Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji

Saat matahari naik sepenggalah, asap mulai mengepul dari dapur rumah. Asap yang menjulang, menepuk-tepuk rimbunan pohon Nangka, lalu perlahan memudar. Ia berasal dari tungku yang sedang mengukus Singkong.

Sebentar-sebentar api tungku meletupkan sesuatu. Lidahnya terus merayap dan melahap belahan-belahan kayu bakar yang sebagian masih basah. Kicau burung Cerokcok yang menjejakkan kaki di dahan Nangka, mengaburkan detak-detak letupan api.

Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)


Hidup Guru Marzuqi untuk Ngaji

Sementara di beranda, sang empunya rumah, yang masyhur dengan sebutan Guru Marzuqi, tengah memberikan tashwir di hadapan belasan santrinya. Ia menghadapi dua kitab berlapik sebuah lekar. Satu terbuka, sedang dibaca. Satu masih tertutup, menunggu dibaca.

Usai pembacaan satu kitab, dua tiga nampan berisi singkong kukus keluar dari balik tirai pintu. Seorang bujang menuangkan teh panas tanpa gula dari cerek besar. Sebentar kemudian gelas-gelas yang berjajar rapi pada sebuah talam besar, terisi seperlunya. Dalam beberapa hitungan, gelas berisi teh tanpa gula sudah sampai di tangan semua hadirin.

Kitab Kuning Digital

Ini merupakan satu hidangan lazim dunia santri di Betawi. Kecuali itu, hidangan semacam ini adalah bentuk penghargaan Guru Marzuqi kepada santrinya yang datang dari sejumlah daerah di Jabodetabek. Maklum, santri Guru Marzuqi kebanyakan orang-orang tua. Mereka juga guru-guru besar di desanya.

Kitab Kuning Digital

Lepas menyantap potongan singkong kukus, mereka melanjutkan kitab lainnya. Mereka sedikit berbincang usai membaca dua kitab. Lalu dengan doa sang guru, mereka bubar entah ke mana membawa diri, keberkahan doa, dan ilmu.

Guru Marzuqi berjalan ke halaman belakang. Mengambil air sembahyang, lalu masuk ke dalam rumah. Gua mau ngajar dulu di masjid, kata Guru Marzuqi kepada istrinya di pintu rumah.

Mendekap dua kitab, sang guru berjalan menuju masjid di tetangga kampung. Menyusuri pohon-pohon rindang di kiri-kanan jalan, Guru Marzuqi terus melangkah menikmati kicauan burung. Sesekali guru Marzuqi menerima tawaran mampir dari tetangga.

Sampai di masjid, puluhan santri yang sudah menanti, mengecup bolak-balik tangan sang guru. Mereka melakukannya secara bergantian hingga tidak terasa sang guru sudah duduk di dalam masjid menghadapi kitab terbuka.

Tashwir sang guru atas dua kitab, selesai sebelum beduk Zuhur berdebam. Dalam tashwir, Guru Marqzuqi menyampaikan semua pemahaman yang didapatnya saat mengaji di Mekah dulu. Tidak satu pun pemahaman dari guru-gurunya disembunyikan.

Usai sembahyang Isya, ribuan butir air menitik di atap genting. Kilatan cahaya di langit diiringi suara guntur yang menggelegar. Sedangkan rimbunan daun Nangka di belakang rumah menjadi berat. Warna hijau dan merahnya semakin pekat disapu tetesan air langit.

Di beranda Guru Marzuqi seperti malam biasanya, tetap memberikan tashwir. Kali ini sang guru menghadapi santri-santri berseragam putih menghadapi lekar. Dengan setia mereka mendengarkan sang guru hingga selesai dua kitab. Hanya saja, malam ini tidak ada teh hangat, apalagi singkong kukus.

Dul, Guru Marzuqi semalam ngajar siapa ya? Semalam kan hujan gelanturan (hujan lebat disertai angin hebat dan sambaran petir), gua kagak lihat guru-guru pada datang ke rumah Guru Marzuqi, kata Mamat kepada Abdul, tetangga Guru Marzuqi yang mau mengangkut dagangannya ke pasar Meester Cornelis atau Jatinegara di pagi hari.

Nah iya. Mereka itu siapa? Gua lihat agak samar, sedikit terhalang pagar dan hujan. Yang gua lihat mereka berpakaian putih semua. Itu kagak jamak, kayak di malam-malam biasanya, sambut Dul sembari menaikkan dagangannya ke atas andong untuk menyusuri jalan berbecek.

Kalau orang pada kagak datang, terusan siapa dong?

Kalau yang gua dengar dari guru-guru, cuman malaikat yang pakaiannya putih-putih begitu, jawab Dul bertepatan dengan roda andong yang mulai berderak.

Mamat masuk ke rumah. Pertanyaan di hatinya terjawab. Ia cerita kepada istrinya. Siang hari itu, sebuah kabar tersiar luas bahwa Guru Marzuqi mengajar malaikat di malam yang hujan.

Pada saat yang sama, istri Guru Marzuqi menjemur bantal-bantal putih di belakang rumah. Bantal-bantal ini dijemur karena terpaan udara lembab semalam sebagai pengganti para santri yang tidak hadir.

Abang gua emang doyan baca kitab. Ampe santri kagak datang, tetap aja diakalin caranya dia harus tetap baca kitab, ujar istri Guru Marzuqi saat memukul kasur yang sedang telentang menghadang matahari.

Riwayat Guru Marzuqi

Guru Marzuqi adalah satu dari sejumlah guru besar di tanah Betawi selain Guru Abdul Majid, Guru Mansur, dan Guru Mughni. Kiai terkemuka di Jakarta Timur ini lahir pada Ahad 16 Ramadlan 1293/1876 di Rawa Bangke, Jatinegara.

Bapaknya bernama Ahmad Mirshad. Ia tidak lain keturunan keempat Sultan Laksana Melayang, salah seorang pangeran dari Kesultanan Melayu Pattani di Muangthai Selatan. Sementara ibunya bernama Fathimah binti Syihabuddin Maghrobi al-Maduri, berasal dari Madura dan keturunan Maulana Ishaq Gresik, seorang khatib di Masjid Al-Jamiul Anwar Rawa Bangke.

Usia 12 tahun, ia belajar Alquran kepada H. Anwar. Di usia ke-enam belas, ia belajar kitab kepada seorang keturunan Arab bernama Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan. Tidak lama kemudian, ia menuntut ilmu di kota Mekah untuk menetap selama tujuh tahun. Di kota ini, Guru Marzuqi menuntut ilmu dari para ulama sepuh. Mereka antara lain Syekh Makhfud Tremasi, Syekh Umar bin Abubakar Bajunaid Alhadrami, Syekh Mukhtar Atharid, Syekh Muhammad Umar Syatha, Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Abdul Karim Al-Dagestani, dan ulama lainnya.

Dari mereka, ia menimba pelbagai ilmu seperti fiqh, ushul fiqh, tafsir, hadits, manthiq (logika), dan lainnya. Ia pun menerima ijazah tarekat Alawiyah dari Muhamad Umar Syatha yang mendapat silsilahnya dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Pulang ke tanah air, ia mengajar di masjid Al-Jamiul Anwar Rawa Bangke. Guru Marzuqi adalah pembawa organisasi NU di Jakarta. Ia mendengar kabar bahwa KH. Hasyim Asyari, teman mengaji di Mekah, mendirikan organisasi NU di Jawa Timur. Ia pergi ke Jombang untuk mengejar kejelasan tentang NU. Setelah menemukan kesepahaman dari segi fiqih dan akidah, ia mendirikan NU di Jakarta pada tahun 1928. Guru Marzuqi pula yang menjabat Rois Syuriah hingga wafat 1934.

Ia wafat pada 25 Rajab 1352 H, bertepatan dengan 2 November 1934 M. Guru Marzuqi dimakamkan di kompleks Masjid Al-Marzuqiyah, jalan Masjid Al-Marzuqiyah, Cipinang Muara, Jakarta Timur. (Alhafiz Kurniawan)

Dari (Fragmen) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/39950/hidup-guru-marzuqi-untuk-ngaji

Kitab Kuning Digital

Kamis, 03 November 2016

KH Ahmad Dahlan Bukan Pendiri Muhammadiyah, Tapi Ahli Falak

Kitab Kuning Digital - Salah satu ulama Nusantara yang dikenal ahli dalam bidang ilmu falak adalah KH Ahmad Dahlan yang lahir di Termas Pacitan Jawa Timur 1862 dan wafat di Semarang 1911. Makam KH Ahmad Dahlan berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang. Menyebut nama Ahmad Dahlan memang orang menjadi tertuju pada sosok pendiri Muhammadiyah. Dan ternyata dua sosok bernama yang sama itu, KH Ahmad Dahlan Termas dan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, sama-sama mengaji di Pondok Pesantren KH Sholeh Darat.

KH Ahmad Dahlan Termas (sebagian orang menyebut KH Ahmad Dahlan Semarang) merupakan putra dari Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang Dipomenggolo I yang merupakan keturunan Ketok Jenggot punggawa Keraton Surakarta, tokoh cikal bakal berdirinya daerah Termas. Dipomenggolo I merupakan seorang santri ahli agama yang berdarah bangsawan yang mendirikan Pesantren Semanten. Salah satu putra Dipomenggolo bernama Mas Bagus Sudarso juga dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Di pesantren yang juga mengkaji budaya ini diasuh Bagus Burhan atau Ronggowarsito.

KH Ahmad Dahlan Bukan Pendiri Muhammadiyah, Tapi Ahli Falak - Kitab Kuning Digital
KH Ahmad Dahlan Bukan Pendiri Muhammadiyah, Tapi Ahli Falak - Kitab Kuning Digital


KH Ahmad Dahlan Bukan Pendiri Muhammadiyah, Tapi Ahli Falak

Kakak dari KH Ahmad Dahlan adalah KH Mahfudz Termas (1842-1920) dan adiknya bernama KH Dimyati Termas (wafat 1934). Tiga bersaudara ini memiliki keilmuan yang sangat luar biasa. Dunia pesantren sangat mengakui peran besar kakak-beradik ini dalam keilmuan-keilmuan agama Islam terutama paham ahlussunnah wal jama’ah.

Sehingga sosok KH Ahmad Dahlan yang sangat pandai tidak bisa dilepaskan dari kiprah keluarganya. Keluarga Termas memang sudah dikenal melahirkan ulama Nusantara yang sangat berkontribusi besar dalam dunia pesantren. Misalnya KH Mahfudz Termas dikenal sebagai ulama yang memiliki puluhan karya kitab dan spesialis di bidang hadits, telah mencetak murid yang menjadi ulama pesantren.

Keahlian KH Ahmad Dahlan Termas dalam bidang ilmu falak ditandai dengan penyebutan namanya dengan sebutan KH Ahmad Dahlan Alfalaky. Kepandaiannya dalam ilmu agama, menjadikannya diambil sebagai menantu KH Sholeh Darat. Ia dinikahkan dengan putri KH Sholeh Darat bernama RA Siti Zahra dari jalur istri RA Siti Aminah binti Sayyid Ali. Dari pernikahan ini, pada tahun 1895, melahirkan anak bernama Raden Ahmad Al Hadi yang kelak ketika dewasa menjadi tokoh Islam di Jembrana Bali.

KH Ahmad Dahlan memulai pendidikannya dari para Kyai yang ada di Termas kemudian melanjutkan belajar kepada kakaknya KH Mahfudz Termas yang ada di Makkah. Saat di tanah suci inilah KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan ahli falak Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari Bawean Madura (wafat 1921). Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari mempunyai karya Kitab Muntaha Nataiji al Aqwal.

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1320-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo, keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19.

Setelah selesai belajar di Arab, kemudian ia pulang ke tanah air. Berdasarkan saran dari kakaknya, sesampai di tanah air KH Ahmad Dahlan bersama dengan Syaikh Hasan Asy’ari diminta untuk belajar agama dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Maka pesan itu dilaksanakan. KH Ahmad Dahlan mengaji dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Dan sudah menjadi tradisi para ulama Nusantara, para santri yang sudah belajar di Arab tetap diminta belajar di Indonesia lagi, terutama dengan KH Sholeh Darat atau KH Cholil Bangkalan.

Karya-karya di bidang Falak yang dilahirkan oleh KH Ahmad Dahlan adalah: Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati (selesai ditulis 1901), Natijah al Miqat (selesai ditulis 1903) dan Bulughu al Wathar (selesai ditulis 27 Dzul Qa’dah 1320 di Darat Semarang). Ditengarai, masih banyak karya-karya KH Ahmad Dahlan yang sampai sekarang belum terlacak.

Dalam Kitab Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati ditegaskan oleh Zainul Milal Bizawie sebagai kitab hisab awal bulan pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara. Ini menjawab atas dugaan selama ini bahwa kitab hisab awal bulan yang pertama ditulis adalah Sullam Nayyirin yang baru ditulis 1925. Pola kitab karya KH Ahmad Dahlan masih menggunakan angka Abajadun dengan memakai Zaij Ulugh Beik.

Kitab Natijah al Miqat berisi tentang kaidah ilmu falak tentang penggunaan rubu’ mujayyab dalam penentuan awal waktu shalat dan arah kiblat. Dalam kitab ini juga dirangkumkan pemikiran-pemikiran guru KH Ahmad Dahlan: Syaikh Husain Zaid Mesir, Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Mesir, Syaikh Muhammad bin Yusuf Makkah dan KH Sholeh Darat. Kemudian pada tahun 1930, kitab Natijah al Miqat disyarahi oleh Syaikh Ihsan Jampes (wafat 1952) dengan kitabnya Tashrihu al Ibarat.

Kitab Bulughu al Wathar ini merupakan kitab falak pertama yang ditulis ulama Nusantara dengan sistem haqiqi tahqiqi. Kitab ini selesai ditulis bersamaan dengan kitab Muntaha Nataij al Aqwal karya Syaikh Hasan Asy’ari Bawean. Induk kitab yang dirujuk dalam membuat Bulughu al Wathar dan Muntaha Nataij al Aqwal berasal dari ilmu zaij Kitab Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri.

Khazanah keilmuan falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Hasan Asy’ari Bawean ini yang turut serta mewarnai perkembangan ilmu falak di Pondok Pesantren. Dinamika keilmuan falak di dunia pesantren selalu merujuk pada kajian-kajian ilmiah ulama Nusantara yang mampu mengembangkan ilmu falak yang berasal dari Arab.

KH Ahmad Dahlan dalam kesehariannya, bersama keluarga menempati rumah di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. KH Ahmad Dahlan selain dikenal sebagai ulama, juga ahli dalam bidang dagang dan tergolong berekonomi kuat (punya banyak toko di Pasar Johar). Bekal itulah yang digunakan untuk berjuang membangun dakwah Islam di Kota Semarang. Dan sepeninggal KH Sholeh Darat pada tahun 18 Desember 1903, Pondok Pesantren Darat diasuh oleh KH Ahmad Dahlan.

Selama kurang lebih delapan tahun, KH Ahmad Dahlan menggantikan guru sekaligus mertuanya mendidik para santri yang belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Darat. Dengan segala dedikasi penuh, para santri yang mengaji di Pondok tersebut diajar sebagaimana cara KH Sholeh Darat mendidik. Termasuk KH Ahmad Dahlan mengajarkan ilmu falak kepada para santri-santrinya dengan menggunakan tiga kitab falak yang ditulisnya.

Keahlian ilmu falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan tidak pernah lepas dari keahlian falak yang dimiliki oleh KH Sholeh Darat. Dalam beberapa kisah disebutkan bahwa KH Sholeh Darat yang merupakan guru dari ulama Jawa ini sangat tepat dalam menghitung waktu shalat dan penentuan awal bulan Ramadan dan Syawwal.

Proses penegasan dalam penentuan waktu shalat dan Ramadan ia tegaskan dalam beberapa karyanya. Termasuk keterbukaan KH Sholeh Darat dalam mengawal tradisi “Dugderan” di Kota Semarang sebagai bentuk kepedulian ilmu falak dan ilmu sosial. Dimana ketika masyarakat Semarang ingin menyambut kehadiran Ramadan dirayakan dengan bunyi-bunyi bedug dan petasan, maka disebut dug der (dug bunyi bedug dan der bunyi petasan).

Keahlian falak yang dimiliki KH Sholeh Darat adalah ketika diminta menghitung jumlah palawija yang ada di dalam karung oleh Belanda. Dengan sangat cepat berdasar ilmu hitung falaknya, maka KH Sholeh Darat memberikan jawaban dengan tepat. Kekaguman Belanda pada prediksi jumlah isi palawija itulah yang menjadikan Belanda kagum dengan ilmu falak KH Sholeh Darat.

Putra KH Ahmad Dahlan yang bernama Raden Ahmad Al Hadi berdakwah menuju Loloan Timur Jembrana Bali adalah karena mendapatkan isyarat dari KH Cholil Bangkalan (1820-1925) selaku gurunya. Selain itu, setelah KH Ahmad Dahlan wafat, Ibunya menikah lagi dengan KH Amir dan pindah ke Simbang Kulon Pekalongan. Dengan bekal ilmu agama yang dimiliki itu, putra KH Ahmad Dahlan bernama Ahmad ini berdakwah ke Bali.

Sebagaimana ayahnya, Raden Ahmad Al Hadi sangat senang dengan ilmu pengetahuan agama. Walaupun sejak kecil sudah dilatih berdagang di Pasar Johar Semarang, namun Raden Ahmad Al Hadi tetap semangat mengaji. Sehingga di usia 16 tahun ketika ia ditinggal wafat KH Ahmad Dahlan ia ikut belajar di Pondok Pesantren ayah tirinya, KH Amir. Setelah itu ia merantau dari pondok ke pondok hingga pernah belajar Makkah.

Sebagaimana dijelaskan oleh KH Fathur RA (anak kandung Raden Ahmad bin Ahmad Dahlan), bahwa Raden Ahmad sangat tinggi minat belajarnya. Pondok Pesantren yang dijadikan tempat mencari ilmu adalah: Pondok Pesantren Kaliwungu (berteman dengan KH Abul Choir selama dua tahun), Pondok Pesantren Buntet Cirebon (belajar ilmu silat), Pondok Pesantren Kyai Umar Sarang (belajar ilmu alat), Pondok Pesantren KH Munawwir Krapyak Yogyakarta (belajar Al Qur’an), Pondok Pesantren KH Dimyati Termas, Pondok Pesantren KH Idris Jamsaren Solo.

Setelah tamat dari Pondok Manbaul Ulum Jamsaren Solo dengan bekal Beslit dari Governoor Belanda Jawa Tengah, Raden Ahmad melanjutkan belajar ke Makkah dan Madinah berguru dengan pamannya sendiri, KH Mahfudz Termas.

Sepulang dari Arab, Raden Ahmad masih mengaji dengan KH M Hasyim Asy’ari di Jombang (satu tahun) dan KH Cholil Bangkalan Madura (satu tahun). Saat di Bangkalan inilah ia bertemu dengan KH Kusairi Shiddiq (mertua KH Abdul Hamid Pasuruan). Perintah Kyai Cholil pada Raden Ahmad adalah menuju Bali bertemu dengan murid Kyai Cholil yang bernama Tuan Guru Haji Muhammad di Loloan Timur Jembrana Bali. Dan ia jalani hingga mendirikan Pondok Pesantren Manba’ul Ulum di Jembrana Bali. Nama “Manba’ul Ulum “ adalah tabarrukan dengan almamaternya saat mondok di Jamsaren. Wallahu a’lam. [Kitab Kuning Digital]

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kh-ahmad-dahlan-bukan-pendiri-muhammadiyah-tapi-ahli-falak.html

Jumat, 17 April 2015

Muslimat Gelar Lomba Kreasi Nasi Kuning dan Cerdas Cermat

Ciamis, Kitab Kuning Digital. Ratusan anggota Muslimat NU Kecamatan Lakbok memperingati hari lahir ke-70 Muslimat di aula Desa Sukanagara, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Mereka mengisi peringatan hari lahir organisasi dengan pagelaran lomba hias nasi kuning dan cerdas cermat perihal kemuslimatan.

Acara dibuka langsung oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lakbok Endun Abdullah. Dalam samutannya, ia mengapreasiasi gerakan perempuan di daerah yang cukup massif. Pasalnya, kekompakan yang ditunjukkan para kader Muslimat sampai saat ini semakin terasa manfaatnya.

Muslimat Gelar Lomba Kreasi Nasi Kuning dan Cerdas Cermat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Gelar Lomba Kreasi Nasi Kuning dan Cerdas Cermat (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat Gelar Lomba Kreasi Nasi Kuning dan Cerdas Cermat

"Kami sangat bangga dengan para ibu Muslimat yang selalu berada pada garis terdepan dalam kegiatan sosial. Kami harap bisa selalu bergandengan dengan semua lembaga pemerintahan yang ada di Kecamatan Lakbok," tegasnya di hadapan ratusan anggota Muslimat saat pembukaan, Sabtu (2/4).

Hj Nurhayati mengatakan kepada Kitab Kuning Digital bahwa dalam peringatan harlah ini, sejumlah perlombaan digelar seperti lomba menghias nasi kuning serta lomba cerdas cermat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) Muslimat NU. Uniknya, dalam kreasi nasi kuning para peserta hanya dibatasi bahan sejumlah harga Rp. 50.000 serta beras 2 Kg.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

"Untuk lomba cerdas cermat, intinya semua peserta yang berasal dari 10 desa yang ada di Kecamatan Lakbok mendelegasikan 3 orang. Harapan besar tentunya semua anggota dapat memahami aturan main dalam sebuah organisasi," kata Hj Nurhayati.

Dari pantauan Kitab Kuning Digital, sejumlah ibu-ibu Muslimat tengah sibuk merangkai nasi kuning dengan berbagai bentuk. Salah satunya kreasi ranting Muslimat Desa Cintajaya. Mereka membuat bentuk susunan seperti candi berundak-undak dengan taburan telur goreng serta kacang tanah goreng. Sementara itu, riuh bunyi gelas, piring serta mangkuk terdengar dari para peserta lomba cerdas cermat yang saling rebutan menjawab pertanyaan dari juri.

"Ini momen yang kami tunggu, pasalnya selain mengasah kekompakan dalam mengkreasikan makanan berupa nasi kuning, anggota Muslimat juga bisa berlomba dalam memahami aturan organisasi. Setidaknya mereka mau membaca, begitu pula saya," ujar Laelatul Husniah. (Muhafid/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67018/muslimat-gelar-lomba-kreasi-nasi-kuning-dan-cerdas-cermat

Kitab Kuning Digital

Rabu, 31 Desember 2014

Ali Masykur: ISNU harus berbasis Ilmu Pengetahuan

Bogor, Kitab Kuning Digital. Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Harian Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa menyampaikan sambutannya dalam acara Rapat Koordinasi III pembentukan ISNU Pengurus Cabang (PC) Depok, pada tanggal 18 Juli 2012, Pukul 16:30 s/d 19:00 WIB, di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok.

Dalam sambutan tersebut, Ali Masykur memulai dengan paparan awal yang cukup menarik mengenai Siapa ISNU? dan Apa ISNU itu?. Menurutnya, ISNU merupakan badan otonom NU yang berbasiskan science (ilmu pengetahuan) dan bersifat ilmiah, sehingga memiliki peranan yang sangat strategis sebagai wadah pengembangan kader-kader intelektual NU di Indonesia.

Ali Masykur: ISNU harus berbasis Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur: ISNU harus berbasis Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)


Ali Masykur: ISNU harus berbasis Ilmu Pengetahuan

Namun ISNU juga tidak boleh melupakan jati dirinya sebagai ilmuwan Muslim yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama, sehingga diperlukan integrasi ilmu pengetahuan baik yang bersifat umum maupun yang bersifat agama.

Kitab Kuning Digital

Kader-Kader ISNU harus mampu menemukan kembali ilmu-ilmu literasi klasik orang NU, kemudian memadukannya dengan ilmu pengetahuan umum yang diperoleh di perguruan tinggi, kata Ali Masykur Musa.

Apalagi saat ini hanya sedikit sekali, kalau bukan tidak ada, tradisi keilmuan Islam klasik berbasiskan Kitab Kuning, yang biasa dikaji di pesantren-pesantren NU,yang menjadi bahan kajian keilmuan para akademisi di perguruan tinggi. Kajian-kajian Kitab Kuning berbasis ilmiah harus digalakkan kembali di perguruan tinggi, terutama kampus-kampus umum, kata Ali Masykur Musa dalam sambutannya.

Kitab Kuning Digital

Karena sifat dasar ISNU yang berbasis ilmu pengetahuan itulah ISNU tidak boleh terseret dalam politik praktis, melainkan harus berfokus pada ilmu pengetahuan berbasis kepentingan umum.

Kader-kader ISNU harus menggunakan hati nuraninya dalam beraktivitas sehingga dapat memperjuangkan common interests ummat, dan jangan gunakan ISNU untuk practice interests jangka pendek !! tegas Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Kemaslahatan Ummat, khususnya warga Nahdliyyin, haruslah menjadi tujuan utama ISNU sebagai sebuah badan otonom NU yang berbasiskan ilmu pengetahuan, jangan sampai ISNU digunakan sebagai wadahkepentingan politik praktis yang justru bertentangan dengan kemaslahatan ummat. Peran ISNU sebagai organ kultural NU juga harus tetap dijaga agar tidak menimbulkan jarak yang cukup jauh dengan masyarakat umum, jangan sampai ummat memandang bahwa ISNU adalah organisasi yang eksklusif, egois, dan berjarak dengan masyarakat sekitar.

Sebagai organ kultural dan organ inti NU, kader-kader ISNU dituntut harus mampu menjawab berbagai macam permasalahan yang terjadi di masyarakat dengan solusi-solusi yang cerdas, cermat, tepat sasaran, dan tepat guna sehingga keberadaan ISNU dapat dirasakan manfaatnya secara riil oleh masyarakat umum. Dalam hal inilah peran para intelektual dan ilmuwan Muslim, khususnya kader ISNU, diharapkandapat menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan diperolehnya selama ini.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Muhammad Ibrahim Hamdani

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38994/ali-masykur-isnu-harus-berbasis-ilmu-pengetahuan

Kitab Kuning Digital

Sabtu, 01 Februari 2014

Ada 11 Istri yang Bisa Anda Pilih Sebagai Sumber Rejeki Barokah

Kitab Kuning Digital - Tidak sedikit para suami yang belum tahu bahwa rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun bisa dijelaskan secara spiritual bahwa 11 sifat istri ini ‘membantu’ mendatangkan rejeki barokah bagi suaminya.

1. Istri yang pandai bersyukur

Ada 11 Istri yang Bisa Anda Pilih Sebagai Sumber Rejeki Barokah - Kitab Kuning Digital
Ada 11 Istri yang Bisa Anda Pilih Sebagai Sumber Rejeki Barokah - Kitab Kuning Digital


Ada 11 Istri yang Bisa Anda Pilih Sebagai Sumber Rejeki Barokah

Istri yang bersyukur atas segala karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk rejeki. Punya suami, bersyukur. Menjadi ibu, bersyukur. Anak-anak bisa mengaji, bersyukur. Suami memberikan nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberikan kenikmatan sebagai suami istri, bersyukur.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Kitab Kuning Digital

2. Istri yang Tawakkal kepada Allah

Kitab Kuning Digital

Di saat seseorang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3).

Jika seorang istri bertawakkal kepada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selalu harus langsung diberikan kepada wanita tersebut. Bisa jadi Allah akan memberikan rejeki yang banyak kepada suaminya, lalu suami tersebut memberikan nafkah yang cukup kepada dirinya.

3. Istri yang baik agamanya

Rasulullah menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. “Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Beruntung itu beruntung di dunia dan di akhirat. Beruntung di dunia, salah satu aspeknya adalah dimudahkan mendapatkan rejeki yang halal.

Coba kita perhatikan, insyaAllah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya taat kepada Allah kemudian mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat kepada Allah tetapi rejekinya lancar? Bisa jadi Allah hendak memberikan rejeki kepada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi berkat taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah kemudian mempermudah rejekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

4. Istri yang banyak Istighfar

Di antara keutamaan istighfar adalah mendatangkan rejeki. Hal itu bisa dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 hingga 12. Bahwa dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu”(QS. Nuh : 10-12).

5. Istri yang gemar silaturahim

Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik kepada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, dan saudari-saudari seaqidah, pada hakikatnya ia sedang membantu suaminya memperlancar rejeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya.

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

6. Istri yang suka bersedekah

Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rejeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat. Bahkan hingga kelipatan lain sesuai kehendak Allah.

Jika istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak langsung dibalas melaluinya. Namun bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rejekinya berlimpah.

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

7. Istri yang bertaqwa

Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rejeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rejeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq: 2-3).

8. Istri yang selalu mendoakan suaminya

Jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut melainkan dari pemiliknya.

Begitulah rejeki. Rejeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rejeki. Maka jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi namun perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami agar senantiasa mendapatkan limpahan rejeki dari Allah, dan yakinlah jika istri berdoa kepada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.

“DanTuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir: 60).

9. Istri yang gemar Shalat Dhuha

Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah tiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rejekinya sepanjang hari.

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.”(HR. Ahmad).

10. Istri yang gemar bersholawat

Banyak sekali khasiat dan manfaat membaca sholawat, baik itu dari hadits dan keterangan para ulama. Membaca sholawat mampu membuat hati menjadi tenteram, memudahkan segala urusan Selain keuntungan didunia dan akhirat.

11. Istri yang taat dan melayani suaminya

Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya. Sepanjang perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib menaatinya.

Apa hubungannya dengan rejeki? Ketika seorang istri taat kepada suaminya, maka hati suaminya pun tenang dan damai. Ketika hatinya damai, ia bisa berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya pun menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rejeki mengalir lancar. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ada-11-istri-yang-bisa-anda-pilih-sebagai-sumber-rejeki-barokah.html

Kamis, 24 Oktober 2013

Bendera Palestina Dibuat Unjuk Rasa Ormas Indonesia, Dubes: Itu Tidak Pada Tempatnya

Kitab Kuning Digital - Kedutaan Besar Palestina di Jakarta menyesalkan pengibaran bendera nasionalnya dalam sejumlah aksi unjuk rasa terkait urusan dalam negeri Indonesia dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam pernyataan resminya, Kedubes Palestina mengatakan, perilaku itu tidak bisa diterima dan tidak bisa dianggap sebagai tanda dukungan atau solidaritas terhadap Palestina.

Bendera Palestina Dibuat Unjuk Rasa Ormas Indonesia, Dubes: Itu Tidak Pada Tempatnya - Kitab Kuning Digital
Bendera Palestina Dibuat Unjuk Rasa Ormas Indonesia, Dubes: Itu Tidak Pada Tempatnya - Kitab Kuning Digital


Bendera Palestina Dibuat Unjuk Rasa Ormas Indonesia, Dubes: Itu Tidak Pada Tempatnya

"Teman Palestina yang asli dan tulus akan menjaga stabilitas dan kedamaian di negara mereka jika mereka benar-benar tulus ingin menciptakan kedamaian di Palestina," demikian pernyataan dari Kedubes Palestina.

Sementara itu, staf Kedutaan Palestina, Sari Amalia, tidak menyebut secara spesifik kelompok atau unjuk rasa tertentu. Dia hanya mengatakan, pernyataan tersebut merupakan pengamatan umum yang tampak pada unjuk rasa tahun 2016 dan awal 2017.

Kitab Kuning Digital

Sari mengatakan, pernyataan ini penting untuk disampaikan karena Kedubes Palestina merasa penggunaan bendera itu tidak pada tempatnya.

Kitab Kuning Digital

"Seperti kedutaan lain, kami tentu punya komitmen untuk tidak mau mengintervensi dan tidak mau terbawa oleh urusan dalam negeri Indonesia," katanya kepada BBC Indonesia.

Mereka berharap bendera Palestina tidak lagi digunakan dalam unjuk rasa terkait urusan dalam negeri Indonesia di masa depan.

Dalam sejumlah aksi massa, seperti protes menentang Basuki Tjahaja Purnama, misalnya, sebagian pengunjuk rasa membawa bendera Palestina di antara bendera atau lambang organisasi mereka.

Seperti diberitakan BBC Indonesia, bendera Palestina juga terlihat berkibar di depan Polda Metro Jaya awal pekan ini di tengah massa Front Pembela Islam saat Rizieq Shihab menjalani pemeriksaan kasus simbol palu arit di lembaran uang rupiah.

BBC Indonesia telah mencoba menghubungi FPI dan GNPFMUI untuk meminta tanggapan, tetapi hingga kini belum mendapat jawaban. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/bendera-palestina-dibuat-unjuk-rasa-ormas-indonesia-dubes-itu-tidak-pada-tempatnya.html

Rabu, 04 September 2013

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Demak, Kitab Kuning Digital. Anggota maupun pengurus NU dituntut untuk selalu komitmen serta eksis memperjuangkan dan mempertahankan ideologi organisasi dalam kondisi apapun dan di manapun. Mereka juga bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi.

Kita sebagai warga NU wajib memperjuangkan ajaran Ahlus Sunah wal jamaah di manapun dan sampai kapan. Kita harus melestarikan ajaran yang ditinggalkan para ulama NU, kata pengurus LDNU Demak KH Imam Ghozali saat memberikan taushiyah pada halal bihalal yang diselenggarakan Muslimat NU di halaman Masjid Jami Ploso Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Ahad (14/8).

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)


Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Kiai Ghozali mengingatkan anggota Muslimat NU sudah sewajarnya bila dalam keseharian mengamalkan ajaran Aswaja dan menyebarkannya. Hanya saja di dalam memperjuangkan itu semua harus disesuaikan dengan kemampuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam keluarga masing-masing.

Anggota Muslimat itu wajib memperjuangkan Aswaja di tengah masyarakat, namun perjuangan panjenengan semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang perlu izin dan dukungan dari keluarga terutama suami, tegas kiai Ghozali.

Kitab Kuning Digital

Sementara itu Ketua Muslimat NU Guntur Hj Isfinadhiroh di sela-sela acara kepada Kitab Kuning Digital mengatakan, pihaknya sengaja mengundang ulama NU pada acara tersebut untuk memberikan pencerahan dan motivasi pada pengurus dan anggota Muslimat NU agar semakin giat dalam berorganisasi.

Kitab Kuning Digital

Mumpung pengurus dan anggota Muslimat NU sekecamatan ini kumpul, sengaja pak kiai rawuh-kan untuk memberikan motivasi dan pencerahan pada anggota akan kesadaran membesarkan NU, tutur Isfinadhiroh.

Hahal bihalal ini diikuti oleh pengurus anak cabang dan ranting Muslimat NU sekecamatan Guntur. Tampak hadir pengurus MWCNU, lembaga dan banom NU tingkat kecamatan serta dihadiri warga sekitar. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70488/aswaja-harus-diperjuangkan-sampai-kapanpun

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock