Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Oktober 2016

Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN

Polewali Mandar, Kitab Kuning Digital. Kesebelasan Pondok Pesantren (PP) Salafiyah Parappe berhasil menjadi Juara Liga Santri Nasional (LSN) Zona Sulawesi Barat (Sulbar) setelah mengalahkan kesebelasan PP Al-Ihsan DDI Kanang di babak final yang berlangsung di Lapangan sepak bola Rajawali Panyampa kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Senin (22/9).

Laga final berlangsung seru dan menegangkan karena disaksikan oleh mayoritas suporter PP Salafiyah selaku tuan rumah LSN zona Sulbar. Kedua tim bermain terbuka sehingga banyak menghasilkan peluang. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk keunggulan Salafiyah Parappe.

Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Salafiyah Parappe Wakil Sulbar di Putaran Final LSN

Jalannya pertandingan

Kitab Kuning Digital

Di babak pertama, pemain PP Salafiyah Parappe, Arif berhasil membuka skor dengan golnya di menit-menit awal pertandingan. Kemudian disamakan oleh kesebelasan PP Al-Ihsan DDI Kanang lewat gol Reza diakhir babak pertama. Babak pertama laga final berkesudahan dengan skor 1-1.

Di babak kedua, pertandingan semakin seru. Namun hasil akhir berpihak kepada kesebelasan PP Salafiyah Parappe. Dua gol pemain PP Salafiyah Parappe masing-masing dicetak oleh Aziz dan Arif (gol kedua) mengantarkan PP Salafiyah Parappe merebut gelar Juara LSN zona Sulbar.

Kitab Kuning Digital

Sebagai tuan rumah sekaligus menjadi juara, PP Salafiyah Parappe bertekad menampilkan hasil yang terbaik di babak selanjutnya di tingkat nasional. Sebagaimana diketahui, kemenangan di final LSN zona Sulbar mengantarkan PP Salafiyah Parappe mewakili Sulbar di babak 16 besar menghadapi pemenang LSN dari zona lainnya.

Setelah pertandingan selesai, Indah Maya Sari selaku Koordinator LSN zona Sulbar menutup secara resmi kompetisi yang melibatkan para santri Sulbar ini. Bibit unggul bakat sepak bola ternyata juga ada pada santri, mereka juga bermain sangat sportif dan saya yakin pesantren yang menjadi juara di zona Sulbar akan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional, tutup Indah. (Sudianto/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62379/pesantren-salafiyah-parappe-wakil-sulbar-di-putaran-final-lsn

Kitab Kuning Digital

Kamis, 04 September 2014

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Jepara, Kitab Kuning Digital. Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, H Anis Malik Thoha berkesempatan hadir dalam Halal Bihalal yang diselenggarakan Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, awal pekan kemarin.

Dalam kesempatan tersebut Anis menjelaskan mengenai tradisi halal bihalal di Indonesia, lantaran ada sebagian pihak yang mengkritisi tradisi yang telah mengakar tersebut sebagai bidah.

Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)


Anis Malik: Halal Bihalal Tradisi Khas Nusantara

Menurutnya tidak semua hal dihukumi sesat. Demikian halnya tradisi halal bihalal atau saling maaf-memaafkan. Tradisi tersebut memang hanya ditemukan di Indonesia.

Kitab Kuning Digital

Tradisi halal bihalal menurut Katib Syuriyah NU Cabang Istimewa Malaysia sudah ada sejak zaman pangeran Mangku Negara I sekitar abad ke-18. Pangeran Samber Nyowo memperkenalkan tradisi baru tersebut dengan bersalam-salaman setelah shalat Id yang dilaksanakan di Keraton bersama seluruh abdi dalem.

Oleh ulama tradisi tersebut kemudian dihidupkan sebagai halal bihalal. Sebagai momentum saling memaafkan. Halal bihalal sebagai tradisi nasional masih dilestarikan hingga sekarang. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Kitab Kuning Digital

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53728/anis-malik-halal-bihalal-tradisi-khas-nusantara

Kitab Kuning Digital

Sabtu, 10 Agustus 2013

Adab Berhutang Dalam Islam

Kitab Kuning Digital - Hutang itu wajib dilunasi. Hutang adalah hak yang baru selesai urusan jika sudah dilunasi. Saking pentingnya hutang, orang yang sudah meninggal dan masih punya beban hutang, ahli waris harus menanggung hingga lunas. Karena itulah, Islam mengatur adab berhutang. Berikut 11 adab hutang beserta teks dalilnya:

1. Jangan pernah tidak mencatat hutang piutang.

Adab Berhutang Dalam Islam - Kitab Kuning Digital
Adab Berhutang Dalam Islam - Kitab Kuning Digital


Adab Berhutang Dalam Islam

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan hutang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya..” (TQS Al Baqarah 282)

2. Jangan pernah berniat tidak melunasi hutang.

Kitab Kuning Digital

“Siapa saja yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri..” (HR Ibnu Majah, hasan shohih)

3. Punya rasa takut jika tidak bayar hutang, karena sebab tidak diampuni dan tidak masuk surga

“Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang”. (HR.Muslim)

Kitab Kuning Digital

4. Jangan merasa tenang kalo masih punya hutang.

“Barangsiapa mati dan masih berhutang satu dinar atau dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR.Ibnu Majah, Shohih)

5. Jangan pernah menunda-nunda membayar hutang

“Menunda-nunda (bayar hutang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kedzaliman..” (HR Bukhari dan Muslim)

6. Jangan pernah menunggu ditagih dulu baru membayar hutang

“Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam pembayaran hutang..’ (HR Bukhari dan Abu Daud).

7. Jangan pernah mempersulit dan banyak alasan dalam pembayaran hutang.

“Allah ‘Azza wa jalla akan memasukkan ke dalam surga orang yang mudah ketika membeli, menjual, dan melunasi hutang..” (HR Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

8. Jangan pernah meremehkan hutang walaupun sedikit. “Ruh seorang mukmin itu tergantung kepada hutangnya hingga hutangnya dibayarkan..” (HR Ahmad, at-Tirmidzi, ad-Darimi, dan Ibnu Majah)

9. Jangan pernah berbohong kepada pihak yang menghutangi.

“Sesungguhnya, apabila seseorang berhutang, maka bila berbicara ia akan dusta dan bila berjanji ia akan ingkari..” (HR Bukhari dan Muslim).

10. Jangan pernah berjanji jika tidak mampu memenuhinya.

“… Dan penuhilah janji karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban..” (QS al-Israa’ : 34)

11. Jangan pernah lupa doakan orang yang telah menghutangi

“Barangsiapa telah berbuat kebaikan kepadamu, balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak mendapati apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdoalah untuknya hingga engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya..” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/adab-berhutang-dalam-islam.html

Minggu, 21 Oktober 2012

Doa Kebangsaan di Haul Manakib GP Ansor Gayam

Bojonegoro, Kitab Kuning Digital. Dalam rangka memperingati manakib Syekh abdul Qodir Al-Jilani, pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam mengadakan doa kebangsaan dan pembacaan manaqib di Masjid Ar-Rosyid Desa Katur, Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro pada Senin (9/1).

Ketua GP Ansor Gayam Imam Hambali menyampaikan, kegiatan yang dilakukan itu adalah cerminan dan upaya untuk mengejawantahkan kaidah dasar tentang melestarikan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik. Hal ini juga bagian bersahabat dengan tradisi bangsa.

Doa Kebangsaan di Haul Manakib GP Ansor Gayam (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Kebangsaan di Haul Manakib GP Ansor Gayam (Sumber Gambar : Nu Online)


Doa Kebangsaan di Haul Manakib GP Ansor Gayam

"Ini adalah kaidah mukhafadotu ala qodimi sholih wal akhdu ala jadidil aslah yang harus kita jadikan prinsip gerakan," ungkapnya dalam sambutan sebagaimana siaran pers yang dikirim ke Kitab Kuning Digital.

Ditambahkanya, hal ini juga sebagai bentuk cara yang santun mendoakan bangsa ini agar senantiasa terjaga dari segala hal yang memicu perpecahan dan segala jenis benih yang mengancam eksistensi NKRI.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Terlebih, menurutnya saat ini muncul banyak gerakan yang mengatasnamakan bela NKRI, tapi justru membuat pecah belah bangsa ini dan menghilangkan semangat kebinekaan.

"Mari kita deklarasikan pada dunia bahwa Ansor Gayam akan selalu ada untuk negara dan agama hingga kapan pun," tambahnya.

Pria alumni STAI Sunan Giri ini berharap agar kegiatan semacam ini senantiasa dipertahankan sebagai bentuk mempertahankan amaliah Nahdatul Ulama dan upaya menghargai perjuangan sultonul auliya Syekh Abdul Qodir Al Jilani.

"Semoga bisa istikomah setiap tahun dan semoga kita semua mendapatkan berkahnya," pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri mantan Ketua PAC Gayam Nur Chamid, jajaran Pengurus PAC GP Ansor Gayam dan seluruh ranting. (Red: Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74520/doa-kebangsaan-di-haul-manakib-gp-ansor-gayam

Kitab Kuning Digital

Kamis, 28 Oktober 2010

Cerita KH Hasyim Asyari Menolak Bintang Jasa Tawaran Belanda

Kitab Kuning Digital - Di sela-sela waktu senggangnya muktamar, kaum muda NU mengadakan rapat umum di Gedung Nasional Indonesia. Rapat harus diakhiri pukul 24.00 sesuai aturan pemerintah kolonial. Kaum muda ini melanjutkannya dengan obrolan ringan membahas soal politik, agama, hingga perang Eropa. Tak lupa perihal ulah Van der Plas, pejabat kolonial, yang berusaha “mengendalikan” laju NU.

Cerita KH Hasyim Asyari Menolak Bintang Jasa Tawaran Belanda - Kitab Kuning Digital
Cerita KH Hasyim Asyari Menolak Bintang Jasa Tawaran Belanda - Kitab Kuning Digital


Cerita KH Hasyim Asyari Menolak Bintang Jasa Tawaran Belanda

Beberapa kaum muda NU saat itu di antaranya KH. A. Wahid Hasyim, KH. Mahfudz Siddiq, Tohir Bakri, Fattah Yasin dan Zainul Arifin, dan tentu saja Saifuddin Zuhri, aktif membicarakan berbagai topik yang berkembang saat itu.

Tokoh sentral dalam obrolan malam itu tentu saja Kiai Wahid dan Kiai Mahfudz, dua orang kiai muda yang memiliki asupan pengetahuan yang cukup, ditunjang pemikiran cemerlang, dan visi pergerakannya yang di atas rata-rata.

Kiai Saifuddin Zuhri yang saat itu berusia 21 tahun mengajukan pertanyaan kepada KH. Mahfudz Siddiq, ketua umum.

“Apakah kehadiran Van der Plas dalam muktamar ini atas permintaan HBNO?”

“Wah, itu politik ya akhi,” jawab Kiai Mahfudz usai menenggak es temulawak yang ngetrend saat itu, “dia mengutus seorang ambtenaar (pejabat negeri, red.) mengunjungi kantor kita dengan pesan supaya HBNO (PBNU) memohon kepada gubernur Jawa Timur itu memberi pidato sambutan dalam resepsi muktamar kita,” imbuhnya.

Kiai Mahfudz Siddiq menambahkan, “HBNO sebenarnya tidak ingin dia datang. Tapi menolak keinginannya, musykil juga. Salah-salah bisa mendatangkan fitnah. Bagaimanapun, apa yang sudah terjadi bukan kemauan kita, moga-moga ada hikmahnya. Biyadikal khair ya rabb, innaka ‘ala kulli syai’in qadir,” Kiai Mahfudz menutup jawabannya dengan doa yang artinya: segalanya terletak dalam kekuasaan-Mu, hanyalah untuk kebaikan semata, ya Tuhan! Engkau Mahakuasa atas segala-galanya.

“Van der Plas itu benar-benar satu tipe dengan pemerintahan kolonial dalam menghadapi umat Islam,” kata Kiai Wahid Hasyim memberi tanggapan.

“Suatu golongan seperti NU ini merupakan kelompok kekuatan yang membahayakan kedudukan mereka, satu ketika bisa menjadi ancaman buat Belanda. Untuk menghancurkan NU begitu saja tidak mungkin. Van der Plas tahu benar filsafat orang Indonesia terutama orang Jawa, yang dicerminkan oleh watak hurufnya, ho-no-co-ro-ko. Huruf Jawa itu selalu hidup mandiri. Di-layar tetap hidup, di-wulu tetap hidup, di-cakra tetap hidup, bahkan di-taling dan di-tarung tetap juga hidup. Tetap, kalau di-pangku, mati,” kata Kiai Wahid.

Lalu pembicaraan beralih tentang kehadiran Van der Plas ke Tebuireng. Ketika hadratussyaikh sedang mengajar, datang Bupati Jombang menemui beliau dan memberitahukan setengah jam lagi Van der Plas akan datang ke Tebuireng. Dalam pembicaraan yang disaksikan oleh Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Mahfudz Siddiq itu, Van der Plas mengutarakan niat pemerintah memberi bintang jasa untuk menghormati Kiai Hasyim karena jasa-jasanya selaku guru agama Islam.

“al-harbu khid’ah…” sela Kiai Mahfudz, yang artinya, perang selamanya pertarungan tipu muslihat.

“Saya yang duduk bersama hadratussyaikh keluar keringat dingin juga mendengar bujukan Van der Plas yang tak disangka-sangka. Tapi Alhamdulillah, hadratussyaikh paham juga akan tujuan kedatangan Van der Plas itu.

"Dengan kata-kata halus dan sikap ramah, ditolaknya pemberian bintang jasa itu. Alasan beliau bahwa bintang jasa itu akan membuat dirinya takabur dan ‘ujub. Beliau merasa malu sekali kepada Allah SWT. karena menyadari kekecilan dan kedlaifannya. Tentang pekerjaan mengajar, itu memang sudah menjadi kewajiban tiap orang alim dan ulama. Sebab itu tidak layak dianggap berjasa…akhirnya Van der Plas berpamitan dan pulang dengan tangan hampa.”

“Wallahul khairul maakirin (Allah Maha sebaik-baik Pematah segala tipu muslihat). Alhamdulillah,” seru Kiai Mahfudz.

“Kita harus lebih waspada. Pemerintah semakin terjepit, semakin terancam kedudukannya sebagai penjajah. Dia akan semakin banyak lagi bujukannya terhadap kita, atau sebaliknya semakin zalim. Bagaimanapun juga, Hindia Belanda telah mendekati hari-hari senja yang gelap! Penjajah saat ini berada di dalam pelukan sandekala, hari-harinya mendekati akhir.” Kiai Mahfudz mengakhiri pertemuan di beranda Gedung Nasional Indonesia yang lokasinya tak jauh dari kantor HBNO di Surabaya tersebut.

****

Di kalangan rakyat sudah lama hidup sebuah pameo yang berbunyi, “Londho, alon-alon mbondho.” alias, Belanda bermakna menelikung kita secara perlahan-lahan. Oleh karena itu, kelompok ulama sejak lama sangat berhati-hati dengan segala rayuan Belanda. Apalagi semenjak peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro.

Secara perlahan-lahan dan “sabar” penguasa kolonial mencekik rakyat dan menjadikan para penguasa lokal sebagai anteknya. Tak heran jika dengan cara halus Van Der Plas berusaha menjadikan KH. M. Hasyim Asy’ari sebagai bemper kepentingan politik Hindia Belanda yang di negara asalnya sudah terjepit manuver Jerman.

Pihak penjajah berharap, manakala hadratussayaikh berhasil dibujuk, maka ia akan dipergunakan sebagai corong kepentingan Belanda, khususnya dalam propaganda rencana Hindia Belanda membentuk inheemse militie alias milisi bumiputra; bahwa setiap pemuda berusia 18-25 tahun dikenakan wajib menjadi serdadu sukarela baik sebagai stadwatcher (pengawal kota) atau landswatcher (pengawal negeri), dan membujuk rakyat melakukan aksi sukarela donor darah untuk kepentingan penjajah.

Penolakan yang dilakukan hadratussyaikh ini jelas sangat strategis dan penuh pertimbangan matang, apalagi posisi beliau sebagai salah satu tokoh terkemuka. Selain mempertimbangkan aspek syariat, penolakan tersebut merupakan manuver demi kemaslahatan umat.

Andaikata hadratussyaikh menerima bintang jasa dari penguasa kolonial saat itu, maka ketika Jepang masuk, besar kemungkinan beliau akan menjadi target eksekusi mati pertama kali karena dianggap antek Belanda. Tapi, yang telah terjadi, beliau malah menolak penghargaan tersebut.

Dan, saat Jepang menduduki Jawa, meskipun beliau dipenjara dan disiksa dengan keji, namun akhirnya penjajah bermata sipit ini meminta maaf dan memposisikan beliau sebagai salah satu tokoh muslim berpengaruh.

Melalui kisah di atas, kita bisa melihat kehati-hatian para ulama dalam menghadapi bujuk rayu penjajah. Siasat harus dilawan dengan siasat. Al-Faatihah buat pahlawan nasional Mbah Hasyim dan segenap pahlawan yang gugur. Selamat hari pahlawan 10 November. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/cerita-kh-hasyim-asyari-menolak-bintang-jasa-tawaran-belanda.html

Senin, 18 Januari 2010

Kelas Menulis Santri Kunjungi Kantor Redaksi Koran di Kudus

Pati, Kitab Kuning Digital. Para santri yang mengikuti Kelas Menulis Santri (KMS) mengunjungi dapur redaksi Radar Kudus. Panitia memilih Radar Kudus karena jaraknya paling dekat dari Pati. Pada kunjungan tersebut par santri berdiskusi bagaimana caranya memproduksi informasi menjadi berita layak tayang di media.

Kunjungan KMS pada Jumat (16/1) tersebut disambut Ris Andi Kusuma selaku redaktur pelaksana. Ia menyampaikan materi secara garis besar mengenai pemberitaan. "Kita saling mempererat komunikasi teman-teman santri dan Nahdlatul Ulama", ungkap Ris. Kerja sama antara media dengan NU masih terjaga baik dan harus dipertahankan, lanjutnya.

Kelas Menulis Santri Kunjungi Kantor Redaksi Koran di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelas Menulis Santri Kunjungi Kantor Redaksi Koran di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)


Kelas Menulis Santri Kunjungi Kantor Redaksi Koran di Kudus

Ris juga memberikan komentar dengan adanya komunikasi seperti ini Radar Kudus butuh masukan, saran dan kritik dari pembaca.

Kitab Kuning Digital

Ris menjelaskan setidaknya terdapat tiga rubrik yang bisa menjadi ajang santri untuk berekspresi mulai tulisan yang bernafaskan Islam di hari Jumat yaitu Cermin Hati. Kedua, cerpen terbit tiap Minggu. Ketiga, rubrik Kiprah Anda.

Kolom yang disebut terakhir ini seperti citizen journalism yang bisa diisi santriwan-santriwati dengan kegiatan dari pesantren masing-masing. Ini menjadi media untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dalam KMS.

Sebelumnya, para santri belajar bersama Imam Shofwan dari Yayasan Pantau. Pada kesempatan itu mereka belajar tentang editing naskah. Dari Materi ini, mereka juga belajar bareng tentang evaluasi tulisan yang mereka buat. (M. Zulfa//Abdullah Alawi)

Kitab Kuning Digital

Keterangan gambar:

peserta KMS berfoto bersama dengan Imam Shofwan (yayasan Pantau), Munawir Aziz (RMI NU Jateng) dan Ris Andi Kusuma

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57066/kelas-menulis-santri-kunjungi-kantor-redaksi-koran-di-kudus

Kitab Kuning Digital

Senin, 28 Desember 2009

Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) bertanya sejauh mana proses pembahasan UU tentang minuman beralkohol di DPR. Kang Said memandang UU tentang minuman beralkohol sudah demikian mendesak. Pasalnya banyak korban sudah berjatuhan karena minuman beralkohol ini.

Pembahasan UU minuman beralkohol sudah sampai di mana? Kok macet? Kalau UU tembakau, kencang dan cepat luar biasa, kata Kang Said bertanya kepada pengurus harian Fraksi PKB dalam acara peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren di Jakarta, Senin (10/10) siang.

Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai (Sumber Gambar : Nu Online)


Kang Said: Kok Sepi Bahas UU Mihol? Kalau Bahas UU Tembakau Ramai

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini menyayangkan betapa semangatnya anggota DPR dan sejumlah kalangan dalam membahas UU terkait rokok dan tembakau. Sementara pembahasan UU minuman beralkohol tampak berjalan di tempat dan sepi.

Kitab Kuning Digital

Minuman beralkohol, kata Kang Said, jelas jauh lebih berbahaya dibandingkan rokok. Fakta sudah menunjukkan bahwa banyak meninggal tiba-tiba disebabkan oleh minuman beralkohol itu.

Kitab Kuning Digital

Belum ada orang mati tiba-tiba karena mengisap tembakau. Tetapi orang lagi minum-minum tiba-tiba mati, ini sudah banyak kejadiannya. Kalau orang merokok lama-lama juga mati, itu pasti. Semua orang juga lama-lama mati, kata Kang Said memecahkan tawa hadirin.

Tampak pada peluncuran RUU Pendidikan Madrasah dan Pondok Pesantren ini Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua Umum PKB H Muhaimin Iskandar, Ketua FPKB Hj Ida Fauziah, dan sejumlah pengurus lembaga dan banom NU serta anggota DPR dari fraksi PKB.

Ia berpesan agar pembahasan UU terkait minuman beralkohol dipercepat. Jangan sampai korban berjatuhan lagi, tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71897/kang-said-kok-sepi-bahas-uu-mihol-kalau-bahas-uu-tembakau-ramai

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock