Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2016

Slamet Effendy Yusuf: Saya Bukan Tim Kampanye Capres Manapun

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Slamet Effendi Yusuf menegaskan dirinya tidak terlibat sebagai tim kampanye calon presiden atau calon wakil presiden. Hal ini berkaitan dengan penyebutan namanya dalam daftar nama tim kampanye salah satu calon.

Saya bukan tim kampanye capres manapun. Saya juga tidak pernah diminta sebagai tim kampanye capres-cawapres, katanya kepada Kitab Kuning Digital di Jakarta, Rabu (28/5).

Pernyataan ini disampaikannya berkaitan dengan pencatuman namanya sebagai salah seorang anggota dewan penasihat tim kampanye nasional Prabowo-Hatta. Saya juga sudah menyampaikan hal ini kepada Pak Mahfud MD (ketua tim kampaye nasional Prabowo-Hatta), tambahnya.

Slamet Effendy Yusuf: Saya Bukan Tim Kampanye Capres Manapun (Sumber Gambar : Nu Online)
Slamet Effendy Yusuf: Saya Bukan Tim Kampanye Capres Manapun (Sumber Gambar : Nu Online)


Slamet Effendy Yusuf: Saya Bukan Tim Kampanye Capres Manapun

Dikatakanya, sebagai salah seorang ketua PBNU, dirinya akan fokus di NU. Slamet yang juga penggagas kembalinya NU ke Khittah 1926 berharap semua unsur PBNU tidak terlibat dalam aktivitas dukung-mendukung salah satu calon prasiden dan wakil presiden, apalagi sampai membawa bendera NU atau memakai kantor NU untuk kepentingan kampanye.

Kitab Kuning Digital

Kita harus berpegang teguh pada khittah. Pengurus NU jangan berpihak. PBNU harus menjadi pelopor dalam hal ini. Jangan malah membuat rancu, katanya.

Namun ia tetap mengimbau kepada warga Nahdliyin untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pilpres 9 Juli mendatang dan tidak golput. Sebagai bagian dari warga negara kita punya hak politik. Jangan sampai bingung. Pilihlah sesuai hari nurani, pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Kitab Kuning Digital

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52298/slamet-effendy-yusuf-saya-bukan-tim-kampanye-capres-manapun

Kitab Kuning Digital

Senin, 12 September 2016

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Narasi ekstrimisme begitu masif dan viral di media sosial, khususnya Twitter Konten ini sampai mampu menjadi image Islam yang seolah identik dengan kekerasan, perang, dan bom. Dasar ini adalah salah satu alasan bagi The Wahid Institute untuk menggandeng Twitter Indonesia untuk menggelar Workshop Tweet For Peace bersama puluhan aktivis media.

Menurut salah satu narasumber dari pihak Twitter Indonesia Roy Simangunsong, twitter memang dibangun berdasarkan konsep freedom of expressions atau kebebasan berekspresi para penggunanya.

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Tetapi kebebasan berekspresi tetap harus menjunjung tanggung jawab dan etika. Sebab itu, Twitter sangat mendukung dalam memerangi radikalisme, tegas Roy.

Roy mengajak kepada para pengguna twitter untuk melaporkan akun-akun radikal yang berpotensi ke tindakan terorisme dengan melaporkan ke platform yang disediakan oleh Twitter yaitu dengan mengakses: support.twitter.com/forms.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Untuk mendukung gerakan radikal di media sosial, lanjut Roy, twitter juga menyediakan berbagai tools (alat) yang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna. Hingga saat ini menurut Roy, tagar atau hashtag merupakan tools yang sangat efektif untuk mempopulerkan konten atau pesan damai. Selain itu, banyak tools-tools lain yang bisa dimanfaatkan.

Namun demikian, partisipasi aktif dalam menyampaikan konten dan informasi yang baik sangat penting. Karena Twitter juga sangat menekankan konten yang beretika di Twitter, tutur Roy.

Kegiatan workshop ini dihadiri oleh puluhan aktivis media dan komunitas yang aktif dalam menangkal serta memerangi radikalisme dan terorisme di dunia maya. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65655/ini-cara-melaporkan-akun-akun-radikal-di-twitter

Kitab Kuning Digital

Kamis, 21 Juli 2016

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Kitab Kuning Digital - Acara Istighotsah Kebangsaan yang digelar oleh Warga Nahdliyin Jakarta di Masjid al-Huda Jl Talang No 3 Jakarta Pusat, mengundang polemik. PWNU mengirimkan rilis yang memprotes istighotsah itu.

Anehnya, rilis hanya ditandatangani Rais Syuriah dan Wakil Ketua Tanfidziyah. Kalau resmi, rilis itu mestinya ditandatangi oleh Rais Syuriah, Katib Syuriah, Ketua Tanfidziyah dan Sekretaris Tanfidziyah. Tapi yang menarik, sejak kapan Istighotsah Nahdliyin perlu izin PWNU?

Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Kitab Kuning Digital
Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin - Kitab Kuning Digital


Mengapa NU Terseret Politik Praktis di Pilkada DKI? Polemik Istighatsah Tanpa Ijin

Apalagi yang mengadakan adalah tokoh NU yakni Djan Faridz yang mantan Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta (2011-2014) dan dihadiri oleh KH Nur Iskandar SQ, yang baru sembuh dari sakit, yang pernah dikabarkan wafat gara-gara menolak Aksi 411 (Alhamdulillah Kiai, njenengan dipanjangkan umur dan diberi kesehatan setelah difitnah macam-macam).

Bagi pihak yang menolak istighatsah ini menganggap istighasah ini politis, karena diadakan oleh Djan Faridz yang juga Ketua Umum PPP dan hanya dihadiri oleh salah seorang Cagub yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Kita sayangkan politisasi ini, tapi, politisasi terhadap NU tidak hanya dilakukan oleh Djan Faridz, karena sampai ke struktur PBNU juga melakukan. Rais Aam Syuriah, Ketum PBNU dan Sekjend PBNU hanya menerima Paslon Nomer 1: Agus-Sylvi pada bulan Oktober tahun lalu, bahkan diberi KartaNU.

Sejak kapan Agus jadi NU, peduli ke NU, datang ke NU dan sowan ke Kiai, tiba-tiba dapat keistimewaan diberi KartaNU dan langsung oleh Rais Aam PBNU dan Ketum PBNU? Apa kriteria ini? Saya saja yang dari lauhul mahfudz sudah NU, hingga lahir dan besar, perlu ngantri untuk dapat KartaNU. Hehehe..

Banyak yang curiga karena Sekjen PBNU juga merupakan politisi PKB dan anggota DPR Fraksi PKB yang satu koalisi dengan Cikeas. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Rais Aam PBNU, Kiai Ma'ruf Amin (semoga Allah SWT memberikan beliau kesehatan dan panjang umur) adalah Watimpres zaman SBY dan pada Pilkada 2012 mendukung Foke yang merupakan cagub dari Demokrat.

Andai PBNU dan struktur PBNU tidak main-main dengan khittah 1926 yakni benar-benar netral dari politik praktis, maka pihak-pihak lain akan segan melakukan politisasi NU, tapi karena di Pengurus Besarnya sudah "main" maka tidak heran, pihak-pihak lain juga akan melakukan hal yang sama dengan dalih yang bermacam-macam, apalagi di NU dikenal yang kuat adalah jamaah dan kiainya, bukan di strukturnya. Di NU tergantung kiai, juga tergantung ke mana arah politik kiai.

Andai PBNU melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Keluarga Gus Dur di Ciganjur dalam Acara Haul bulan Desember 2016, yakni mengundang semua calon maka, ini akan memberikan dampak yang lebih baik. Meski kita juga tahu, Keluarga Gus Dur sangat dekat secara emosional dengan Ahok.

Ahok pernah diberikan Gus Dur Award dan Ahok membangun RPTRA dengan patung Gus Dur Kecil di depan Taman Amir Hamzah di depan kantor Wahid Institute. Tapi, kedekatan dan kesukaan keluarga Gus Dur pada Ahok, tidak mengurangi mereka untuk bersikap adil pada calon-calon yang lain.

Jadi, kalau menurut Al-Quran, "janganlah kebencianmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil" maka dalam pesan yang lain bisa juga ditangkap, "janganlah kecintaanmu pada suatu kaum mendorong mu tidak berbuat adil." Jadi, meskipun Sekjen PBNU adalah politisi PKB dan satu koalisi dengan Cikeas, harusnya bisa bersikap adil pada cagub-cagub lain.

Publik dan warga NU juga tidak bisa dibohongi, bicara Khittah 1926 dan netral politik, ternyata malah "main" dengan salah satu Paslon Cagub. Ini yang benar-benar disayangkan, sehingga ini menyeret kemuliaan Rais Aam PBNU dan nama baik NU secara jam'iyyah.

Intinya, banyak pihak yang sekarang "main" di NU, khususnya para politisi NU yang masuk di banyak parpol yang tergantung dengan arah koalisi Cagub. Secara struktural PKB memegang NU di Tanfidziyahnya. Tentu saja mereka melakukan segala helah agar NU tetap bisa dimanfaatkan untuk Paslon mereka dan melakukan "blocking" terhadap pengaruh dari politisi-politisi NU dari non-PKB.

Politisi NU dari parpol lain tidak kehilangan akal, karena sebenarnya warga NU sangat cair, tergantung pada kiai. Di sinilah mereka tetap bisa "main". Karena kiai ibaratnya adalah pemilik saham di NU, yang punya jamaah.

Meskipun kiai ini tidak masuk dalam struktur NU, tapi punya jamaah yang banyak dan sudah dikenal sebagai kiai NU, maka tidak ada yang bisa membendung pengarung kiai tersebut. Gelar kiai juga dapat dari pengakuan masyarakat, bukan diberi oleh struktur NU.

Maka, apabila struktur NU, yakni Jam'iyyah NU dikooptasi oleh satu parpol, oleh satu kepentingan politik tertentu, pastilah akan ada perlawanan dari gerakan kultural, jamaah NU yang bisa saja ditunggangi kelompok-kelompok politik lain. Dan NU terjebak dalam pusaran politis yang tak ada habisnya.

Biar gak mumet, apa solusinya?

Ke depan dan untuk jangka panjang, pengurus struktur NU harus benar-benar menunjukkan keseriusan dan komitmen pada Khittah 1926, artinya ya jangan "main" politik. Kehadiran Agus-Sylvi ke PBNU itu jelas-jelas bagian dari "main politik". Kalau ada pihak-pihak saat ini yang menyeret-nyeret NU, maka itu tidak lebih dari reaksi terhadap oknum PBNU yang mempolitisasi NU dgn kehadiran Agus-Sylvi.

Nah, agar tidak "main" politik, maka pengurus di PBNU jangan dipilih dari politisi, seperti Sekjen PBNU sekarang yang berasal dari politisi dan anggota DPR PKB. Sebagai "petugas partai", Sekjen PBNU sekarang pastilah akan membela habis-habisan kepentingan partainya di PBNU dengan pelbagai dalih: PKB dilahirkan NU, hanya PKB yang peduli NU dan Kiai dll. Harusnya kalau konsisten dan Khittah 1926, maka, tidak boleh ada satu parpol yang punya klaim dan satu-satunya yang punya akses, bahkan menguasai NU.

Untuk jangka pendek, masih ada waktu bagi PBNU untuk menetralisir semua ini dengan mengundang semua Paslon agar tidak dianggap sepihak dengan "permainan" oknum di PBNU yang mendukung Pasangan Agus-Sylvi saja. Cara Keluarga Gus Dur bisa ditempuh.

Ini cara yang sangat arif yang bisa meletakkan politik keadilan dan kesetaraan, semua Paslon diundang. Meski kita juga tahu, Nyai Yenny Wahid adalah seorang politisi, yang juga punya arah politik tapi tidak mengurangi kearifan Keluarga Gus Dur untuk bersikap adil.

Maka, untuk menunjukkan netralitas PBNU dan komitmen pada Khittah 1926, bisa mengundang semua Paslon, memberikan doa dan taushiyah kebangsaan bagi mereka, siapapun yang menang, terserah pilihan warga DKI.

Kalau ada pertanyaan, bagaimana dengan Ahok yang bukan muslim? Kalau memakai argumen kaidah fiqih, maka mudah menjawabnya yang biasa dilakukan oleh kiai-kiai NU, bahwa pencalonan Ahok adalah produk konstitusi negeri ini, yang selama ini dikenal dengan akronim PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45).

Maka, apabila NU rela dan setia pada dasar-dasar dan pilar-pilar di atas, harusnya rela dengan apa yang menjadi produk dari konstitusi.

Kaidahnya berbunyi الرضا بالشيء رضاً بما يتولد منه, rela pada sesuatu, maka harus rela apa yang lahir dari sesuatu itu. Konstitusi Indonesia tidak mengenal perbedaan agama dan suku dalam pencalonan. Maka secara konsisten NU harus rela dan setia pada produk konstitusi itu. Dengan tidak membeda-bedakan Paslon berdasarkan perbedaan agama dan suku.

Kalau tidak rela pada produk Konstitusi ini, maka NU nanti bisa mengusulkan amandemen, perubahan UUD 1945 yang mengharuskan agama Islam, misalnya, menjadi salah satu syarat sebagai calon pemimpin di negeri ini. Jika ini terjadi, NU akan sama dengan DI/TII, Masyumi, FPI, FUI, Majelis Mujahidin, dllnya. Tapi ini tidak akan terjadi, insya Allah, karena Konstitusi 18 Agustus 1945 dan Amandemen UUD setelah reformasi merupakan hasil ijtihad politik orang-orang NU juga.

Kesimpulan, untuk menjaga Khittah NU, ke depan, pengurus-pengurus NU jangan diambil dari politisi. Janganlah politisi yang "nyambi" pengurus NU. Jangan pula menampakkan dukungan dan keterlibatan dengan salah satu partai dan Paslon tertentu, klau pun mau hadir sebagai bagian dari dakwah dan syiar, maka adillah, hadiri semuanya. Jangan mengistimewakan salah satu parpol dan pasangan saja yg selama ini terjadi.

Untuk jangka pendek dalam konteks Pilkada DKI, PBNU mestinya bisa mengundang semua calon dan mendoakan semuanya serta memberikan nasehat pada semuanya. Dengan demikian bisa ditepis kedekatan dan "permainan" oknum di PBNU terhadap salah satu Paslon. Kira-kira demikian. Wallahul muwaffiq ila Aqwawith Thariq. [Kitab Kuning Digital]

Solihin Hidayat, warga NU pendatang di Jakarta, tidak punya KTP Jakarta, masih KTP Madiun.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mengapa-nu-terseret-politik-praktis-di-pilkada-dki-jakarta.html

Rabu, 23 Desember 2015

Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Tiga kementerian, yakni Kementerian Keuangan, Kementerian Koperasi dan UMKM, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika menandatangani kerja sama pemberdayaan masyarakat dengan Nahdlatul Ulama (NU), Kamis (23/2) di Gedung PBNU Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, kerja sama ini terutama dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi. Dalam rangka memperkuat aktivitas ekonomi di tengah masyarakat.

Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun (Sumber Gambar : Nu Online)
Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun (Sumber Gambar : Nu Online)


Kerja Sama Ultra Mikro dengan NU, Pemerintah Sediakan Anggaran 1,5 Triliun

Tahun 2017 ini, ada anggaran sebesar 1,5 T yang ada di dalam program investasi pemerintah yang diperuntukan bagi usaha-usaha ultra mikro. Memang nilainya dibawah kredit usaha rakyat (KUR) yang mencapai 100 Triliun, ujar Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menerangkan, tim dari Kemenerian Keuangan telah melakukan diskusi yang sangat panjang dengan tim Kemkominfo dan Menteri Koperasi dan UMKN. Karena uang ini bukan hadiah yang langsung hilang tetapi untuk modal.

Kitab Kuning Digital

Bukan pula hanya untuk usaha tetapi juga sebagai salah satu program pembentukan karkater, bagaimana mencipatakan sebuah keteraturan di dalam aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat, jelas Sri Mulyani.

Kitab Kuning Digital

Menurutnya tepat jika menggandeng Kementerian Koperasi dan UMKM serta Kemkominfo karena masyarakat dan warga NU pada umumnya banyak menggeluti usaha menengah dan kecil. Kemkominfo juga ada program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan informasi.

Kerja sama lintas institusi ini akan memunculkan dana lebih ditambah banyak program sehingga manfaatnya akan jauh lebih besar, ucapnya. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75665/kerja-sama-ultra-mikro-dengan-nu-pemerintah-sediakan-anggaran-15-triliun

Kitab Kuning Digital

Kamis, 14 Maret 2013

Setya Novanto Tertidur, Yenny Wahid: Jangan Disamakan dengan Bapakku Dong!

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Salah satu calon Ketua Umum Golkar, Setya Novanto tertangkap kamera sedang tertidur saat mengheningkan cipta di acara pembukaan Munaslub Partai Golkar di Nusa Dua Bali, Sabtu (14/5) malam. Dalam rekaman video itu, mata Setya tampak terpejam dan hampir terjatuh.

Rekaman Novanto tidur dan nyaris ambruk yang ditayangkan salah satu televisi nasional itu langsung tersebar luas di media sosial dan menjadi guyonan para netizen, terlebih ketika Tim sukses Setya Novanto, Roem Kono menyamakan tidurnya Setnov dengan Gus Dur.

Setya Novanto Tertidur, Yenny Wahid: Jangan Disamakan dengan Bapakku Dong! (Sumber Gambar : Nu Online)
Setya Novanto Tertidur, Yenny Wahid: Jangan Disamakan dengan Bapakku Dong! (Sumber Gambar : Nu Online)


Setya Novanto Tertidur, Yenny Wahid: Jangan Disamakan dengan Bapakku Dong!

Novanto itu tidur tapi dia tetap mendengarkan pidato seperti Gus Dur. Saya melihatnya ada settingan seperti itu. Tapi Novanto ini orang cerdas. Dia terlihat tidur tapi tetap fokus, kata Roem Kono, Ahad (15/5).

Zannuba Ariffah Chafsoh atau biasa disapa Yenny Wahid melalui akun twitter resminya @yennywahid kemudian memberi tanggapan, "Kalau tidur, ya tidur aja, jangan disamain sama Bapakku dooong...."

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Meskipun kicauan itu tidak ditunjukkan langsung ke Tim Sukses Setyo Novanto, namun publik langsung menangkap jika pernyataan putri kedua Gus Dur itu sebagai sindirian.

"Tidurnya makelar dg tidurnya kyai jelas beda. Org awam juga tahu," tulis akun @abakhtiar67 sebagai balasan terhadap komentar Yenny Wahid. (Zunus)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68251/setya-novanto-tertidur-yenny-wahid-jangan-disamakan-dengan-bapakku-dong

Kitab Kuning Digital

Rabu, 01 Juni 2011

Nginjak Kaki Saat Shalat, Laki-Laki Ini Dipolisikan Karena Balas Nempeleng

DIPERIKSA PETUGAS: Berkaitan dengan laporan Agung, terlapor Iin Sugiyanto (kiri) diperiksa petugas Polsek Jatisrono. Kasus ini, dipicu perlilaku Sugiyanto yang menginjak kaki Agung saat salat Mahgrib berjamaah. (Foto: suaramerdeka.com/Bambang Purnomo) Kitab Kuning Digital - Agung Cahyono (23), penduduk Desa Pelem, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri, melapor ke Polsek setelah ditempeleng oleh rekan sesama jamaah salat Mahgrib. Kejadian ini berlangsung di Masjid Al Hidayah, Desa Pelem, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

Sebagai terlapor adalah Iin Sugiyanto (35), yang terhitung masih tetangga satu desa dengan pelapor namun beda RT. Menurut pelapor, kejadiannya berlangsung Ahad (4/12) petang. Saat korban akan melaksanakan shalat Maghrib di Masjid Al Hidayah, imam salat menyerukan agar para jamaah meluruskan shafnya dan merapatkan barisannya.

Nginjak Kaki Saat Shalat, Laki-Laki Ini Dipolisikan Karena Balas Nempeleng - Kitab Kuning Digital
Nginjak Kaki Saat Shalat, Laki-Laki Ini Dipolisikan Karena Balas Nempeleng - Kitab Kuning Digital


Nginjak Kaki Saat Shalat, Laki-Laki Ini Dipolisikan Karena Balas Nempeleng

Mendadak Sugiyanto yang berada di sampingnya menginjakkan kakinya ke kaki Agung. Usai shalat, Agung bertanya kepada Sugiyanto: "Ada masalah apa, kok kakiku tadi kamu injak ?." Pertanyaan ini berlanjut dengan menempeleng pipi Agung dan menantangnya agar masalah bisa dibawa ke tanah lapang saja.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, Agung, mengadukan ke Polsek Jatisrono. Kapolres Wonogiri AKBP Ronald R Rumondor melalui Kapolsek Jatisrono AKP Sali dan Kasubag Humas Polres AKP Gunawan, Senin (5/12), menyatakan, kasus ini tengah dalam penanganan. Korban maupun terlapor masih diperiksa.

Polisi juga meminta keterangan dari para saksi. Kasus ini, masuk dalam ranah pasal 351 KUHP, yang ancaman hukumannya maksimal dua tahun delapan bulan penjara. Sugiyanto, saat diperiksa petugas, menyatakan, dirinya merasa gemes. Sebab, ketika imam memerintahkan merapatkan barisan shaf untuk memulai shalat, Agung tidak mau.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Karena gemes, Sugiyanto menginjak kaki pelapor. Agung menyatakan, dirinya merasa risih ketika kaki terlapor harus menempel ke kakinya. "Kowe ki nek salat kok ndadak nempelke sikil ki ana apa? Risih aku ya? (Kamu itu kalau salat kok harus menempelkan kaki itu ada apa)" tegur korban. "Lha kowe ki nek dijak ngluruske shaf kok yo ra gelem?” (Lha kamu itu kalau diajak meluruskan shaf kok ya tidak mau?).

Padahal, imam salah memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf. ”Lha tapi kan ora usah dadak ngidak sikilku?” (Lha tapi kan tidak usah menginjak kakiku?). ”Lha wong sikilmu nek ketempel sitik wae enda, kuwi gawe gemes (Lha wong kakimu kalau ditempel sedikit saja menghindar, itu membuat gemes),” jawa terlapor. [Kitab Kuning Digital/ bambang purnomo/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/nginjak-kaki-saat-shalat-laki-laki-ini-dipolisikan.html

Jumat, 05 November 2010

Gus Dur Ajarkan Kebhinekaan Indonesia dengan Cara Sederhana

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai, ajaran kebhinekaan (pluralisme) dalam pandangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat sederhana. Ia mengutip apa yang pernah dikatakan Gus Dur kepadanya.

Menurut Gus Dur, kata Mahfud, kebhinekaan adalah rumah yang terdiri dari kamar-kamar. Di kamar-kamar itu, penghuninya bebas ekspresi, Mau berpakaian merah, kuning, hijau, bahkan tidak berpakaian sekalipun, terserah.

Gus Dur Ajarkan Kebhinekaan Indonesia dengan Cara Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Ajarkan Kebhinekaan Indonesia dengan Cara Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Dur Ajarkan Kebhinekaan Indonesia dengan Cara Sederhana

Tapi ketika ada di ruang tamu dan ruang makan, seluruh penghuni harus mengikuti dan tunduk kepada aturan main bersama rumah tersebut. Dan jika ada serangan dari musuh luar, seluruh penghuni harus bersama-sama melawannya. Dan jika keluar rumah semua penghuni harus menjaga nama baiknya.

Kitab Kuning Digital

Mahfud kemudian menyatakan, pluralisme bisa tegak dengan tiga hal, yaitu pengakuan kesaamaan derajat semua warga negara tanpa membedakan suku, agama, golongan, Semua penghuni rumah diberikan hak-hak yang sama.

Supaya aspirasi dan kehendak setiap warga itu tidak liar, maka meniscayakan syarat kedua, yaitu demokrasi. Dan syarat ketiga, supaya demokrasi tidak liar, harus ada kedaulatan hukum agar demokrasi tidak berjalan prosedural, tapi subtansial.

Kegiatan kerjasama atas MMD Peduli dan Jaringan Gusdurian tersebut dibuka Masduki Baidlowi. Dalam sambutannya, ia mengatakan, bahwa kegiatan tersebut adalah salah satu rangkaian haul Gus Dur yang digelar serentak di berbagai daerah. Hal menunjukkan keinginan warga untuk memahami dan melanjutkan pemikiran Gus Dur.

Kitab Kuning Digital

Tapi sangat disayangkan di satu sisi semangat itu kuat, di sisi lain masih sering terjadi kekerasan atas nama agama. Menurut dia, sebagaimana yang dikatakan Gus Dur, demokrasi Indonesia saat masih prosedural, bukan subtansial.

Pembicara lain pada diskusi bertema Pluralisme dan Demokrasi tersebut adalah Alissa Wahid, Mudji Sutrisno, dan Jaya Suprana. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49643/gus-dur-ajarkan-kebhinekaan-indonesia-dengan-cara-sederhana

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock