dalam struktur NU, tapi punya jamaah yang banyak dan sudah dikenal sebagai kiai NU, maka tidak ada yang bisa membendung pengarung kiai tersebut. Gelar kiai juga dapat dari pengakuan masyarakat, bukan diberi oleh struktur NU.

Maka, apabila struktur NU, yakni Jam'iyyah NU dikooptasi oleh satu parpol, oleh satu kepentingan politik tertentu, pastilah akan ada perlawanan dari gerakan kultural, jamaah NU yang bisa saja ditunggangi kelompok-kelompok politik lain. Dan NU terjebak dalam pusaran politis yang tak ada habisnya.

Biar gak mumet, apa solusinya?

Ke depan dan untuk jangka panjang, pengurus struktur NU harus benar-benar menunjukkan keseriusan dan komitmen pada Khittah 1926, artinya ya jangan "main" politik. Kehadiran Agus-Sylvi ke PBNU itu jelas-jelas bagian dari "main politik". Kalau ada pihak-pihak saat ini yang menyeret-nyeret NU, maka itu tidak lebih dari reaksi terhadap oknum PBNU yang mempolitisasi NU dgn kehadiran Agus-Sylvi.

Nah, agar tidak "main" politik, maka pengurus di PBNU jangan dipilih dari politisi, seperti Sekjen PBNU sekarang yang berasal dari politisi dan anggota DPR PKB. Sebagai "petugas partai", Sekjen PBNU sekarang pastilah akan membela habis-habisan kepentingan partainya di PBNU dengan pelbagai dalih: PKB dilahirkan NU, hanya PKB yang peduli NU dan Kiai dll. Harusnya kalau konsisten dan Khittah 1926, maka, tidak boleh ada satu parpol yang punya klaim dan satu-satunya yang punya akses, bahkan menguasai NU.

Untuk jangka pendek, masih ada waktu bagi PBNU untuk menetralisir semua ini dengan mengundang semua Paslon agar tidak dianggap sepihak dengan "permainan" oknum di PBNU yang mendukung Pasangan Agus-Sylvi saja. Cara Keluarga Gus Dur bisa ditempuh.

Ini cara yang sangat arif yang bisa meletakkan politik keadilan dan kesetaraan, semua Paslon diundang. Meski kita juga tahu, Nyai Yenny Wahid adalah seorang politisi, yang juga punya arah politik tapi tidak mengurangi kearifan Keluarga Gus Dur untuk bersikap adil.

Maka, untuk menunjukkan netralitas PBNU dan komitmen pada Khittah 1926, bisa mengundang semua Paslon, memberikan doa dan taushiyah kebangsaan bagi mereka, siapapun yang menang, terserah pilihan warga DKI.

Kalau ada pertanyaan, bagaimana dengan Ahok yang bukan muslim? Kalau memakai argumen kaidah fiqih, maka mudah menjawabnya yang biasa dilakukan oleh kiai-kiai NU, bahwa pencalonan Ahok adalah produk konstitusi negeri ini, yang selama ini dikenal dengan akronim PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).

Maka, apabila NU rela dan setia pada dasar-dasar dan pilar-pilar di atas, harusnya rela dengan apa yang menjadi produk dari konstitusi.

Kaidahnya berbunyi الرضا بالشيء رضاً بما يتولد منه, rela pada sesuatu, maka harus rela apa yang lahir dari sesuatu itu. Konstitusi Indonesia tidak mengenal perbedaan agama dan suku dalam pencalonan. Maka secara konsisten NU harus rela dan setia pada produk konstitusi itu. Dengan tidak membeda-bedakan Paslon berdasarkan perbedaan agama dan suku.

Kalau tidak rela pada produk Konstitusi ini, maka NU nanti bisa mengusulkan amandemen, perubahan UUD 1945 yang mengharuskan agama Islam, misalnya, menjadi salah satu syarat sebagai calon pemimpin di negeri ini. Jika ini terjadi, NU akan sama dengan DI/TII, Masyumi, FPI, FUI, Majelis Mujahidin, dllnya. Tapi ini tidak akan terjadi, insya Allah, karena Konstitusi 18 Agustus 1945 dan Amandemen UUD setelah reformasi merupakan hasil ijtihad politik orang-orang NU juga.

Kesimpulan, untuk menjaga Khittah NU, ke depan, pengurus-pengurus NU jangan diambil dari politisi. Janganlah politisi yang "nyambi" pengurus NU. Jangan pula menampakkan dukungan dan keterlibatan dengan salah satu partai dan Paslon tertentu, klau pun mau hadir sebagai bagian dari dakwah dan syiar, maka adillah, hadiri semuanya. Jangan mengistimewakan salah satu parpol dan pasangan saja yg selama ini terjadi.

Untuk jangka pendek dalam konteks Pilkada DKI, PBNU mestinya bisa mengundang semua calon dan mendoakan semuanya serta memberikan nasehat pada semuanya. Dengan demikian bisa ditepis kedekatan dan "permainan" oknum di PBNU terhadap salah satu Paslon. Kira-kira demikian. Wallahul muwaffiq ila Aqwawith Thariq. [Kitab Kuning Digital]

Solihin Hidayat, warga NU pendatang di Jakarta, tidak punya KTP Jakarta, masih KTP Madiun.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mengapa-nu-terseret-politik-praktis-di-pilkada-dki-jakarta.html

Kamis, 12 Maret 2015

Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Keberadaan NU sebagai organisasi Islam moderat ditengah-tengah suasana dunia yang semakin terasa tidak aman semakin diakui dan laku oleh dunia internasional. Pada 29 Agustus lalu, Ketua Umum PBNU diangkat sebagai anggota dewan penasehat Rabithah Alam Islami dan selanjutnya beberapa pengakuan internasional lainnya terus diberikan.

Padahal sebelumnya NU diundang saja tidak, NU dianggap bidah, klenik, sinkretis, dan semacamnya yang harus diberantas, lho sekarang kok mereka malah menjadikan kita sebagai dewan penasehat atau mustasyarnya, tandas Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di PBNU, Jumat.

Perubahan sikap bersebut ditanyakan kepada Sekjen Rabithah Alam Islami Syeikh Abdullah At Turki dan dijawabnya karena ia menginginkan mengetahui NU dan Islam Indonesia yang sesungguhnya.

Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku (Sumber Gambar : Nu Online)


Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku

Kesempatan tersebut tak disia-siakan untuk menjelaskan perbedaan kondisi Indonesia dengan Arab. Kalau Timur Tengah ada 32 negara dengan satu budaya sedangkan Indonesia adalah satu negara dengan 247 adat. Islamnya sama tapi memaknainya berbeda karena perbedaan kondisi tuturnya.

Pengakuan internasional lainnya terhadap NU juga diberikan saat ketua umum PBNU masih di Arab Saudi dan diminta untuk menjadi salah satu dari sembilan presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) yang saat itu tengah mengadakan konferensi di Tokyo dan dihadiri oleh sekitar 600 tokoh dari 20 agama dari 100 negara sedunia.

Saya dapat telpon diminta menjabat sebagai salah satu presiden WCRP, saya terima saja karena saya ingat bahwa barang siapa yang memperjuangkan kebenaran, pasti diberi jalan, imbuhnya.

Kitab Kuning Digital

WCRP adalah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. WCRP sendiri didirikan pada tahun 1970 dan saat ini berpusat di markas PBB New York.

Beberapa program yang dijalankan adalah menghentikan perang, mengakhiri kemiskinan dan melindungi bumi. Mereka telah berupaya untuk membantu upaya rekonsiliasi di Irak, menjadi mediator dalam perang antar suku di Sierra Leone serta membantu jutaan anak yang terinfeksi virus HIV di Afrika.

Berikutnya PBNU pada 10-13 September diundang ke Thailand untuk mengikuti perayaan 60 tahun penobatan Raja Thailand. Pertemuan tersebut sekaligus digunakan untuk membahas penyelesaian Thailand Selatan. Raja dan Perdana Menteri Thailand sangat gembira atas masukan-masukan yang diberikan PBNU.

Kitab Kuning Digital

Pada tanggal 19 September yang akan datang, PBNU akan berkunjung ke New York untuk mendaftarkan International Conference of Islamic Scholars (ICIS), organisasi yang dikembangkan PBNU untuk menyelesaikan berbagai konflik internasional dengan pendekatan people to people, sehingga organisasi ini akan resmi di dunia Internasional. (mkf).

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5284/hasyim-nu-sekarang-semakin-laku

Kitab Kuning Digital

Sabtu, 21 Desember 2013

Ratusan Kiai Terbunuh Dalam Tragedi Ninja 98 yang Dikaitkan PKI, Apa NU Teriak Ulama Dinista?

Kitab Kuning Digital - Saya membuat tulisan ini karena NU selalu dipojokkan. Saya coba bikin tulisan sederhana karena akhir-akhir ini ada semacam klaim ulama dari kalangan tertentu. Oke silahkan saja. Namun ada beberapa orang yang selalu mengatakan hal yang sama yakni: " bela ulama, ulama terdzalimi, ulama dinista dan sebagainya". Pertanyaan saya, ulama yang mana? Kalau boleh dijawab, ya tentu ulama versi mereka.

Ulama versi mereka bagus, tapi apakah muhibbin (para pecinta) mereka mengadakan aksi bela ulama seperti sekarang, takala pembantaian ulama, guru ngaji, ustadz, tokoh-tokoh pada tahun 1998 di Jawa Timur dari Banyuwangi hingga merembet ke daerah-daerah sekitar seperti Situbondo? Bahkan korbannya rata rata dari kalangan Nahdhiyyin.

Ratusan Kiai Terbunuh Dalam Tragedi Ninja 98 yang Dikaitkan PKI, Apa NU Teriak Ulama Dinista? - Kitab Kuning Digital
Ratusan Kiai Terbunuh Dalam Tragedi Ninja 98 yang Dikaitkan PKI, Apa NU Teriak Ulama Dinista? - Kitab Kuning Digital


Ratusan Kiai Terbunuh Dalam Tragedi Ninja 98 yang Dikaitkan PKI, Apa NU Teriak Ulama Dinista?

Coba kita simak tulisan yang bersumber dari NU Online dalam kasus dan tragedi tersebut, "Gus Dur sebagai Ketua PBNU benar-benar geram melihat kenyataan itu. Namun ia tetap hati-hati. Gus Dur menyerukan agar orang NU tidak sembrono menuduh ada penyusupan Komunis, meskipun hal itu telah dilontarkan dan diprovokasi oleh Republika dan dikampanyekan militer. Seruan Gus Dur kemudian dibacakan oleh KH.Said Aqil Siradj di halaman Kampus UI, Salemba, Jakarta, pada 1 Oktober 1998".

KH. Said Aqil Siradj mengingatkan agar orang-orang NU tidak menjadi korban terus menerus. Masyarakat NU jangan mau menjadi objek yang dihadap-hadapkan dengan sosok yang dibuat-buat. Padahal kenyataannya pelakunya sangat terlatih, bukan bayangan yang dibuat-buat.

Kitab Kuning Digital

Seruan ini untuk mengritik tuduhan para pejabat dan harian Republika yang dekat dengan ICMI, serta spanduk-spanduk DDII. Mereka mengaitkan pembunuhan berantai itu dengan gerakan komunis. Korban tertulis ada 256 orang, termasuk dari kalangan ulama. Lihatlah betapa hati-hatinya NU agar tidak terjebak isu komunis, padahal sudah jatuh korban. Bahkan kasus ini tidak jelas penyelesainnya.

Pertanyaan saya adalah:

Kitab Kuning Digital

Adakah orang NU heboh kerahkan massa untuk mengusut kasus yang jelas-jelas membunuh ulama tersebut?

Apakah NU teriak-teriak bela ulama dengan menuduh yang tidak sepaham dengan cap munafik?

Apakah ulama-ulama sekarang dibunuh seperti tahun 1998 itu?

Apakah NU mencak-mencak terprovokasi teriak-teriak PKI? Padahal sudah ada yang memancing isu komunis? Maksud saya cukup sederhana, janganlah terlalu berlebihan seolah-olah banyak ulama dipenjara dan dibunuh, padahal para ulama (versi kami) adem ayem kok. Mereka masih sibuk mengurus pesantren, dakwah keliling, ngayomi masyarakat, pengajian, sholawatan dan merawat NKRI. [Kitab Kuning Digital]

Keterangan:

Nama penulis dan identitas disembunyikan oleh redaksi Kitab Kuning Digital

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ratusan-kiai-terbunuh-dalam-tragedi-ninja-yang-dikaitkan-pki-apa-nu-teriak-ulama-dinista.html

Kamis, 17 Oktober 2013

Juara Umum dapat Kucuran Modal 15 Juta

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Setelah nama pemenang keluar melalui proses uji di hadapan dewan juri, kepanitiaan Anugerah Wirasantri Mandiri mengabarkan nominal hadiah bagi para pemenang. Panitia menyiapkan hadiah bagi juara umum sebesar lima belas juta rupiah.

Untuk Juara I dari empat kategori, panitia sediakan hadiah senilai 12 juta rupiah. Juara II akan menerima senilai 10 juta rupiah. Juara III berhak menerima 7 juta rupiah, kata Saleh Ramli saat ditemui Kitab Kuning Digital di lantai 2 Kantor PP GP Ansor jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat, Rabu (25/7) malam.

Juara Umum dapat Kucuran Modal 15 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara Umum dapat Kucuran Modal 15 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)


Juara Umum dapat Kucuran Modal 15 Juta

Juara umum yang merangkap Juara I itu, akan menerima hadiah sesuai haknya. Mereka menerima hadiah sebagai juara umum dan berhak menerima hadiah sebagai juara I, tegas Saleh.

Sedangkan juara harapan I akan menerima hadiah sebesar 6 juta rupiah. Juara harapan II berhak menerima 5 juta rupiah. Sementara panitia menyediakan uang sebesar 4 juta rupiah bagi juara harapan III, tambah Saleh seraya menunjukkan catatannya kepada Kitab Kuning Digital.

Kitab Kuning Digital

Menurut Saleh, dana hadiah itu akan turun sebulan ke depan terhitung setelah dewan juri menetapkan nama-nama para pemenang. Penetapan dewan juri sendiri dilakukan setelah para kontestan mempresentasikan karya tulinya pada 16 Juli 2012 lalu di Asrama Haji Donohudan, Surakarta, Jawa Tengah.

Jajaran panitia Wirasntri Mandiri, mengharapkan pemenang untuk menggunakan dana tersebut untuk merealisasikan ide kewirausahaan yang dituangkan dalam karya tulis mereka. Dana tersebut menjadi pintu masuk bagi mereka untuk menuangkan gagasan kreatif dalam dunia nyata.

Kitab Kuning Digital

Pengumuman dan penyerahan hadiah bagi pemenang bukan akhir dari kegiatan Anugerah Wirasantri Mandiri. Menurut Saleh, kegiatan Wirasantri akan berlanjut dalam bentuk pembinaan dan pemantauan. Jajaran panitia yang diwakili para ahli perekonomian baik keluarga Ansor maupun di luarnya, akan terus mengawal kegiatan kewirausahaan tersebut.

Pemantauan diprioritaskan bagi Juara I, II, dan III. Teknis pemantauan, tidak terlalu sulit. Bagi mereka yang dianggap cukup prospektif, jajaran kepanitiaan akan mendukung mereka dari sisi permodalan, imbuh Saleh.

Sayembara Wirasantri Mandiri perdana ini terselenggara atas kerjasama GP. Ansor dengan Bank Mandiri. Sayembara kewirausahaan diagendakan oleh GP. Ansor secara rutin setiap tahun dalam rangkaian harlah GP. Ansor, tandas Saleh yang duduk di hadapan meja komputernya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis : Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38960/juara-umum-dapat-kucuran-modal-15-juta

Selasa, 26 Juni 2012

Syamsudin Uba: NKRI Adalah Negara Kafir Republik Indonesia

Kitab Kuning Digital - Ini adalah rilis yang dikirim kepada Kitab Kuning Digital dari seorang yang melaporkan tentang adanya acara yang mengatasnamakan Islam aswaja namun pemikirannya jauh dari moderat. Justru pernyataan-pernyataan narasumber banyak yang bernada makar, provokasi dan hasudan.

Ada yang kemudian justru mengajak para hadirin untuk berbaiat kepada pimpinan ISIS Abu Bakar al-Baghdadi. Dia juga menyebut kalau NKRI adalah negara kafir yang tidak sesuai dengan ajaran Kanjeng Nabi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Inilah fitnah akhir zaman itu. Ini rilis yang diterima redaksi.

===================

Syamsudin Uba: NKRI Adalah Negara Kafir Republik Indonesia - Kitab Kuning Digital
Syamsudin Uba: NKRI Adalah Negara Kafir Republik Indonesia - Kitab Kuning Digital


Syamsudin Uba: NKRI Adalah Negara Kafir Republik Indonesia

Pada 13 November 2016, pukul 09.00 WIB-12.30 WIB bertempat di masjid Ibnu Rusyd, Jl. Margitami, Bekasi, Jawa Barat, telah dilakukan pengajian bertema "Menghadapi Fitnah Akhir Zaman" yang diikuti oleh sekitar 80 jamaah dengan pembicara, yakni Ustad Abu Jauhar, Ustad Abu Jaffar, dan Ustad Syamsudin Uba, serta moderator ustad Abu Ulfa. Berikut masing-masing pernyataan narasumber:

Kitab Kuning Digital

1. Ustad Abu Jauhar:

- Pada saat ini kita berada pada masa dimana orang-orang menamakan dirinya ulama atau da'i namun tidak lagi berada pada jalan yang lurus sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabinya.

Kitab Kuning Digital

- Ada kaum yang menyebarkan ajaran yang dikatakan bahwa ajarannya sesuai dengan Al-Quran dan assunnah namun ajaran tersebut tidak benar, jamaah tidak boleh mengikuti ajaran itu.

2. Ustadz Abu Jaffar:

- Kaum kafir akan terus berupaya untuk menghancurkan umat muslim hingga hari kiamat.

- Aswaja memposisikan diri di tengah-tengah antara kaum yang disebut ektremis dan kaum Islam yang tidak berani memperjuangkan agamanya (lemah).

- Fenomena Al-Maidah ayat 51 muncul karena umat Islam terlalu lemah terhadap kaum kafir, akibatnya orang kafir berani menistakan agama Islam dan Al-Quran.

- Saat ini sebenarnya sudah ada pemimpin Islam yang benar-benar melaksanakan hukum dan aturan-aturan sesuai dengan ajaran Islam bukan aturan-aturan buatan manusia, namun dia selalu difitnah oleh kaum kafir.

3. Ustadz Syamsudin Uba:

- Indonesia adalah negara yang tidak berdasar dan tidak sesuai dengan khilafah yang diajarkan islam. NKRI adalah negara kafir Republik Indonesia.

- Saat ini sudah ada pemimpin dunia dari umat Islam, yaitu Abu Bakar Al Baghdadi yang berjuang untuk agama dan mendirikan negara khilafah.

- Sejak jaman Nabi, Islam sudah menghadapi fitnah dan diperjuangkan dengan pertumpahan darah, sehingga apa yang ditunjukkan oleh Al Baghdadi di Irak dan Suriah adalah hal yang benar dan harus dilakukan demi tegaknya Islam.

- Para jamaah harus berani menyatakan diri sebagai warga negara khilafah dan pemimpinnya adalah Abu Bakar Al Baghdadi.

- Orang-orang, ulama, dan para dai yang melaksanakan aturan buatan manusia seperti konstitusi, pancasila, demokrasi dan lain sebagainya serta tidak mendukung Al Baghdadi untuk memperjuangkan ajaran tauhid, maka tidak diterima shalat dan amal ibadahnya oleh Allah, termasuk diantaranya TNI, Polri sehingga orang yang shalat dibelakang TNI dan Polri tidak diterima oleh Allah.

- Berharap seluruh jamaah yang bergerak pada aksi 4 November untuk berbai'at pada Abu Bakar al Bahgdadi dan berjuang untuk mewujudkan negara khilafah.

================

Kian terang, bahwa demo 411 yang sempat rusuh kemarin tujuannya bukan Ahok, tapi makar dan konsolidosa kalangan Islam ekstrimis untuk menghasud massa agar mereka tidak lagi mencintai bangsanya, berperang atas nama Islam, lalu kocar-kacir. Begitulah. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/syamsudin-uba-nkri-adalah-negara-kafir-republik-indonesia.html

Minggu, 04 Maret 2012

Inilah Rentetan Keistimewaan Pesantren dalam Pandangan Gus Mus

Jombang, Kitab Kuning Digital. Berbicara di hadapan ribuan peserta bedah buku Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, KH Musthofa Bisri menyebutkan sejumlah keistimewaan pesantren yang tidak dimiliki lembaga lain.

"Nilai dari pesantren dulu yang mengalami pergeseran adalah kesederhanaan," kata Gus Mus, sapaan akrabnya, Selasa (26/4).

Inilah Rentetan Keistimewaan Pesantren dalam Pandangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Rentetan Keistimewaan Pesantren dalam Pandangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)


Inilah Rentetan Keistimewaan Pesantren dalam Pandangan Gus Mus

Bagi Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini, kesederhanaan para kiai yang akhirnya membuat mereka kaya dari dalam. "Karena kiai kaya adalah yang tidak butuh apa-apa," tegasnya.

Kitab Kuning Digital

Lebih lanjut, Gus Mus mengemukakan sekalipun manusia memiliki 10 mobil, demikian juga rumah dalam jumlah banyak, tapi ketika masih merasa butuh, maka yang bersangkutan akan merasa kurang.

"Carut -marut kondisi bangsa ini lantaran para pemimpin hingga rakyatnya hidup secara berlebihan," ungkap Gus Mus.Dan pesantren pada jaman dulu lewat keteladanan kiainya telah mengajarkan kesederhanaan sehingga merasa cukup dengan apa yang dimiliki, lanjutnya.

Kitab Kuning Digital

Hal kedua yang berbeda dari pesantren adalah pertangggungjawaban ilmiah. "Ilmu yang diperoleh para santri dari kianya dapat dipertanggungjawabkan hingga yaumul kiamah," kata kiai berambut putih ini.

Kondisi ini sangat berbeda dengan pola pencari ilmu jaman akhir yang menyukupkan transformasi pengetahuan lewat media pembelajaran secara instan. "Satu hadits yang dipelajari para santri, dapat dipertanggungjawabkan sanadnya hingga generasi sahabat," jelas Gus Mus.

Dan yang ketiga dari pesantren adalah ruhud dakwah, dalam artian menyikapi sekeliling sebagai sarana dakwah. "Dengan demikian, para kiai dan santri tidak mudah mengumbar dalil ketika melihat penyimpangan di masyarakat," katanya. Yang dilakukan justru semangat mengajak atau berdakwah sebagaimana dilakukan baginda Nabi Muhammad SAW, lanjutnya.

Sebagai ilustrasi, ketika ada tawaran dari Malaikat Jibril untuk menghancurkan kalangan penentang dakwah, hal tersebut justru ditolak baginda Nabi Muhammad. Hal yang sama juga dilakukan Wali Songo dengan lebih melakukan pendekatan kepada masyarakat Jawa kala itu, tentunya dengan semangat dakwah.

"Tapi pekerjaan Wali Songo telah kita habisi dengan tidak lagi mengundang, malah menendang, bukannya merangkul tapi memukul" kata Gus Mus. Hal ini terjadi karena semangat dakwah dari umat Islam kian hilang dan berganti dengan kegarangan. "Akibatnya, umat Islam yang awalnya 90 persen, kita hanya menyisakan 70 persen saja," keluh dia.

Gus Mus tampil pada rangkaian Satu Abad Madrasah dan 191 tahun Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Tampil juga KH Husein Muhammad dan penulis buku, Ahmad Hilmi. Kegiatan dilangsungkan di aula pesantren setempat. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67667/inilah-rentetan-keistimewaan-pesantren-dalam-pandangan-gus-mus

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock