Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji

Saat matahari naik sepenggalah, asap mulai mengepul dari dapur rumah. Asap yang menjulang, menepuk-tepuk rimbunan pohon Nangka, lalu perlahan memudar. Ia berasal dari tungku yang sedang mengukus Singkong.

Sebentar-sebentar api tungku meletupkan sesuatu. Lidahnya terus merayap dan melahap belahan-belahan kayu bakar yang sebagian masih basah. Kicau burung Cerokcok yang menjejakkan kaki di dahan Nangka, mengaburkan detak-detak letupan api.

Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)


Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji

Sementara di beranda, sang empunya rumah, yang masyhur dengan sebutan Guru Marzuqi, tengah memberikan tashwir di hadapan belasan santrinya. Ia menghadapi dua kitab berlapik sebuah lekar. Satu terbuka, sedang dibaca. Satu masih tertutup, menunggu dibaca.

Usai pembacaan satu kitab, dua tiga nampan berisi singkong kukus keluar dari balik tirai pintu. Seorang bujang menuangkan teh panas tanpa gula dari cerek besar. Sebentar kemudian gelas-gelas yang berjajar rapi pada sebuah talam besar, terisi seperlunya. Dalam beberapa hitungan, gelas berisi teh tanpa gula sudah sampai di tangan semua hadirin.

Kitab Kuning Digital

Ini merupakan satu hidangan lazim dunia santri di Betawi. Kecuali itu, hidangan semacam ini adalah bentuk penghargaan Guru Marzuqi kepada santrinya yang datang dari sejumlah daerah di Jabodetabek. Maklum, santri Guru Marzuqi kebanyakan orang-orang tua. Mereka juga guru-guru besar di desanya.

Kitab Kuning Digital

Lepas menyantap potongan singkong kukus, mereka melanjutkan kitab lainnya. Mereka sedikit berbincang usai membaca dua kitab. Lalu dengan doa sang guru, mereka bubar entah ke mana membawa diri, keberkahan doa, dan ilmu.

Guru Marzuqi berjalan ke halaman belakang. Mengambil air sembahyang, lalu masuk ke dalam rumah. Gua mau ngajar dulu di masjid, kata Guru Marzuqi kepada istrinya di pintu rumah.

Mendekap dua kitab, sang guru berjalan menuju masjid di tetangga kampung. Menyusuri pohon-pohon rindang di kiri-kanan jalan, Guru Marzuqi terus melangkah menikmati kicauan burung. Sesekali guru Marzuqi menerima tawaran mampir dari tetangga.

Sampai di masjid, puluhan santri yang sudah menanti, mengecup bolak-balik tangan sang guru. Mereka melakukannya secara bergantian hingga tidak terasa sang guru sudah duduk di dalam masjid menghadapi kitab terbuka.

Tashwir sang guru atas dua kitab, selesai sebelum beduk Zuhur berdebam. Dalam tashwir, Guru Marqzuqi menyampaikan semua pemahaman yang didapatnya saat mengaji di Mekah dulu. Tidak satu pun pemahaman dari guru-gurunya disembunyikan.

Usai sembahyang Isya, ribuan butir air menitik di atap genting. Kilatan cahaya di langit diiringi suara guntur yang menggelegar. Sedangkan rimbunan daun Nangka di belakang rumah menjadi berat. Warna hijau dan merahnya semakin pekat disapu tetesan air langit.

Di beranda Guru Marzuqi seperti malam biasanya, tetap memberikan tashwir. Kali ini sang guru menghadapi santri-santri berseragam putih menghadapi lekar. Dengan setia mereka mendengarkan sang guru hingga selesai dua kitab. Hanya saja, malam ini tidak ada teh hangat, apalagi singkong kukus.

Dul, Guru Marzuqi semalam ngajar siapa ya? Semalam kan hujan gelanturan (hujan lebat disertai angin hebat dan sambaran petir), gua kagak lihat guru-guru pada datang ke rumah Guru Marzuqi, kata Mamat kepada Abdul, tetangga Guru Marzuqi yang mau mengangkut dagangannya ke pasar Meester Cornelis atau Jatinegara di pagi hari.

Nah iya. Mereka itu siapa? Gua lihat agak samar, sedikit terhalang pagar dan hujan. Yang gua lihat mereka berpakaian putih semua. Itu kagak jamak, kayak di malam-malam biasanya, sambut Dul sembari menaikkan dagangannya ke atas andong untuk menyusuri jalan berbecek.

Kalau orang pada kagak datang, terusan siapa dong?

Kalau yang gua dengar dari guru-guru, cuman malaikat yang pakaiannya putih-putih begitu, jawab Dul bertepatan dengan roda andong yang mulai berderak.

Mamat masuk ke rumah. Pertanyaan di hatinya terjawab. Ia cerita kepada istrinya. Siang hari itu, sebuah kabar tersiar luas bahwa Guru Marzuqi mengajar malaikat di malam yang hujan.

Pada saat yang sama, istri Guru Marzuqi menjemur bantal-bantal putih di belakang rumah. Bantal-bantal ini dijemur karena terpaan udara lembab semalam sebagai pengganti para santri yang tidak hadir.

Abang gua emang doyan baca kitab. Ampe santri kagak datang, tetap aja diakalin caranya dia harus tetap baca kitab, ujar istri Guru Marzuqi saat memukul kasur yang sedang telentang menghadang matahari.

Riwayat Guru Marzuqi

Guru Marzuqi adalah satu dari sejumlah guru besar di tanah Betawi selain Guru Abdul Majid, Guru Mansur, dan Guru Mughni. Kiai terkemuka di Jakarta Timur ini lahir pada Ahad 16 Ramadlan 1293/1876 di Rawa Bangke, Jatinegara.

Bapaknya bernama Ahmad Mirshad. Ia tidak lain keturunan keempat Sultan Laksana Melayang, salah seorang pangeran dari Kesultanan Melayu Pattani di Muangthai Selatan. Sementara ibunya bernama Fathimah binti Syihabuddin Maghrobi al-Maduri, berasal dari Madura dan keturunan Maulana Ishaq Gresik, seorang khatib di Masjid Al-Jamiul Anwar Rawa Bangke.

Usia 12 tahun, ia belajar Alquran kepada H. Anwar. Di usia ke-enam belas, ia belajar kitab kepada seorang keturunan Arab bernama Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan. Tidak lama kemudian, ia menuntut ilmu di kota Mekah untuk menetap selama tujuh tahun. Di kota ini, Guru Marzuqi menuntut ilmu dari para ulama sepuh. Mereka antara lain Syekh Makhfud Tremasi, Syekh Umar bin Abubakar Bajunaid Alhadrami, Syekh Mukhtar Atharid, Syekh Muhammad Umar Syatha, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Abdul Karim Al-Dagestani, dan ulama lainnya.

Dari mereka, ia menimba pelbagai ilmu seperti fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, manthiq (logika), dan lainnya. Ia pun menerima ijazah tarekat Alawiyah dari Muhamad Umar Syatha yang mendapat silsilahnya dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Pulang ke tanah air, ia mengajar di masjid Al-Jamiul Anwar Rawa Bangke. Guru Marzuqi adalah pembawa organisasi NU di Jakarta. Ia mendengar kabar bahwa KH. Hasyim Asyari, teman mengaji di Mekah, mendirikan organisasi NU di Jawa Timur. Ia pergi ke Jombang untuk mengejar kejelasan tentang NU. Setelah menemukan kesepahaman dari segi fiqih dan akidah, ia mendirikan NU di Jakarta pada tahun 1928. Guru Marzuqi pula yang menjabat Rois Syuriah hingga wafat 1934.

Ia wafat pada 25 Rajab 1352 H, bertepatan dengan 2 November 1934 M. Guru Marzuqi dimakamkan di kompleks Masjid Al-Marzuqiyah, jalan Masjid Al-Marzuqiyah, Cipinang Muara, Jakarta Timur. (Alhafiz Kurniawan)

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39950/hidup-guru-marzuqi-untuk-ngaji

Kitab Kuning Digital

Rabu, 03 Agustus 2016

Pelajar NU Cirebon Ganti OSIS Sekolah Sekabupaten dengan Komisariat

Cirebon, Kitab Kuning Digital. Menggandeng LP Maarif NU Cirebon, pelajar NU Cirebon akan menandatangani kerja sama dengan tujuh puluh kepala sekolah sekabupaten Cirebon. Penandatangan ini merupakan upaya bersama untuk mendirikan komisariat IPNU dan IPPNU di sekolah masing-masing.

Penandatangan kesepahaman ini akan dilangsungkan pada Ahad (20/4) mendatang di STAI Bunga Bangsa Cirebon jalan Widasari III Tuparev, Cirebon.

Pelajar NU Cirebon Ganti OSIS Sekolah Sekabupaten dengan Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Cirebon Ganti OSIS Sekolah Sekabupaten dengan Komisariat (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Cirebon Ganti OSIS Sekolah Sekabupaten dengan Komisariat

Kecuali pendirian, mulai tahun ajaran baru 2014-2015 OSIS di lingkungan sekolah Maarif NU akan diganti menjadi PK IPNU dan PK IPPNU, kata Ketua PC IPPNU kabupaten Cirebon Putri Hidayani, Senin (14/4) malam.

Kitab Kuning Digital

Sosialisasi pendirian komisariat ini, sambung Putri, berupa pemberian lebih dari pengenalan IPNU-IPPNU untuk para kepala sekolah agar mereka memahami fungsi IPNU-IPPNU di sekolah mereka.

Sengaja kita mengundang kalangan kepala sekolah atau wakasek bidang kesiswaan, karena selama ini kendala IPNU-IPPNU Cirebon untuk mendirikan komisariat mendapat penolakan dari kepala sekolah. Mereka menilai kehadiran OSIS sudah memadai. Padahal komisariat IPNU dan IPPNU bukan sekadar untuk mewadahi kegiatan siswa semata, tegas Putri.

Kitab Kuning Digital

Di samping itu, mereka pemegang kebijakan di sekolah untuk selanjutnya menginstruksikan kepada warga sekolah agar merealisasikan pendirian komisariat di sekolah yang mereka pimpin.

Sosialisasi pendirian komisariat ini diadakan dalam rangka menindaklanjuti surat instruksi PP IPPNU dan PP LP Maarif NU terkait pendirian PK di sekolah-sekolah untuk mengembalikan IPNU-IPPNU sebagai organisasi intrapelajar NU.

Jumlah sekolah yang diundang sekitar 70 sekolah baik sekolah yang berada di bawah naungan LP Maarif NU maupun sekolah yang dikelola warga NU. (Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51431/pelajar-nu-cirebon-ganti-osis-sekolah-sekabupaten-dengan-komisariat

Kitab Kuning Digital

Rabu, 23 Desember 2015

Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Tiga kementerian, yakni Kementerian Keuangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika menandatangani kerja sama pemberdayaan masyarakat dengan Nahdlatul Ulama (NU), Kamis (23/2) di Gedung PBNU Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, kerja sama ini terutama dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi. Dalam rangka memperkuat aktivitas ekonomi di tengah masyarakat.

Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun (Sumber Gambar : Nu Online)


Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun

Tahun 2017 ini, ada anggaran sebesar 1,5 T yang ada di dalam program investasi pemerintah yang diperuntukan bagi usaha-usaha ultra mikro. Memang nilainya dibawah kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai 100 Triliun, ujar Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menerangkan, tim dari Kemenerian Keuangan telah melakukan diskusi yang sangat panjang dengan tim Kemkominfo dan Menteri Koperasi dan UMKN. Karena uang ini bukan hadiah yang langsung hilang tetapi untuk modal.

Kitab Kuning Digital

Bukan pula hanya untuk usaha tetapi juga sebagai salah satu program pembentukan karkater, bagaimana mencipatakan sebuah keteraturan di dalam aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat, jelas Sri Mulyani.

Kitab Kuning Digital

Menurutnya tepat jika menggandeng Kementerian Koperasi dan UMKM serta Kemkominfo karena masyarakat dan warga NU pada umumnya banyak menggeluti usaha menengah dan kecil. Kemkominfo juga ada program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan informasi.

Kerja sama lintas institusi ini akan memunculkan dana lebih ditambah banyak program sehingga manfaatnya akan jauh lebih besar, ucapnya. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75665/kerja-sama-ultra-mikro-dengan-nu-pemerintah-sediakan-anggaran-15-triliun

Kitab Kuning Digital

Senin, 15 Desember 2014

PBNU Kembali Kirimkan Kader-kadernya ke Maroko

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mengirimkan kader-kader terbaiknya ke Maroko untuk mengikuti program beasiswa studi strata satu (S-1) tahun ajaran 2014/2015. Kali ini ada lima kader yang dikirim ke negeri kelahiran Ibnu Batutah itu, yang akan ditempatkan di Institute Imam Nafie, Tanger-Maroko.

Di sana mereka akan mempelajari ilmu-ilmu keislaman, termasuk mendalami madzhab Maliki yang dianut secara resmi oleh Kerajaan Maroko. Mereka adalah duta dari berbagai daerah dan pesantren di Jawa dan Sumatera. Nama kelima peserta tersebut ialah Royya Nahriyyah (Cirebon), Monica Syarifah luluk Al Hajiri (Bengkulu), Sita Yulia Agustina (Demak), M. Elvin Fajri Rahmika Ahmad (Bengkulu) dan Muhammad Husen (Kebumen).

PBNU Kembali Kirimkan Kader-kadernya ke Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kembali Kirimkan Kader-kadernya ke Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Kembali Kirimkan Kader-kadernya ke Maroko

Jelang pemberangkatan, Selasa (7/10), mereka diwajiban mengikuti pembekalan oleh PBNU, dalam hal ini dikoordinasi kepala biro kerja sama beasiswa Timur Tengah, Ahmad Sudrajat. Materi pembekalan itu terdiri dari strategi sukses belajar di Maroko yang disampaikan oleh mantan Ketua PCINU Maroko, Muannif Ridwan; penguatan bahasa Arab oleh kader NU lulusan Oman (sekarang menjadi Staf Ahli di Kedutaan Oman di Jakarta), Ustadz Syamsul Bahrain; dan Ke-NU-an oleh Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qoliyubi.

Kitab Kuning Digital

Dalam pembekalan ini, Mujib berpesan, mereka hendaknya di sana mampu berpikir secara kritis dan bebas. Ia menekankan mereka agar tidak jumud (stagnan) atau hanya mempelajari kitab-kitab kalsik. Namun demikian, para calon mahasiswa ini diimbau untuk selalu mendakwahkan dan mengibarkan bendera NU dimana pun kalian berada.

Kalian pandai-pandailah beradaptasi saat menyikapi perbedaan pendapat pada masalah furuiyyah, dengan tetap menjadi kader NU yang tawassuth. Jangan menjadi kader yang melenceng, kemudian menjadi anggota gerakan kiri atau kanan. Serta berpikirlah liberal pada masalah furuiyyah dan jangan mengkritisi aqidah yang dianut NU, ujanrya.

Kitab Kuning Digital

Sementara Pak Ajat, panggilan akrab Ahmad Sudrajat, selaku penanggung jawab para peserta peraih beasiswa ke Maroko ini mengatakan, melalui pengiriman kader-kader NU ke luar negeri seperti ini, artinya NU selalu bisa menjaga tradisi dan menyiapkan kader warasatul anbiya wal ulama (warisan para nabi dan ulama).

Dijadwalkan, mereka akan tiba di Bandara Mohamed V, Casablanca-Maroko pada 9 Oktober 2014, pukul 08:45 (waktu Maroko) menggunakan pesawat Qatar Airways. Di sana mereka akan disambut oleh Kusnadi El Ghezwa (Ketua PCINU Maroko) dan beberapa Staf KBRI Rabat. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54959/pbnu-kembali-kirimkan-kader-kadernya-ke-maroko

Kitab Kuning Digital

Sabtu, 07 Desember 2013

Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim

Kitab Kuning Digital - Harapan Aulia, siswi SMPIT Harapan Umat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk ikut bertanding dalam ajang bela diri tingkat provinsi Jawa Timur, kandas lantaran diduga karena ia memakai jilbab.

Siang malam berlatih, harus batal bertanding dalam laga yang digelar di Gelanggang Olahraga (GOR) Magetan, Jawa Timur (Jumat, 23/12/2016). Aulia saat itu diminta panitia untuk melepas jilbab yang dipakainya dan menggantikan dengan penutup kepala yang terbuka lehernya jika ingin berpartisipasi dalam kompetisi terebut. Namun, Aulia menolak karena penutup kepala tersebut dinilai tidak menutup keseluruhan auratnya.

Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim - Kitab Kuning Digital
Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim - Kitab Kuning Digital


Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim

"Peserta yang lain yang sebelumnya berjilbab, mulai melepas jilbabnya satu per satu. Tapi anak itu (Aulia) perlahan dengan air mata menggenang di pelupuk, ia melangkah meninggalkan arena pertandingan," terang Janan, guru Auliya, sebagaimana dikutip Kitab Kuning Digital dari situs RMOL, Senin (26/12).

Atas insiden tersebut, seorang pengajar di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, bernam,a Maimon Herawati, menulis kritik dan keprihatinan kepada Auliya lewat akun media sosial Facebook. Ini statusnya.

Kitab Kuning Digital

------------ Jumat, 23 Desember 2016, Magetan. Aulia bersiap mengikuti perlombaan Karate se-Jatim di GOR Magetan. Siswi Smpit Harapan Umat Ngawi ini mengenakan sabuk biru. Bersama Aulia, ada beberapa siswa lain yang juga berjilbab.

Menjelang pertandingan, juri memeriksa calon peserta. Saat itu, juri meminta peserta membuka jilbab. Aulia tercekat dan tercenung. Rekan peserta berjilbab lainnya membuka jilbab mereka. Aulia memilih meninggalkan lapangan. "Ya udah. Nggak bisa [bertanding]."

Mengapa? "Kan dalam agama nggak boleh membuka aurat," jelas gadis cilik ini saat saya telpon baru saja.

Kitab Kuning Digital

Ada rasa sedih, itu pasti. Siang malam Aulia berlatih sekuat tenaga. Berangkat latihan pagi pagi sekali, lalu pulang menjelang dzuhur. Istirahat sejenak lalu pergi latihan lagi, dan baru kembali pulang jam setengah sembilan malam. Setiap hari.

Guru Aulia, Pak Ustadz Janan Farisi yang menulis tentang Aulia ini, bercerita kalau pihak official sudah berusaha protes pada juri. Tapi, tidak berhasil. Aulia didiskualifikasi karena tidak mau membuka jilbabnya.

Gadis cilik 13 tahun yang bercita-cita ingin menjadi dokter ini melantunkan doa dalam kesedihannya, semoga Allah ganti [pertandingan gagal karena mempertahankan jilbab ini] dengan yang lebih baik.

Engkaulah petarung sesungguhnya, Nak. Dan engkau telah menjadi juara. ---------------

Kini, Auliya hanya pasrah dan tetap berlatih karate meskipun dia tidak bisa bertanding pada saat itu. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/tak-mau-copot-jilbabnya-auliya-batal-ikut-pertandingan-karate-sejatim.html

Sabtu, 13 April 2013

Dalil Qunut Witir Ramadhan

Kitab Kuning Digital - Syaikh al-Mubarakfuri, pengarang kitab Tuhfat al-Ahwadzi, mengutip dari ulama ahli hadis Syaikh Muhammad bin Nashr yang menyampaikan banyak atsar, baik dari Sahabat Nabi maupun para ulama ahli ijtihad tentang dasar Qunut di pertengahan kedua bulan Ramadlan. Di antaranya adalah:

1- Said bin Jubair

Dalil Qunut Witir Ramadhan - Kitab Kuning Digital
Dalil Qunut Witir Ramadhan - Kitab Kuning Digital


Dalil Qunut Witir Ramadhan

ﻭﺳﺌﻞ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﻴﺮ ﻋﻦ ﺑﺪء اﻟﻘﻨﻮﺕ ﻓﻲ اﻟﻮﺗﺮ ﻓﻘﺎﻝ ﺑﻌﺚ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ اﻟﺨﻄﺎﺏ ﺟﻴﺸﺎ ﻓﻮﺭﻃﻮا ﻣﺘﻮﺭﻃﺎ ﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺼﻒ اﻵﺧﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻗﻠﺖ ﻳﺪﻋﻮ ﻟﻬﻢ

Kitab Kuning Digital

Said bin Jubair ditanya tentang permulaan Qunut dalam salat Witir. Beliau berkata: "Ketika Umar bin Khattab mengutus pasukan lalu mereka mempedaya pasukan yang dikhawatirkan kepada mereka, maka ketika sudah masuk pertengahan terakhir bulan Ramadlan, saya katakan bahwa Umar berdoa untuk mereka"

2- Imam al-Syafi'i

Kitab Kuning Digital

ﻗﺎﻝ اﻟﺰﻋﻔﺮاﻧﻲ ﻋﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﺃﻥ ﻳﻘﻨﺘﻮا ﻓﻲ اﻟﻮﺗﺮ ﻓﻲ اﻟﻨﺼﻒ اﻵﺧﺮ ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺇﻻ ﻓﻲ اﻟﻨﺼﻒ اﻵﺧﺮ

Za'farani berkata dari al-Syafii: "Aku senang jika mereka Qunut di pertengahan akhir". Al-Syafii tidaklah Qunut di sepanjang tahun dan tidak di bulan Ramadlan kecuali pada pertengahan terakhir.

3- Imam Ahmad bin Hanbal

ﻗﻠﺖ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻨﺖ اﻟﻨﺼﻒ اﻻﺧﺮ ﻣﺘﻰ ﻳﺒﺘﺪﻱء ﻗﺎﻝ ﺇﺫا ﻣﻀﻰ ﺧﻤﺲ ﻋﺸﺮﺓ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺎﺩﺱ ﻋﺸﺮﺓ

Saya (Abu Dawud bertanya pada Ahmad bin Hanbal) : "Jika Qunut pada pertengahan akhir bulan Ramadlan, kapankan dimulai?" Ahmad bin Hanbal menjawab: "Jika telah lewat 15, yaitu pada malam 16 Ramadlan"

Dikutip dari kitab Tuhfat al-Ahwadzi Syarah Sunan al-Tirmidzi 2/463

Penulis: Ma'ruf Khozin, anggota di Aswaja NU Center Jatim (Nahdliyin mengamalkan, dalilnya kami siapkan)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/dalil-qunut-witir-ramadhan.html

Sabtu, 16 Maret 2013

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

Kitab Kuning Digital - Selama ini masyarakat melihat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) selalu menempelkan nama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun bila ditilik nama pengurus GNPF-nya, ternyata bukanlah pengurus MUI yang sedang menjabat. Masalahnya adalah kepentingan siapa yang menunggangi dan siapa ditunggangi? Siapa yang memanfaatkan dan siapa yang dimanfaatkan?

Berpikir ke depan, sebaiknya MUI minta secara resmi agar GNPF membubarkan diri. Kepolisian negara dapat mengawal permintaan MUI ini. Paling tidak, pembubaran dapat diagendakan setelah Pilgub DKI usai. Tidak ada alasan bagi MUI yang membiarkan GNPF hidup terus-menerus. Apalagi dibuat permanen.

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Kitab Kuning Digital
Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Kitab Kuning Digital


Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

MUI harus berani tegas dengan pembubaran ini. Bila dibiarkan, mereka akan terus bawa-bawa nama MUI untuk kepentingan dan agendanya sendiri. Tarikan kepentingan yang dalam jangka panjang dapat menyulitkan MUI sendiri di lain waktu.

Kitab Kuning Digital

Bukan tidak mungkin, GNPF bisa tumbuh menjadi anak nakal yang sulit dikendalikan oleh MUI sendiri. Apalagi GNPF sampai tumbuh dan berkembang menjadi sel-sel perlawanan yang suka membuat gaduh kerukunan antar umat beragama sampai mengaduh-aduh.

MUI juga harus tegas tidak libatkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang anti Pancasila untuk ikut dalam setiap rapat dan kegiatan yang MUI adakan. Kehadiran mereka adalah citra buruk bagi MUI. Bila hal itu dibiarkan, akan membuat kecewa:

a). Ormas pendukung berdirinya MUI (NU, Muhammadiyah, dll),

Kitab Kuning Digital

b). Penyelenggara Negara, seperti Pemerintah, MPR, DPR, MK, dll,

c). Elemen masyarakat pendukung PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, & UUD 1945) seperti Parpol, Ormas, dll.

Semua ini dimaksudkan untuk mengembalikan bangsa dan negara dalam keseimbangan hemeostasis. Terajut dan harmoni kembali setelah Gaduh Ahok. Tidak perlu terus berkembang menjadi gerakan massa aksi, apalagi sampai menjadi faktor yang dapat men-destabilisasi keamanan nasional. Bhinneka dalam keharmonisan kita damba. [Kitab Kuning Digital/ hsg]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/bubarkan-saja-gnpf-biar-tidak-mengaduh-sampai-gaduh.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock