Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2016

PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mensosialisasikan hasil-hasil muktmar ke-33 Nahdlatul Ulama, di auditorium PBNU Selasa malam (15/12). Kegiatan tersebut dipandu Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini.

Helmy Faishal Zaini mengatakan, di dalam tas yang diberikan usai registrasi ada beberapa buku panduan tentang pesantren, penguatan Islam Nusantara, termasuk buku aturan dasar dan aturan rumah tangga (AD/ART) NU. Kita sudah cetak AD/ART hasil Muktamar Jombang. Hasil-hasil itu bisa dikaji dan dibaca, katanya.

PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Sosialisasikan Hasil Muktamar kepada Pengurus Wilayah

Dalam memahamami AD/ART yang begitu tebal, yang jumlahnya beratus-ratus halaman, akan ditemui kesusahan, ketika mensosialisasikan kembali kepada para Pengurus Cabang. Nanti diajarkan bagaimana trik membaca yang mudah dan simpel, ujar alumni Pesantren Denanyar Jombang ini.

Kitab Kuning Digital

Dalam kesempatan ini, Helmy menyampaikan beberapa progam yang baik yang sudah dan sedang dikerjakan PBNU termasuk di dalamnya jaringan yang dimiliki Nahdlatul Ulama. Progam yang sudah dikerjakan diantaranya adalah pelayaran santri bela negara bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia yang diikuti seribu santri.

PBNU sedang menyusun peta persebaran pengurus NU sampai ke tingkat ranting (desa). Sehingga dalam progam persebaran akan lebih mudah untuk menentukan daerah-daerah yang menjadi skala prioritas. Untuk itu, kita perlu mendengar bagaimana kondisi wilayah-wilyah dari para pengurus yang hadir, imbuh Helmy.

Kitab Kuning Digital

Dalam sosialisasi hasil muktamar, turut hadir para pengurus harian PBNU. Di akhir dibagikan juga buku 100 Ulama serta Atlas Walisongo. (Faridur Rohman/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64322/pbnu-sosialisasikan-hasil-muktamar-kepada-pengurus-wilayah

Kitab Kuning Digital

Rabu, 01 Januari 2014

Doa Untuk Penyakit Stroke

Kitab Kuning Digital - Agar terhindar dari penyakit stroke, ada doa yang perlu diamalkan setiap pagi dan sore. Mewabahnya penyakit stroke sudah pernah diramalkan Nabi sebagai bagian dari tanda akhir zaman. Dalam sebuah hadist, Nabi bersabda:

Doa Untuk Penyakit Stroke - Kitab Kuning Digital
Doa Untuk Penyakit Stroke - Kitab Kuning Digital


Doa Untuk Penyakit Stroke

من اقتراب الساعة اذا كثر الفالج وموت الفجأة

Artinya: "Diantara tanda dekatnya kiamat adalah apabila banyak penyakit stroke dan mati mendadak" (HR Ibnu Abd Razzaq)

Apa terjemahan Falij ini? Beberapa syarah hadis menyebutkan:

اﺳﺘﺮﺧﺎء ﻷﺣﺪ ﺷﻘﻲ اﻟﺒﺪﻥ ﻻﻧﺼﺒﺎﺏ ﺧﻠﻂ ﺑﻠﻐﻤﻲ ﺗﻨﺴﺪ ﻣﻨﻪ ﻣﺴﺎﻟﻚ اﻟﺮﻭﺡ

Artinya: "Yaitu kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh karena mengalirnya campuran lemak yang dapat menutup saluran ruh" (Tuhfatul Ahwadzi).

Boleh jadi temuan definisi ini berbeda dengan ilmu medis modern saat ini. Namun intinya terjadi kelumpuhan pada separuh tubuh. Doa agar terhindar dari penyakit tersebut adalah:

ﻋﻦ ﺃﺑﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﻔﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: " ﻣﺎ ﻣﻦ ﻋﺒﺪ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺻﺒﺎﺡ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ، ﻭﻣﺴﺎء ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ: ﺑﺴﻢ اﻟﻠﻪ اﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻣﻊ اﺳﻤﻪ ﺷﻲء ﻓﻲ اﻷﺭﺽ ﻭﻻ ﻓﻲ اﻟﺴﻤﺎء، ﻭﻫﻮ اﻟﺴﻤﻴﻊ اﻟﻌﻠﻴﻢ، ﺛﻼﺙ ﻣﺮاﺕ، ﻓﻴﻀﺮﻩ ﺷﻲء " ﻗﺎﻝ: ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﺎﻥ ﻗﺪ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻃﺮﻑ ﻣﻦ اﻟﻔﺎﻟﺞ، ﻓﺠﻌﻞ اﻟﺮﺟﻞ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺃﺑﺎﻥ: «ﻣﺎ ﺗﻨﻈﺮ ﺇﻟﻲ؟ ﺃﻣﺎ ﺇﻥ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻛﻤﺎ ﻗﺪ ﺣﺪﺛﺘﻚ، ﻭﻟﻜﻨﻲ ﻟﻢ ﺃﻗﻠﻪ ﻳﻮﻣﺌﺬ، ﻟﻴﻤﻀﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻲ ﻗﺪﺭﻩ»

Artinya: Aban bin Utsman berkata bahwa Utsman bin Affan mendengar Nabi bersabda: "Tidak ada seorang hamba yang membaca tiap pagi dan sore hari sebanyak 3x "Bismillah alladzi laa yadlurru ma'a ismihi syaiun fil ardli wa laa fis samaa' wa huwa as-samii'u al-aliim" maka tidak ada yang membahayakan padanya.

Aban ini sakit stroke, lalu orang lain melihatnya dan Aban berkata: "Apa yang kamu lihat? Hadist ini adalah seperti yang aku sampaikan padamu. Namun aku tidak membacanya agar takdir Allah terjadi padaku" (HR Tirmidz)

Dalam riwayat Abu Dawud berbunyi:

من قالها ﺛﻼﺙ ﻣﺮاﺕ، ﻟﻢ ﺗﺼﺒﻪ ﻓﺠﺄﺓ ﺑﻼء، ﺣﺘﻰ ﻳﺼﺒﺢ، ﻭﻣﻦ ﻗﺎﻟﻬﺎ ﺣﻴﻦ ﻳﺼﺒﺢ ﺛﻼﺙ ﻣﺮاﺕ، ﻟﻢ ﺗﺼﺒﻪ ﻓﺠﺄﺓ ﺑﻼء ﺣﺘﻰ ﻳﻤﺴﻲ

"Barang siapa membacanya 3x, maka ia terhindar dari musibah mendadak hingga pagi. Dan barang siapa membacanya ketika pagi 3x maka ia terhindar dari musibah mendadak hingga sore"

اللهم نعوذ بك من الستروك (الفالج)

Ma'ruf Khozin, pengasuh kajian fikih bersama KMNU Fak. Kedokteran Unair Surabaya

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/doa-untuk-penyakit-stroke.html

Sabtu, 07 Desember 2013

Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim

Kitab Kuning Digital - Harapan Aulia, siswi SMPIT Harapan Umat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk ikut bertanding dalam ajang bela diri tingkat provinsi Jawa Timur, kandas lantaran diduga karena ia memakai jilbab.

Siang malam berlatih, harus batal bertanding dalam laga yang digelar di Gelanggang Olahraga (GOR) Magetan, Jawa Timur (Jumat, 23/12/2016). Aulia saat itu diminta panitia untuk melepas jilbab yang dipakainya dan menggantikan dengan penutup kepala yang terbuka lehernya jika ingin berpartisipasi dalam kompetisi terebut. Namun, Aulia menolak karena penutup kepala tersebut dinilai tidak menutup keseluruhan auratnya.

Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim - Kitab Kuning Digital
Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim - Kitab Kuning Digital


Tak Mau Cobot Jilbabnya, Auliya Batal Ikut Pertandingan Karate se Jatim

"Peserta yang lain yang sebelumnya berjilbab, mulai melepas jilbabnya satu per satu. Tapi anak itu (Aulia) perlahan dengan air mata menggenang di pelupuk, ia melangkah meninggalkan arena pertandingan," terang Janan, guru Auliya, sebagaimana dikutip Kitab Kuning Digital dari situs RMOL, Senin (26/12).

Atas insiden tersebut, seorang pengajar di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, bernam,a Maimon Herawati, menulis kritik dan keprihatinan kepada Auliya lewat akun media sosial Facebook. Ini statusnya.

Kitab Kuning Digital

------------ Jumat, 23 Desember 2016, Magetan. Aulia bersiap mengikuti perlombaan Karate se-Jatim di GOR Magetan. Siswi Smpit Harapan Umat Ngawi ini mengenakan sabuk biru. Bersama Aulia, ada beberapa siswa lain yang juga berjilbab.

Menjelang pertandingan, juri memeriksa calon peserta. Saat itu, juri meminta peserta membuka jilbab. Aulia tercekat dan tercenung. Rekan peserta berjilbab lainnya membuka jilbab mereka. Aulia memilih meninggalkan lapangan. "Ya udah. Nggak bisa [bertanding]."

Mengapa? "Kan dalam agama nggak boleh membuka aurat," jelas gadis cilik ini saat saya telpon baru saja.

Kitab Kuning Digital

Ada rasa sedih, itu pasti. Siang malam Aulia berlatih sekuat tenaga. Berangkat latihan pagi pagi sekali, lalu pulang menjelang dzuhur. Istirahat sejenak lalu pergi latihan lagi, dan baru kembali pulang jam setengah sembilan malam. Setiap hari.

Guru Aulia, Pak Ustadz Janan Farisi yang menulis tentang Aulia ini, bercerita kalau pihak official sudah berusaha protes pada juri. Tapi, tidak berhasil. Aulia didiskualifikasi karena tidak mau membuka jilbabnya.

Gadis cilik 13 tahun yang bercita-cita ingin menjadi dokter ini melantunkan doa dalam kesedihannya, semoga Allah ganti [pertandingan gagal karena mempertahankan jilbab ini] dengan yang lebih baik.

Engkaulah petarung sesungguhnya, Nak. Dan engkau telah menjadi juara. ---------------

Kini, Auliya hanya pasrah dan tetap berlatih karate meskipun dia tidak bisa bertanding pada saat itu. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/tak-mau-copot-jilbabnya-auliya-batal-ikut-pertandingan-karate-sejatim.html

Sabtu, 22 Desember 2012

Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah

Kitab Kuning Digital - Sebagian kalangan umat Islam anyaran menyebut bid'ah amalan kaum muslimin ahlus sunnah wal jamaah yang sudah dilakukan ratusan tahun lamanya. Di antara yang dituduh bid'ah itu adalah mengusap kepala anak yatim pada hari ke 10 bulan Muharram (Asyuro) karena haditsnya dianggap palsu. Mengenai hal itu, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan:

ﻭﻗﺪ ﻭﺭﺩﺕ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﻲ اﻟﺼﻮﻡ ﻭاﻟﺘﻮﺳﻌﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﻴﺎﻝ ﻭﺃﻣﺎ ﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻓﻠﻢ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ

Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah - Kitab Kuning Digital
Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah - Kitab Kuning Digital


Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro Bukan Bidah

Hadis-hadis yang menjelaskan anjuran di hari Asyuro adalah puasa dan melapangkan nafkah untuk keluarga. Selain dua hal tersebut, tidak dijelaskan dalam hadist (Nihayat Zain 196).

Namun, Syekh Nawawi menjelaskan bahwa ada 10 amalan lain yang sudah dilakukan oleh ulama kita di hari Asyuro, diantaranya adalah:

ﻭﻣﺴﺢ ﺭﺃﺱ اﻟﻴﺘﻴﻢ

Kitab Kuning Digital

"Mengusap kepala anak yatim."

Kitab Kuning Digital

Apa dalil dan dasar di hari Asyuro memberi sedekah kepada fakir-miskin (termasuk yatim) dan mengusap kepala anak yatim?

Mufti al-Azhar menyampaikan riwayat hadist berikut:

"ﻣﻦ ﻭﺳﻊ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﺎﻟﻪ ﻓﻰ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭاء ﻭﺳﻊ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻨﺔ ﻛﻠﻬﺎ" ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻰ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﻭﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ، ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺒﻴﻬﻘﻰ ﺇﻥ ﺃﺳﺎﻧﻴﺪﻩ ﻛﻠﻬﺎ ﺿﻌﻴﻔﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﺇﺫا ﺿﻢ ﺑﻌﻀﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺾ ﺃﻓﺎﺩ ﻗﻮﺓ

"Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya di hari Asyuro, maka Allah akan melapangkan rezeki baginya selama setahun". (HR ath-Thabrani, al-Baihaqi dan Abu Syekh. Al-Baihaqi berkata bahwa sanadnya keseluruhan adalah dlaif. Namun jika dikumpulkan dapat menguatkan hadis tersebut).

Dari riwayat tersebut Syekh Athiyah berkata:

ﻭﺭﺃﻯ ﺑﻌﺾ اﻟﻤﻔﻜﺮﻳﻦ ﺃﻥ " اﻟﻌﻴﺎﻝ " اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻳﻦ ﻓﻰ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻫﻢ ﻋﻴﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﻭﻫﻢ اﻟﻔﻘﺮاء، ﻭﻫﻨﺎ ﺗﻈﻬﺮ اﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻰ اﻟﺘﻮﺳﻌﺔ ﻣﻊ اﻟﺼﻴﺎﻡ

"Sebagian ulama menafsirkan bahwa al-Iyal dalam hadis di atas adalah orang-orang fakir. Penafsiran ini menjadi selaras dengan hikmah sedekah bersama anjuran puasa" (Fatawa al-Azhar 9/256).

Dan hadist yang menganjurkan mengusap kepala anak yatim adalah:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ «ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﺷﻜﺎ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺴﻮﺓ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻘﺎﻝ: " اﻣﺴﺢ ﺭﺃﺱ اﻟﻴﺘﻴﻢ ﻭﺃﻃﻌﻢ اﻟﻤﺴﻜﻴﻦ». ﺭﻭاﻩ ﺃﺣﻤﺪ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ.

Dari Abu Hurairah bahwa seseorang mengadu kepada Rasulullah perihal hatinya yang keras. Nabi bersabda: "Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin" (HR Ahmad, para perawinya sahih).

Mengamalkan beberapa hadist sehingga dapat dipraktikkan dalam satu amalan adalah diperbolehkan dan bukan bidah. [Kitab Kuning Digital]

Ma'ruf Khozin, pengasuh kajian Aswaja Majalah AULA

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/mengusap-kepala-anak-yatim-di-hari-asyuro-bukan-bidah.html

Rabu, 09 November 2011

Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411

Kitab Kuning Digital - KH. Asad bin Samsul Arifin (1897-1990) memang sangat layak untuk diberi gelar sebagai pahlawan nasional sebagaimana KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Wahid Hasyim. Kemapanan ilmu Kyai Asad dalam memahami turots kitab kuning para ulama salaf benar-benar dikejawantahkan dalam kehidupan, baik kehidupan berspiritual, bersosial dan bernegara.

Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411 - Kitab Kuning Digital
Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411 - Kitab Kuning Digital


Alasan KH Asad Diberi Gelar Pahlawan dan Soal Sikap Ulama NU yang Netral Demo 411

Beliau memahami benar bahwa inti Islam adalah kesalehan sosial dan spiritual yang harus diimplementasikan secara menyeluruh (kaffah), lurus (i’tidal), berimbang (tawazun) namun juga toleran (tasamukh). Bukan hanya kesalehan sosial an-sich, bukan pula kesalehan spiritual an-sich, terlebih hanya sekedar kesalehan penampilan seperti yg nampak dominan di zaman sekarang.

Turots kitab kuning sendiri merupakan hasil kontemplasi intelektual (ijtihad) maupun spiritual para ulama Salaf dari pemahaman dan penjabaran terhadap ajaran Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah Saw yang berpondasi dan berintisari pada terwujudnya moral sosial maupun moral spiritual pada setiap muslim.

Inilah doktrin yang diyakini dan didapatkan KH. Asad Samsul Arifin dari ayah beliau, KH. Samsul Arifin dan para guru beliau sekaliber KH. Cholil Bangkalan, KH. Abdul Majid Itsbat, hingga Syekh Syarif as-Sinqithi, Syekh Bakir al-Jogjawi, Syekh Abbas al-Maliki tatkala beliau belajar di Makkah al-Mukarramah pada zamannya.

Dalam pemahaman dan hasil kontemplasi spiritual maupun intelektual para ulama nusantara sejak zaman walisongo hingga para ulama Aswaja ala manhaj NU, Syariat dan adat atau dalam bahasa lain agama dan tradisi merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan.

Sebab, inti syariat adalah moral sosial dan spiritual, sedangkan adat (tradisi dan budaya) merupakan bingkai dan wasilah (media) agar moral itu mampu dilaksanakan oleh para penganutnya secara baik, menyeluruh dan berimbang. Dalam bahasa qoidah fiqhiyah :

تصرّف الأئمة على الأمة منوط بالمصلحة؛ ومن مصالح الأمة مراعاة العادة، فكانت العادة شريعة محكمة

“Implementasi ijtihad para imam (mujtahid) kepada umat dalam urusan sosial kemasyarakatan itu harus didasarkan pada nilai-nilai kemaslahatan. Dan diantara kemaslahatan umat adalah dengan menjaga tradisi, sehingga tradisi itu harus pertimbangan dalam memberi fatwa hukum”.

Kaidah ini jika dijabarkan dalam bahasa sosial kenegaraan dapat diuraikan sebagai berikut:

Kemampuan umat Islam dalam menjalankan syariat Islam dan moral agama itu adalah tujuan dan misi utama Islam. Manakala kemerdekaan dan kedaulatan negara serta stabilitas dan keamanan nasional adalah adat dan wasilah agar tujuan besar Islam yang diembankan Allah kepada Rasulullah dan para pewaris beliau (ulama) itu dapat disampaikan dan dilaksanakan umat Islam.

Kemaslahatan sosial (al-mashlahah al-ammah) yang bertumpu pada keseimbangan antara syariat dan adat inilah yang melatarbelakangi KH. Wahab Hasbullah membuat satu kaidah bahwa cinta negara adalah menjadi bagian penting dari iman dan implementasi beragama Islam yang harus diyakini dan dijadikan pegangan siapapun mereka yang merasa hidup di Indonesia dan menjadikan bumi nusantara sebagai rumahnya.

Dan perwujudan dari cinta negara itu adalah dengan membela negara dan menjaga stabilitas keamanannya. Hingga lahirnya kaidah yang terkenal di kalangan orang NU:

حب الوطن من الإيمان

Doktrin Islam para ulama di Nusantara sejak wali songo inilah yang disebut dg Islam Nusantara yang diyakini dan diamalkan oleh para ulama NU dari dulu hingga sekarang, pun KH. Asad Samsul Arifin.

Sebab secara logika, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu menjalankan syariat Islam dengan baik dan khusyuk jika negara dalam kondisi perang? Dan bagaimana mungkin umat Islam akan menjalankan ibadah sosial jika tidak ada jaminan stabilitas dan keamanan nasional akibat pertikaian?

Dan perjuangan KH. Asad Syamsul Arifin dalam melawan penjajah mulai dari zaman Belanda hingga zaman Jepang adalah bukti beliau merupakan sosok ulama yang cinta tanah air, pejuang agama, dan pembela negara.

Jihad beliau dalam mempertahankan NKRI juga merupakan bentuk cinta beliau pada Islam dan kasih sayang beliau kepada umat Islam sebagaimana Rasulullah Saw mencontohkan. Itulah makna nasionalisme yang sesungguhnya dari para kyai dan ulama NU sebagai perwujudan dari keimanan.

Manhaj Islam dan pola fikir syariat yang bertumpu pada moral dan kemaslahatan sosial (red; Islam Nusantara) dimana syariat dan adat sama sekali tidak dipertentangkan tapi justru disuguhkan dalam kombinasi apik secara lurus (i’tidal), berimbang (tawazun), toleran (tasamukh) dan menyeluruh (kaffah) seperti yang ditampilkan Allah Yarhamuh KH. Asad Samsul Arifin inilah yang diyakini dan hingga sekarang dijaga serta diamalkan oleh para Kyai-kyai ulama NU.

Sebab, NU yang kepanjangannya adalah Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama) hakikatnya merupakan jam’iyah yang menjadi wadah bagi para Kyai dan para pengikutnya (para santri) untuk berjuang dalam membumikan Islam melalui gerakan moral dan gerakan sosial.

Dan di antara moral sosial itu adalah dengan menjaga keutuhan NKRI, Pancasila sebagai pondasi bernegara dan moral berbangsa serta menjaga kerukunan antar warga negara yang heterogen dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika sebagai kemaslahatan sosial yang harus tetap dijaga umat Islam di Indonesia sampai kapanpun juga.

Para kyai dan pemimpin NU sangat meyakini bahwa membela kedaulatan negara dan menjaga keutuhan bangsa itu sama saja dengan menjaga keutuhan dan kemaslahatan umat Islam. Menjaga umat Islam (dari kemafsadahan perpecahan dan pertikaian) itu artinya dengan menjaga Islam dan agama islam. Dan menjaga tegaknya Islam merupakan bentuk jihad fi sabilillah.

Inilah dasar pemikiran KH. Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 hingga berujung dengan terjadinya peristiwa 10 Nopember 1945 yang diperingati sebagai hari pahlawan. Dan ini pula alasan KH. As’ad Samsul Arifin layak untuk menerima penghargaan sebagai pahlawan nasional di hari ini.

Karena siapapun yang membela negara berarti dia membela umat dan tegaknya agama (jihad fi sabilillah). Dan siapapun yang mati membela agama maka dia layak ditempatkan bersama para syuhada’.

Ini pula alasan dan ijtihad para Kyai NU (PBNU) yang dinakhodai Rais Amm KH. Ma’ruf Amin dan para Kyai sepuh NU lainnya bersikap netral dalam menyikapi “Aksi Bela Islam 411”.

Sebab NU sebagai organisasi sosial penegak NKRI sangat berkepentingan untuk menjaga keutuhan Negara dan kerukunan antar warga negara yang berbeda suku dan agama, demi terjaganya umat Islam dan tegaknya agama di bumi nusantara.

Sehingga harus dibedakan mana kemaslahatan negara yang lebih besar yang harus dijaga serta mana kemaslahatan umatnya Islam yang menjadi bagiannya. Sebab arogansi kelompok hanya akan melahirkan pertikaian dan perlawanan dari kelompok lainnya.

Harus dibedakan pula mana ranah hukum, ranah politik dan ranah agama agar tidak terjadi kekacauan sosial yang berefek buruk pada kehidupan berbangsa. Bahkan bisa jadi nama baik Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi moral akhirnya tercoreng oleh ulah orang orang yang tak bermoral dengan mengatas-namakan agama.

Namun manhaj (metode berfikir) seperti ini tentu berbeda dengan pola fikir kaum literalis dimana Islam difahami terlebih dahulu secara dhohiriyah dalam simbol-simbol agama, manaka moralitas agama dan kemaslahatan sosial seakan hanya dijadikan sebagai objek penyerta.

Maklum, jargon-jargon agama simbolistik seperti ini kebanyakan lahir dan terinspirasi bukan dari bumi nusantara, tapi dari luar khususnya dari tanah Arab yang dalam sejarah sejak pra-Islam dikenal sebagai bangsa yang memiliki ta’asshubiyah (fanatisme) kesukuan yang kuat serta persaingan dominasi politik yang tak berkesudahan.

Wajarlah jika mereka lebih suka membela simbol-simbol agama. Bahkan membela simbol agama sudah dianggap sebagai bentuk pembelaan terhadap Islam dan membela Tuhan. Naifnya, mereka melakukan itu justru merusak sendi-sendi moral agama dan pilar sosial yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita.

Dalam bahasa tekhnis kekinian, wajarlah jika mereka berpola fikir simple:

Membela al-Quran = membela Islam

Membela Islam = membela Tuhan

Wajar pula jika di media sosial sekarang tengah ramai fitnah berseliweran akibat munculnya anggapan bahwa siapapun yang tidak membela Al-Quran berarti tidak membela Islam. Dan siapapun mereka yang dianggap tidak membela Islam patut untuk dihina, di-bully dan dinistakan karena mereka adalah para musuh Tuhan.

Selamat hari pahlawan, kawan!

Daripada bertikai toh perbedaan sebenarnya merupakan rahmat, mari kita meneladani KH. As’ad Samsul Arifin yang telah mengajari kita moral beragama, moral berspiritual, moral bersosial dan moral bernegara dengan sebaik-baiknya.

Kenang jasa besar beliau dengan menjaga keutuhan bangsa dan kedaulatan negara demi tegaknya Indonesia yang bermartabat dan agama Islam yang terhormat di mata dunia; Al Islam ya’lu wala yu’la alaih. Wallahu a'lam bis showab. [Kitab Kuning Digital]

Gus Yazid, menantu KH Idris, Pasuruan

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/alasan-kh-asad-diberi-gelar-pahlawan-nasional.html

Selasa, 13 September 2011

Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU

Mataram, Kitab Kuning Digital. Terkait rencana kembalinya PMII menjadi badan otonom NU, Lalu Aksar Anshori, SP salah satu mantan Ketua Umum PC PMII kota Mataram (1993-1994) yang kini duduk menjadi ketua KPU NTB angkat bicara.

"Sebaiknya PMII tidak menjadi banom NU, sebaiknya tetap independen, Nahdlatul Ulama sendiri belum tentu memahami karakteristik dan tipelogi gerakan mahasiswa pada setiap perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia," kata Bang Aksar sapan akrabnya kepada Kitab Kuning Digital, Jumat pagi (03/07)

Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Alumni PMII NTB Usulkan KMNU jadi Banom Mahasiswa NU

Apabila NU mau membuat banom baru di tingkat kemahasiswaan, menurutnya, maka lebih tepat NU itu mengesahkan KMNU sebagai banom NU, dan KMNU itu sendiri dinilai efektif bergerak di seluruh kampus guna menyebarkan faham ke-NU-an, yakinnya.

Kitab Kuning Digital

"NU sebenarnya tinggal memberikan legitimasi (mengesahkan) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) untuk dijadikan banom yang bergerak di setiap kampus yang ada," sarannya

Dia pun mencontohkan kembali, KMNU yang saat ini ada di Perguruan Tinggi Luar Negeri, seperti yang ada di Mesir, London, Amerika, Maroko dst. Sementara PMII sendiri yang selama ini sudah berkembang dan tidak punya masalah dengan NU sebaiknya dibiarkan saja tidak menjadi banom, sebutnya.

Menurutnya, antara mahasiswa yang berada di perguruan tinggi agama dan umum, yang ada di wilayah Jawa dan luar pulau Jawa, masing-masing mereka tentu memiliki tipologi dan karakteristik yang berbeda, dan NU sendiri belum tentu memahami kondisi tersebut, kata Mantan Ketua PW Ansor ini memperkuat alasannya agar PMII tidak menjadi banom lagi

Kitab Kuning Digital

Aksar sendiri menilai sikap demikian bisa berakibat mengerdilkan kader-kader PMII yang ada di setiap perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi kampus umum, katanya.

Dia pun mencontohkan bahwa ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah selama ini belum mampu membangun gerakan banom kemahasiswaan pada setiap kampus yang ada.

"Belum ada ormas besar di Indonesia yang mampu membangun gerakan banom kemahasiswaannya di sejumlah kampus yang ada, IMM sebagai banom kemahasiswaan milik Muhammadiyah tidak berkembang di kampus-kampus. Bahkan sekalipun di kampus milik Muhammadiyah itu sendiri," paparnya.

"Saya cinta terhadap PMII, saya pernah dibesarkan PMII, saya pernah menjadi Ketua Umum PC PMII Mataram pada Tahun 1993-1994 lalu. Bahkan bukan saja pernah Menjadi Ketua Umum di PMII, saya juga pernah menjadi Ketua IPNU NTB dan Ketua PW GP Ansor NTB," jelasnya.

Kendati demikian, Aksar menyerahkan kepada kader PMII "Keputusan terakhir ada di sahabat pengurus dan PB PMII," tandasnya.

Tapi ia pun menegaskan kembali bahwa PB PMII pun tidak bisa mewakili aspirasi di bawah kecuali keputusannya (masuk atau tidak jadi banom) diambil melalu Kongres.

Begitupun IKA PMII yang wacananya lebih cendrung PMII menjadi banom. Ia menegaskan IKA PMII juga tidak bisa menjadi acuan final karena IKA sendiri belum memiliki aturan tentang penetapan mekanisme ke mana arah PMII pada muktmar mendatang. (Hadi/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60650/alumni-pmii-ntb-usulkan-kmnu-jadi-banom-mahasiswa-nu

Kitab Kuning Digital

Kamis, 07 Juli 2011

Alasan Kenegaraan, Munas NU Diundur November

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, forum organisasi tertinggi setelah muktamar, yang rencananya diselenggarakan pada 30-31 Agustus 2014 diundur menjadi 1-2 November 2014 bertempat di pesantren Al Hikam Depok yang diasuh oleh Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi.

Demikian disampaikan oleh Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri seusai rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah di lantai 5 gedung PBNU, Rabu (27/8). Hadir pula dalam rapat tersebut ketua umum KH Said Aqil Siroj, Waketum H Asad Said Ali, Katib Aam KH Malik Madany serta jajaran syuriyah dan tanfidziyah lainnya.

Alasan Kenegaraan, Munas NU Diundur November (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan Kenegaraan, Munas NU Diundur November (Sumber Gambar : Nu Online)


Alasan Kenegaraan, Munas NU Diundur November

Wakil sekjen PBNU Imdadun Rahmat memberikan penjelasan tambahan bahwa penundaan ini dilakukan karena alasan kenegaraan. Dalam munas dan konbes NU, selalu dihasilkan rekomendasi yang diberikan kepada pemerintah dan berharap hasil munas dapat diberikan pada pemerintahan baru.

Saat ini, pemerintahan SBY sudah menjelang purna tugas. PBNU berharap rekomendasi disampaikan kepada pihak yang tepat, yaitu pemerintahan baru yang mampu menjalankan masukan tersebut, katanya.

Kitab Kuning Digital

Jokowi yang terpilih sebagai presiden Indonesia ke-7 akan dilantik pada 20 Oktober 2014.

Mengenai materi munas dan konbes, tidak ada perubahan. Beberapa persoalan krusial yang dibahas diantaranya adalah model pemilihan ahlul halli wal aqdi (pemilihan tidak langsung), khilafah Islamiyah perspektif NU dan kode etik penyiaran agama Islam. (mukafi niam)

Kitab Kuning Digital

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54073/alasan-kenegaraan-munas-nu-diundur-november

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock