Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Maret 2017

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

Solo, Kitab Kuning Digital. Setiap diadakannya Tradisi Sekaten yang diadakan di Kota Surakarta, para pengunjung tentu tidak asing dengan beberapa benda sebagai berikut, yakni; kinang, pecut (cambuk), mainan gangsingan, celengan, dan telur.

Benda-benda ini, menurut Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, memiliki filosofi tersendiri. Kinang misalnya, benda yang terdiri dari 5 unsur ini sebagai pembelajaran seseorang harus melaksanakan 5 rukun Islam.

Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya (Sumber Gambar : Nu Online)


Mulai dari Kinang Hingga Telur Kamal, Ini Filosofinya

Dalam kinang bila hanya menggunakan 3 unsur kinang maka sudah enak yang artinya bila kita mampu melaksanakan 3 rukun islam; syahadat, sholat dan puasa maka sudah baik. Sedangkan, dua unsur lainnya, zakat dan haji menjadi penyempurna, bila ada kemampuan, terang Muhtarom yang juga Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu, Selasa (13/12).

Sementara itu, pecut memiliki makna bahwa kita harus berupaya mecut (mencambuk) hawa nafsu. Artinya mampu mengendalikan hawa nafsu, agar hidupnya selamat terarah, kata dia.

Kitab Kuning Digital

Kemudian, gangsingan yang artinya istiqamah. Ketika gangsingan diputar dengan putaran yang sangat kencang maka gerakan gangsingan akan stabil dan celengan, bermakna agar banyak menabung amal shalih.

Hidup di dunia ini pada hakikatnya permainan belaka diibaratkan dengan simbol berbagai dolanan (mainan). Ketika kita kita bisa mengambil nilai-nilai di atas maka hidup kita akan mencapai kesempurnaan maka dilambangkan dengan endok (telur) kamal, pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Kitab Kuning Digital

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/73741/mulai-dari-kinang-hingga-telur-kamal-ini-filosofinya

Kitab Kuning Digital

Jumat, 23 Desember 2016

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Blitar, Kitab Kuning Digital. Pola dakwah wali Sembilan (wali songo) perlu diteladani oleh para kader dan penerus NU. Karena, pola yang dijalankan oleh para wali sederhana. Namun mengandung hikmah dan motivasi yang sangat tinggi.

Dalam berdakwah para wali ini tidak terlalu muluk-muluk dalam penyampaian. Namun, dinamis dalam pelaksanaannya," ujar Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Noer Hidaytulloh Dawami kepada NU Onlie tadi pagi (10/1), usai melakukan ziarah makam dan pendiri NU di Jatim, tadi pagi.

Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)
Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani (Sumber Gambar : Nu Online)


Pola Dakwah Wali Songo Perlu Diteladani

Sitem dakwah para wali, lanjut Kiai Noer, tidak macem-macem. Baik pola maupun bahasanya. Sehingga masyarakat luas mudah menerima apa yang disampaikan.

Kitab Kuning Digital

Para wali itu semua hafal Quran dan hadits. Tapi mereka tidak banyak mengunakan dalil-dalil itu untuk disampaikan ke umatnya. Namun kandungannya yang dijlentrehkan berfaedah. Misalnya kenduri. Dulu kenduri itu bentuknya sesaji kepada mahluk gaib. Namun oleh wali diluruskan bahwa kenduri itu bagian dari shodaqoh. La shodaqoh itu bagian dari li dafil balak (menjauhkan dari mara bahaya)," ungkap Kiai Noer yang juga pengasuh pesantren Darur Roja Selokajang ini.

Jadi dakwahnya sangat sederhana. Namun mengena. Para wali tahu ini Jawa bukan Arab. Sehingga melalui tradisi dan buya itulah para wali bisa menyebarkan Islam di Jawa secara damai. Ini yang perlu diteladani," tambahnya.

Kitab Kuning Digital

Sebagimana diketahui, sukses pelaksanaan dan hasil dalam konfercab NU Kabupaten Blitar. Panitia konfercab, melakukan safari ziarah wali dan pendiri NU di Jatim. Acara dilaksanakan, 8-9 Januari 2013 kemarin. Ziarah yang diikuti anggota panitia berjumlah sekitar 55 orang itu mengambil rute, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Surabaya dan Jombang.

Ziarah kita mulai dari Tuban, lalu ke Lamongan, terus Gresik. Tiba di Gresik pas waktu subuh. Habis Subuhan, kita ziarah ke makam Sunan Giri. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bangkalan untuk ziarah ke makam Syakhona Cholil. Usai dari Bangkalan, rombongan menuju ke Ampel Surabaya, jelas Masduki, ketua panitia.

Tiba di Ampel, lanjut Masduki, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Padahal, rombongan masih belum ke Troloyo Mojokerto dan Tebuireng Jombang. Karena waktunya mepet, maka perjalanan dilanjutkan ke Jombang. Untuk ziarah ke makam KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Namun sayang, tiba di Tebuireng waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 menit. Pintu gerbang pesarehan sudah tutup. Yak arena tutup kit abaca tahlil di depan pintu masuk di sebelah barat. Toh hal ini tidak mengurangi pahala tahlil," ujar Masduki menghibur. Setelah itu, rombongan pulang ke Blitar melalui jalur Pare dan Kediri. Tadi malam sekitar jam 22.00 kita sampai di Blitar," tambahnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41694/pola-dakwah-wali-songo-perlu-diteladani

Kitab Kuning Digital

Senin, 29 Februari 2016

Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal

Bekasi, Kitab Kuning Digital. Masyarakat dengan tingkat stres tinggi di kota-kota besar adalah sasaran potensial penyebar paham radikalisme. Guru besar ilmu pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Abuddin Nata, menyatakan itu, Ahad.

"Gerakan radikal umumnya muncul di kota-kota besar karena orangnya stres akibat aktivitas kerja, kemacetan lalu-lintas dan faktor lain," katanya.

Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)


Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal

Salah satu iming-iming yang lumrah ditawarkan adalah peningkatan status dan ekonomi masyarakatnya.

"Problem politik dan ekonomi di kota besar lebih mudah dijual dalam masyarakat seperti itu. Kemudian agama hanya dijadikan alat untuk melegitimasi seolah kekeliruan itu dibenarkan oleh ajaran agama," ujarnya.

Kitab Kuning Digital

Adapun salah satu modus dari kaum radikal adalah mengambil alih Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di lingkungan masyarakat.

"Dakwah masih banyak yang menyampaikan kekerasan, seperti masjid dikuasai komunitas radikal," katanya.

Kitab Kuning Digital

Abuddin menilai, aksi teror dari kalangan radikalisme sulit untuk dideteksi dini karena pergerakannya yang tertutup. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65078/masyarakat-perkotaan-sasaran-potensial-paham-radikal

Kitab Kuning Digital

Sabtu, 22 Agustus 2015

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang

Amalan Bulan Rajab - Bulan Rajab sangat banyak dinanti oleh orang Islam. Sebab bulan ini semakin mendekatkan hadirnya bulan Ramadan yang sangat agung. Oleh sebab itu, perlu kembali kita renungkan bagaimana KH Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) menjelaskan tentang fadlilah bulan Rajab ini.

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang - Kitab Kuning Digital
Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang - Kitab Kuning Digital


Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang

Dalam Kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Sholat karya Mbah Sholeh Darat halaman 83-88 dituliskan bab khusus tentang "Bab Fadlilah Rajab". Kitab yang ditulis dengan pegon dan diterbitkan oleh Thoha Putra Semarang ini sangat detail menjelaskan keutamaan Rajab merujuk pada hadits Nabi.

KH Sholeh menjelaskan: "Nabi bersabda: 'Barang siapa yang mengucapkan kalimat سبحان الحي القيوم sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari awal Rajab, mengucap سبحان الاحد الصمد sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari kedua, dan mengucap سبحان الرؤف sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari ketiga, maka tidak ada orang yang bisa menghitung pahalanya".

Hadits ini memberikan pengertian tentang bacaan atau wirid yang perlu didawamkan untuk dibaca setiap hari di bulan Rajab. Dan pahala yang didapatkan sangat banyak sekali, sehingga tidak bisa dihitung.

Dan Rasulullah Saw juga menyampaikan bahwa bulan Rajab adalah bulannya Allah Swt, sedangkan bulan Sya'ban adalah bulannya Rasulullah, sementara bulan Ramadan merupakan bulannya umat Muhammad. Maka Nabi selanjutnya menegaskan bahwa siapa saja yang menjalankan puasa sehari di bulan Rajab murni karena Allah tanpa niat lainnya, maka akan selalu mendapatkan ridla agung Allah dan dijanjikan tempat surga Firdaus.

Sedangkan pahala puasa Rajab dua hari akan mendapatkan kelipatan dua kali hitungan semua gunung di dunia. Puasa tiga hari mendapat pahala penghalang neraka. Puasa empat hari mendapat pahala diselamatkan dari segala bala' yang menimpa semacam junun, judzam dan barash serta diselamatkan dari fitnah Dajjal.

Sedangkan pahala puasa selama lima hari akan selamat dari siksa kubur. Pahala puasa enam hari adalah jaminan wajahnya bersinar saat keluar dari qubur sebagaimana sinar rembulan tanggal empat belas. (Baca Duta Islam: Keramat Mbah Sholeh Darat)

Adapun puasa tujuh hari adalah ditutupnya tujuh pintu neraka. Untuk pahala puasa di bulan Rajab delapan hari adalah dibukakan delapan pintu surga. Pahala puasa sembilan hari adalah akan bangun dari qubur dengan memanggil kalimat لا اله الا الله dan langsung masuk surga. Dan pahala sepuluh hari berpuasa adalah jalan mulus menuju shiratal mustaqim.

Mbah Sholeh Darat masih melanjutkan pahala puasa sebelas hari adalah tidak akan mendapat tandingan pahala kecuali orang yang sama menjalankan puasa 11 hari. Dan pahala puasa dua belas hari adalah mendapatkan pengakuan sebagai hamba yang mulia dibandingkan dunia dan seisinya. [Kitab Kuning Digital/ab]

Bersambung.....

Oleh M Rikza Chamami, Wakil Ketua KOPISODA (Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat), alumnus Qudsiyyah dan Dosen UIN Walisongo


Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/keutamaan-bulan-rajab-menurut-kh-sholeh-darat-semarang.html

Rabu, 09 November 2011

Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411

Kitab Kuning Digital - KH. Asad bin Samsul Arifin (1897-1990) memang sangat layak untuk diberi gelar sebagai pahlawan nasional sebagaimana KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Wahid Hasyim. Kemapanan ilmu Kyai Asad dalam memahami turots kitab kuning para ulama salaf benar-benar dikejawantahkan dalam kehidupan, baik kehidupan berspiritual, bersosial dan bernegara.

Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411 - Kitab Kuning Digital
Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411 - Kitab Kuning Digital


Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411

Beliau memahami benar bahwa inti Islam adalah kesalehan sosial dan spiritual yang harus diimplementasikan secara menyeluruh (kaffah), lurus (i’tidal), berimbang (tawazun) namun juga toleran (tasamukh). Bukan hanya kesalehan sosial an-sich, bukan pula kesalehan spiritual an-sich, terlebih hanya sekedar kesalehan penampilan seperti yg nampak dominan di zaman sekarang.

Turots kitab kuning sendiri merupakan hasil kontemplasi intelektual (ijtihad) maupun spiritual para ulama Salaf dari pemahaman dan penjabaran terhadap ajaran Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah Saw yang berpondasi dan berintisari pada terwujudnya moral sosial maupun moral spiritual pada setiap muslim.

Inilah doktrin yang diyakini dan didapatkan KH. Asad Samsul Arifin dari ayah beliau, KH. Samsul Arifin dan para guru beliau sekaliber KH. Cholil Bangkalan, KH. Abdul Majid Itsbat, hingga Syekh Syarif as-Sinqithi, Syekh Bakir al-Jogjawi, Syekh Abbas al-Maliki tatkala beliau belajar di Makkah al-Mukarramah pada zamannya.

Dalam pemahaman dan hasil kontemplasi spiritual maupun intelektual para ulama nusantara sejak zaman walisongo hingga para ulama Aswaja ala manhaj NU, Syariat dan adat atau dalam bahasa lain agama dan tradisi merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan.

Sebab, inti syariat adalah moral sosial dan spiritual, sedangkan adat (tradisi dan budaya) merupakan bingkai dan wasilah (media) agar moral itu mampu dilaksanakan oleh para penganutnya secara baik, menyeluruh dan berimbang. Dalam bahasa qoidah fiqhiyah :

تصرّف الأئمة على الأمة منوط بالمصلحة؛ ومن مصالح الأمة مراعاة العادة، فكانت العادة شريعة محكمة

“Implementasi ijtihad para imam (mujtahid) kepada umat dalam urusan sosial kemasyarakatan itu harus didasarkan pada nilai-nilai kemaslahatan. Dan diantara kemaslahatan umat adalah dengan menjaga tradisi, sehingga tradisi itu harus pertimbangan dalam memberi fatwa hukum”.

Kaidah ini jika dijabarkan dalam bahasa sosial kenegaraan dapat diuraikan sebagai berikut:

Kemampuan umat Islam dalam menjalankan syariat Islam dan moral agama itu adalah tujuan dan misi utama Islam. Manakala kemerdekaan dan kedaulatan negara serta stabilitas dan keamanan nasional adalah adat dan wasilah agar tujuan besar Islam yang diembankan Allah kepada Rasulullah dan para pewaris beliau (ulama) itu dapat disampaikan dan dilaksanakan umat Islam.

Kemaslahatan sosial (al-mashlahah al-ammah) yang bertumpu pada keseimbangan antara syariat dan adat inilah yang melatarbelakangi KH. Wahab Hasbullah membuat satu kaidah bahwa cinta negara adalah menjadi bagian penting dari iman dan implementasi beragama Islam yang harus diyakini dan dijadikan pegangan siapapun mereka yang merasa hidup di Indonesia dan menjadikan bumi nusantara sebagai rumahnya.

Dan perwujudan dari cinta negara itu adalah dengan membela negara dan menjaga stabilitas keamanannya. Hingga lahirnya kaidah yang terkenal di kalangan orang NU:

حب الوطن من الإيمان

Doktrin Islam para ulama di Nusantara sejak wali songo inilah yang disebut dg Islam Nusantara yang diyakini dan diamalkan oleh para ulama NU dari dulu hingga sekarang, pun KH. Asad Samsul Arifin.

Sebab secara logika, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu menjalankan syariat Islam dengan baik dan khusyuk jika negara dalam kondisi perang? Dan bagaimana mungkin umat Islam akan menjalankan ibadah sosial jika tidak ada jaminan stabilitas dan keamanan nasional akibat pertikaian?

Dan perjuangan KH. Asad Syamsul Arifin dalam melawan penjajah mulai dari zaman Belanda hingga zaman Jepang adalah bukti beliau merupakan sosok ulama yang cinta tanah air, pejuang agama, dan pembela negara.

Jihad beliau dalam mempertahankan NKRI juga merupakan bentuk cinta beliau pada Islam dan kasih sayang beliau kepada umat Islam sebagaimana Rasulullah Saw mencontohkan. Itulah makna nasionalisme yang sesungguhnya dari para kyai dan ulama NU sebagai perwujudan dari keimanan.

Manhaj Islam dan pola fikir syariat yang bertumpu pada moral dan kemaslahatan sosial (red; Islam Nusantara) dimana syariat dan adat sama sekali tidak dipertentangkan tapi justru disuguhkan dalam kombinasi apik secara lurus (i’tidal), berimbang (tawazun), toleran (tasamukh) dan menyeluruh (kaffah) seperti yang ditampilkan Allah Yarhamuh KH. Asad Samsul Arifin inilah yang diyakini dan hingga sekarang dijaga serta diamalkan oleh para Kyai-kyai ulama NU.

Sebab, NU yang kepanjangannya adalah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) hakikatnya merupakan jam’iyah yang menjadi wadah bagi para Kyai dan para pengikutnya (para santri) untuk berjuang dalam membumikan Islam melalui gerakan moral dan gerakan sosial.

Dan di antara moral sosial itu adalah dengan menjaga keutuhan NKRI, Pancasila sebagai pondasi bernegara dan moral berbangsa serta menjaga kerukunan antar warga negara yang heterogen dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika sebagai kemaslahatan sosial yang harus tetap dijaga umat Islam di Indonesia sampai kapanpun juga.

Para kyai dan pemimpin NU sangat meyakini bahwa membela kedaulatan negara dan menjaga keutuhan bangsa itu sama saja dengan menjaga keutuhan dan kemaslahatan umat Islam. Menjaga umat Islam (dari kemafsadahan perpecahan dan pertikaian) itu artinya dengan menjaga Islam dan agama islam. Dan menjaga tegaknya Islam merupakan bentuk jihad fi sabilillah.

Inilah dasar pemikiran KH. Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 hingga berujung dengan terjadinya peristiwa 10 Nopember 1945 yang diperingati sebagai hari pahlawan. Dan ini pula alasan KH. As’ad Samsul Arifin layak untuk menerima penghargaan sebagai pahlawan nasional di hari ini.

Karena siapapun yang membela negara berarti dia membela umat dan tegaknya agama (jihad fi sabilillah). Dan siapapun yang mati membela agama maka dia layak ditempatkan bersama para syuhada’.

Ini pula alasan dan ijtihad para Kyai NU (PBNU) yang dinakhodai Rais Amm KH. Ma’ruf Amin dan para Kyai sepuh NU lainnya bersikap netral dalam menyikapi “Aksi Bela Islam 411”.

Sebab NU sebagai organisasi sosial penegak NKRI sangat berkepentingan untuk menjaga keutuhan Negara dan kerukunan antar warga negara yang berbeda suku dan agama, demi terjaganya umat Islam dan tegaknya agama di bumi nusantara.

Sehingga harus dibedakan mana kemaslahatan negara yang lebih besar yang harus dijaga serta mana kemaslahatan umatnya Islam yang menjadi bagiannya. Sebab arogansi kelompok hanya akan melahirkan pertikaian dan perlawanan dari kelompok lainnya.

Harus dibedakan pula mana ranah hukum, ranah politik dan ranah agama agar tidak terjadi kekacauan sosial yang berefek buruk pada kehidupan berbangsa. Bahkan bisa jadi nama baik Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi moral akhirnya tercoreng oleh ulah orang orang yang tak bermoral dengan mengatas-namakan agama.

Namun manhaj (metode berfikir) seperti ini tentu berbeda dengan pola fikir kaum literalis dimana Islam difahami terlebih dahulu secara dhohiriyah dalam simbol-simbol agama, manaka moralitas agama dan kemaslahatan sosial seakan hanya dijadikan sebagai objek penyerta.

Maklum, jargon-jargon agama simbolistik seperti ini kebanyakan lahir dan terinspirasi bukan dari bumi nusantara, tapi dari luar khususnya dari tanah Arab yang dalam sejarah sejak pra-Islam dikenal sebagai bangsa yang memiliki ta’asshubiyah (fanatisme) kesukuan yang kuat serta persaingan dominasi politik yang tak berkesudahan.

Wajarlah jika mereka lebih suka membela simbol-simbol agama. Bahkan membela simbol agama sudah dianggap sebagai bentuk pembelaan terhadap Islam dan membela Tuhan. Naifnya, mereka melakukan itu justru merusak sendi-sendi moral agama dan pilar sosial yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita.

Dalam bahasa tekhnis kekinian, wajarlah jika mereka berpola fikir simple:

Membela al-Quran = membela Islam

Membela Islam = membela Tuhan

Wajar pula jika di media sosial sekarang tengah ramai fitnah berseliweran akibat munculnya anggapan bahwa siapapun yang tidak membela Al-Quran berarti tidak membela Islam. Dan siapapun mereka yang dianggap tidak membela Islam patut untuk dihina, di-bully dan dinistakan karena mereka adalah para musuh Tuhan.

Selamat hari pahlawan, kawan!

Daripada bertikai toh perbedaan sebenarnya merupakan rahmat, mari kita meneladani KH. As’ad Samsul Arifin yang telah mengajari kita moral beragama, moral berspiritual, moral bersosial dan moral bernegara dengan sebaik-baiknya.

Kenang jasa besar beliau dengan menjaga keutuhan bangsa dan kedaulatan negara demi tegaknya Indonesia yang bermartabat dan agama Islam yang terhormat di mata dunia; Al Islam ya’lu wala yu’la alaih. Wallahu a'lam bis showab. [Kitab Kuning Digital]

Gus Yazid, menantu KH Idris, Pasuruan

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/alasan-kh-asad-diberi-gelar-pahlawan-nasional.html

Selasa, 06 April 2010

Kementerian Desa Jalin Kemitraan dengan Muslimat NU

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (DPDTT) resmi menggandeng Muslimat NU. Kedua belah pihak telah meneken nota kesepahaman (MoU) di Jakarta. Masing- masing sepakat untuk melaksanakan kegiatan yang berorientasi menyejahtarakan rakyat.

MoU tersebut ditandatangani di depan pengurus Pimpinan Pusat Muslimat yang kebetulan menggelar Rapat Pleno di kantor Pusdiklat Kemensos, Jalan Margaguna, Jakarta Selatan.

Kementerian Desa Jalin Kemitraan dengan Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Desa Jalin Kemitraan dengan Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Kementerian Desa Jalin Kemitraan dengan Muslimat NU

Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, Muslimat NU punya kebiasaan meningkatkan pengayaan di tengah rapat pleno. "Ini kebiasaan lama Muslimat. Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi semua," katanya.

Perempuan yang menjabat sebagai Menteri Sosial ini menambahkan, pada kesempatan tersebut Muslimat juga menjalin kerja sama dengan My NU dan Wardah. Kerja sama ini terkait dengan peningkatan dan pengetahuan ketarampilan tentang kosmetik.

Kitab Kuning Digital

"Banyak ibu-ibu tak tahu bahwa pakai kosmetik itu halal atau haram. Dengan begitu semua akan jelas, terangnya.

Khofifah berharap, masing-masing kerja sama bermanfaat bagi kader muslimat yang jumlahnya mencapai 32 juta. "Di belakang kita ada 32 juta umat. Moga semua ini membawa manfaat," katanya. (Red: Mahbib)

Kitab Kuning Digital

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62475/kementerian-desa-jalin-kemitraan-dengan-muslimat-nu

Kitab Kuning Digital

Senin, 28 Desember 2009

Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) bertanya sejauh mana proses pembahasan UU tentang minuman beralkohol di DPR. Kang Said memandang UU tentang minuman beralkohol sudah demikian mendesak. Pasalnya banyak korban sudah berjatuhan karena minuman beralkohol ini.

Pembahasan UU minuman beralkohol sudah sampai di mana? Kok macet? Kalau UU tembakau, kencang dan cepat luar biasa, kata Kang Said bertanya kepada pengurus harian Fraksi PKB dalam acara peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren di Jakarta, Senin (10/10) siang.

Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai (Sumber Gambar : Nu Online)


Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini menyayangkan betapa semangatnya anggota DPR dan sejumlah kalangan dalam membahas UU terkait rokok dan tembakau. Sementara pembahasan UU minuman beralkohol tampak berjalan di tempat dan sepi.

Kitab Kuning Digital

Minuman beralkohol, kata Kang Said, jelas jauh lebih berbahaya dibandingkan rokok. Fakta sudah menunjukkan bahwa banyak meninggal tiba-tiba disebabkan oleh minuman beralkohol itu.

Kitab Kuning Digital

Belum ada orang mati tiba-tiba karena mengisap tembakau. Tetapi orang lagi minum-minum tiba-tiba mati, ini sudah banyak kejadiannya. Kalau orang merokok lama-lama juga mati, itu pasti. Semua orang juga lama-lama mati, kata Kang Said memecahkan tawa hadirin.

Tampak pada peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren ini Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua Umum PKB H Muhaimin Iskandar, Ketua FPKB Hj Ida Fauziah, dan sejumlah pengurus lembaga dan banom NU serta anggota DPR dari fraksi PKB.

Ia berpesan agar pembahasan UU terkait minuman beralkohol dipercepat. Jangan sampai korban berjatuhan lagi, tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71897/kang-said-kok-sepi-bahas-uu-mihol-kalau-bahas-uu-tembakau-ramai

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock