Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2015

Hobi Komputer Antarkan Santri Malang Dapat Penghargaan

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Hobi mengutak-atik komputer dan senang dunia teknologi informasi, mengantarkan seorang santri Malang mendapat penghargaan (award) dari Bank Syariah Mandiri (BSM). Alumnus UIN Malang yang pernah mondok di Mahad Aly Sunan Ampel Malang bernama Amiridzal Jundi ini, terpilih sebagai juara I kategori usaha kreatif dalam ajang BSM Santripreneur Award 2015.

Dewan juri yang terdiri atas DR KH Marsudi Syuhud (PBNU), Prof Ahmad Mubarok (Konsorsium Pesantren), H Sweet Luvianto (Indonesia Islamic Business Forum; IIBF), Agus Dwi Handaya (BSM), Ahmad Sugeng Utomo (Rumah Entrepreneur Indonesia), dan Noor Wahyudi (Konsultan Bisnis) menetapkan santri kelahiran Surabaya, 11 Nopember 1988 ini sebagai pemenang dengan total nilai 301.

Hobi Komputer Antarkan Santri Malang Dapat Penghargaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Komputer Antarkan Santri Malang Dapat Penghargaan (Sumber Gambar : Nu Online)


Hobi Komputer Antarkan Santri Malang Dapat Penghargaan

Melalui perusahaan bernama Aksa Media, Ridzal menjual jasa pembuatan website dan sistem komputer. Dia mulai usaha pada Maret 2013 saat sedang mengalami kebangkrutan dari usaha bisnis perdagangan.

Dikatakannya, keuangan sedang minus karena menanggung utang, Ridzal mencoba memanfaatkan ilmunya di bidang software komputer. Dia pun mencoba membuat program akuntansi untuk perusahaan yang menurutnya canggih. Karena bos di kantor pusat bisa langsung memantau kinerja kantor cabang melalui jaringan internet yang diintegrasikan dalam program buatannya.

Kitab Kuning Digital

"Alhamdulillah, ide saya diterima pasar, saya mendapat pesanan dari perusahaan-perusahaan," tuturnya di hadapan dewan juri di Hotel Acacia Jakarta, Rabu (30/12/2015) sore. Aksa Media yang dia dirikan, lantas banyak mendapat pesanan dari promosi gethok tular para kliennya. Berawal di Surabaya, tempat kelahirannya. Lalu berkembang hingga seluruh Jawa Timur di tahun kedua merintis usaha. Yakni tahun 2014. Dan di tahun 2015 sudah mendapat order dari banyak perusahaan, lembaga pendidikan maupun instansi pemerintah dari beberapa kota di Indonesia.

"Mayoritas orang memesan ke kami karena referensi dari pemesan sebelumnya. Promosi paling efektif memang kepercayaan pelanggan," jelasnya.

Kitab Kuning Digital

Bersama delapan karyawannya, Ridzal menjalankan bisnis yang dia sebut "one stop IT solution" di Ruko Icon 21 nomor R-1 Jl. Ir Soekarno Surabaya. Kreativitas produk dan layanan yang dia sampaikan berhasil mengalahkan dua kandidat juara lainnya. Yaitu pemilik Orion Studio Intan Rohimah (santri Bandung Alumni ITB) yang memproduksi mainan edukatif Kartu Hijaiyah 4 Dimensi, dan produsen kaos anak edukatif "Brand Lebah" Fikannida Rizki Fitriana (santri Brabo, Grobogan yang tinggal di Bekasi).

Kini Ridzal sudah mengelola bisnis dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Karena bisnis jasa, maka keuntungannya sangat besar. Misal software seharga Rp 10 juta, dia bisa meraup laba Rp 8 juta, karena pengeluaran operasional tak sampai Rp 2 juta.

Atas kemenangannya ini, Ridzal akan mendapat hadiah uang Rp 50 juta dari BSM yang akan diberikan dalam even Awarding di Hotel Borobudur Jakarta, pada Kamis (31/12/2015).

Anggota juri DR Marsudi Syuhud memberi apresiasi penuh award tersebut. Dia minta award untuk santri pengusaha itu diadakan setiap tahun. Menurutnya, santri perlu terus didorong untuk menjadi pengusaha dan membawa manfaat besar pada perekonomian bangsa.

BSM Santripreneur Award 2015 hanya boleh diikuti santri yang telah memiliki usaha minimal berjalan satu tahun dan usia si santri maksimal 35 tahun. Untuk mendaftar harus melampirkan surat rekomendasi dari kyai yangmenyatakan bahwa si pendaftar benar-benar santrinya. Lengkap dengan cap pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam pemberi rekomendasi. (ichwan/abdullah alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64670/hobi-komputer-antarkan-santri-malang-dapat-penghargaan

Kamis, 27 Oktober 2011

Dokter Muda Ini Punya Cara Islami Sembuhkan Pasien

Kitab Kuning Digital - Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah. Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru. Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.

“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah. Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat. Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat. Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”

Dokter Muda Ini Punya Cara Islami Sembuhkan Pasien - Kitab Kuning Digital
Dokter Muda Ini Punya Cara Islami Sembuhkan Pasien - Kitab Kuning Digital


Dokter Muda Ini Punya Cara Islami Sembuhkan Pasien

Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah. Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.

Kitab Kuning Digital

“Bapak sebelum kesini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"

Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan. Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama:

Kitab Kuning Digital

“Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.

Ajaib! banyak pasien yang sembuh.

Ilustrasi Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.

Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tersebut untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat.

Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh? Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah. Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati. Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.

Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi. Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan. Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.

Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.

Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut. Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.

Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”. Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan.

Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya. “Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”

Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.

Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya. Kitab Kuning Digital

Keterangan: Dr Agus Thosin, SpJP praktek di RSAI Bandung

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/dokter-muda-ini-punya-cara-islami-sembuhkan-pasien.html

Minggu, 23 Oktober 2011

Bantahan Kepada Yang Mengkafirkan Orang Tua Nabi

Kitab Kuning Digital - Orang-orang yang katanya paling beriman dan paling mengikuti sunnah, memang tidak bisa menjaga lidah dari ucapan mengkafirkan orang sembarangan tanpa pilih kasih, bahkan mudah saja mengatakan ayah ibu Rasulullah adalah kafir/musyrik dg dasar Hadits riwayat Muslim:

حدثنا يحيى بن أيوب ومحمد بن عبادواللفظ ليحيى قالا حدثنامروان بنمعاوية عن يزيد يعني بن كيسان عن أبي حازم عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم استأذنت ربي أن أستغفر لأمي فلم يأذن لي واستأذنته أن أزور قبرها فأذنلي

Bantahan Kepada Yang Mengkafirkan Orang Tua Nabi - Kitab Kuning Digital
Bantahan Kepada Yang Mengkafirkan Orang Tua Nabi - Kitab Kuning Digital


Bantahan Kepada Yang Mengkafirkan Orang Tua Nabi

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun untuk ibuku maka Dia tak mengizinkanku, kemudian aku minta izin untuk menziarahi kuburnya maka Dia mengizinkan aku. (HR. Muslim 976).

Kitab Kuning Digital

Mendengar hadits ini, maka kita jangan tergesa-gesa megatakan bahwa ibu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kafir. Wal ‘iyadzubillah.

Harus kita teliti dulu pendapat para ulama tentang pemahaman hadits itu sebenarnya bagaimana.

Mari kita dengar apa kata Imam Suyuthi, penutup amirul mukminin fil hadits:

Kitab Kuning Digital

"Adapun hadits tersebut maka tidak mesti diambil daripadanya hukum kafir berdasarkan dalil bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga ketika di awal-awal Islam dilarang untuk menyolatkan dan mengistighfarkan orang mukmin yang ada hutangnya tapi belum dilunaskan karena istighfar Nabi shallallahu alaihi wa sallam akan dijawab Allah dengan segera, maka siapa yang di istighfarkan Rasul di belakang doanya akan sampailah kepada derajat yang mulia di surga, sementara orang yang berhutang itu tertahan pada maqomnya sampai dilunaskan hutangnya sebagaimana yang ada dalam hadits (jiwa setiap mukmin terkatung dengan hutangnya sampai hutangnya itu dilunaskan).

Maka seperti itu pulalah ibu Nabi alaiha salam bersamaan dengan posisinya sebagi seorang wanita yang tak pernah menyembah berhala, maka beliau pun tertahan dari surga di dalam barzakh karena ada sesuatu yang lain diluar kufur." (Lihat At-Ta’zhim wal Minnah Suyuthi, hlm. 29).

Tidak-kah mereka pertimbangkan ayat Allah: “sesungguhnya orang2 musyrik adalah najis” (QS. At-Taubah: 28).

Kata 'kafir' itu tentu sangat menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin seorang Rasulullah yang suci dilahirkan dari pada orang-orang yang beraqidahkan najis atau dilahirkan dari daging dan darah yang najis. La haulun wa la quwwatun illa billah.

Lihatlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

;إن الله اصطفاني من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم

Artinya: Sesungguhnya Allah mensucikan daripada anak-anak Ibrahim: Ismail, mensucikan daripada anak-anak Ismail: Kinanah, mensucikan daripada Kinanah Quraisy, dan mensucikan daripada Quraisy: Bani Hasyim, dan Allah mensucikan aku daripada BaniHasyim. (Hadits riwayat Muslim)

Cobalah pikir pakai otak, jangan pakai dengkul, apakah mungkin Allah mensucikan mereka, dari generasi ke generasi, sementara mereka adalah orang-orang kafir? Dan kemudian apakah kalian lupa dengan firman Allah:

إِنَّمَا يريدُ اللَّه لِيُذْهِب عَنْكُم الرِّجْس أَهْلَ الْبَيْت وَيطَهِّرَكُم تَطْهِيراً

Artinya: "Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan najis dari ahlul baitmu dan mensucikan mu dengan sesuci-sucinya."

Inilah kesalahan para pembenci keturunan Rasulullah. Mereka tidak pernah melihat dalil-dalil lain yang lebih kuat dan lebih qoth’i. Cara mereka sangat tekstual dalam memahami nash ditambah pula tak mau melihat dan menggabungkan dalil-dalil lain yang ada.

Maka hancurlah istimbath mereka dalam segala bidang, baik fiqih, tauhid maupun tasawuf. Inilah yang menjadi sebab kenapa mereka mengharamkan isbal, pembangunan kubur, pemahaman tentang makna bid’ah dan banyak lagi.

Dalam sebuah kisah Imam Al-Qodhi Abu Bakar ibnu Al-Arabi salah seorang ulama muhaqqiqin besar Malikiyah, pernah ditanya tentang adanya orang yang mengatakan orang tua Nabi shallallahu alaihi wa sallam di neraka.

Apa jawab Ibnu Al-Arobi? Beliau mengatakan: "TerlaknatLah orangyang mengatakan orang tua Nabi di neraka karena Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُاللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْعَذَابًا مُهِينًا .

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasulul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat dan Allah menyiapkan kepada mereka adzab yang hina". (QS. Al-Ahzab 57).

Yang kedua, mereka yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka berdalil dari hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

Artinya: Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah "Ya, Rasulullah, di mana keberadaan ayahku?" Rasulullah menjawab: "dia di neraka". Maka, ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata, "sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka".

Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perowi hadits di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal, banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh:

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ”

Artinya: Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW "dimana ayahku? Rasulullah SAW menjawab: "dia di neraka", si A’robi pun bertanya kembali "di mana Ayahmu?", Rasulullah pun menjawab, "sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka".

Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka. Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.

Dalil mereka yang lain adalah hadits yang berbunyi:

لَيْتَ شِعْرِي مَا فَعَلَ أَبَوَايَ

Artinya: Demi Allah, bagaimana keadaan orang tuaku?

Kemudian turun ayat yang berbunyi:

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيْم }

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Jika mau meneliti, ayat itu tidak tepat untuk kedua orang tua Nabi karena ayat sebelum dan sesudahnya berkaitan dengan ahlul kitab, yaitu:

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Artinya: Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (Q.S. al-Baqarah: 40), sampai ayat 129:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Semua ayat-ayat itu menceritakan ahli kitab (Yahudi). Bantahan di atas juga diperkuat dengan firman Allah SWT:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

Artinya: “Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Kedua orang tua Nabi wafat pada masa fatroh (kekosongan dari seorang Nabi/Rosul). Berarti keduanya dinyatakan selamat.

Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim. Dengan dasar Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ ayat 218-219, yang berbunyi:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

Artinya: Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

Sebagian ulama menafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya.

Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrahim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhnya yang juga pamannya.

Hadits Nabi SAW bersabda:

قال رسول الله (( لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات ))

Artinya: Aku (Muhammad SAW) selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula.

Jelas sekali Rasulullah SAW menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. (QS. At-Taubah: 28).

Nama ayah Nabi Abdullah, cukup membuktikan bahwa beliau beriman kepada Allah bukan penyembah berhala. Jika anda ingin mengetahui lebih banyak, maka bacalah kitab ‘Masaliku al-Hunafa fi Waalidai al-Musthafa” karangan Imam Suyuthi.

Syubhat yang ditujukan kaum wahabi yang pelaknat orangtua Nabi kepada kaum Ahlussunnah adalah tentang apakah kedua orang tua Rasulullah muslim atau tidak adalah tiadanya dasar hadits yang dapat dipertanggungjawabkan, termasuk salah satunya adalah hadits ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: حَجَّ بِنَا رَسُوْلُ اللهِ حَجَّةَ الْوَدَاعِ فَمَرَّ بِي عَلَى عَقَبَةِ الْحَجُوْنِ وَهُوَ بَاكٍ حَزِيْنٌ مُغْتَمٌّ فَنَزَلَ فَمَكَثَ عَنِّي طَوِيْلاً ثُمَّ عَادَ إِلَيَّ وَهُوَ فَرِحٌ فَتَبَسَّمَ فَقُلْتُ لَهُ فَقَالَ: ذَهَبْتُ إِلَى قَبْرِ أُمِّي فَسَأَلْتًُ اللهَ أَنْ يُحْيِيْهَا فَآمَنَتْ بِي وَرَدَّهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

Artinya: "Dari A’isyah rda. ia berkata: ‘Rasulullah bersama-sama kami melaksanakan haji wada’. Saat lewat di Aqabah Hajun bersamaku beliau menangis sedih dan susah, kemudian beliau turun dan tinggal beberapa lama, kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gambira dan tersenyum, lalu aku katakan kepadanya dan beliau menjawab: ‘Aku pergi ke makam ibuku, lalu aku minta supaya Allah menghidupkannya kemudian ibuku beriman kepadaku dan Allah mengembalikannya lagi."

Hadits ini adalah dha‘if menurut Imam as-Suyuthi serta diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam an-Nasikh wa al-Mansukh, meskipun oleh Ibnul Jauzi dikatakan maudhu’.

Al-Ajhuri mengatakan bahwa yang benar, hadits masyhur tentang dihidupkannya kembali kedua orang tua Rasulallah itu adalah termasuk hadits dha‘if, dan bukan maudhu’ ataupun shahih, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Syahin, Ibnu Asakir, as-Suhaili dan Ibnu Nashir.

Al-Habib Abdullah Ba-Alawi dalam Is’ad ar-Rafiq syarah kitab Sullam at-Taufiq, mengatakan, "yang haq (pendapat yang benar untuk diikuti) sebagaimana yang di tahqiq-kan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Hafizh as-Suyuthi dan lain-lain bahwa ayahanda (atau ayah leluhur) Rasulullah tidak ada yang berstatus kafir. Hal itu adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap kedudukan nubuwwah. Begitu juga dengan ibunda (atau ibu leluhur) beliau, seperti halnya leluhur Rasulullah yang semuanya tidak ada yang kafir begitu juga leluhur para Nabi-Nabi lain. Adapun Azar yang di kenal sebagai ayahanda Nabi Ibrahim, sebenarnya adalah bukan ayah, tapi paman sebagaimana pendapat para ulama kita".

Menurut al-Bajuri dan Hasan al-Adawi hadits riwayat Aisyah di atas shahih menurut ahli hakikat, sebagaimana tertuang dalam syair-syair mereka:

أَيْقَنْتُ أَنَّ أَبَا النَّبِيِّ وَأُمَّهُ حَتَّى لَهُ شَهِدَا بِصِدْقِ رِسَالَةٍ هَذَا اْلحَدِيْثُ وَمَنْ يَقُوْلُ بِضُعْفِهِ أَحْيَاهُمَا الرَّبُّ الْكَرِيْمُ اْلبَارِي صِدْقٍ فَتِلْكَ كَرَامَةُ الْمُخْتَارِ فَهُوَ الضَّعِيْفُ عَنِ الْحَقِيْقَةِ عَارِي

Artinya: Aku meyakini bahwa ayah dan ibu Nabi dihidupkan kembali oleh Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Mulia. Hingga mereka berdua bersyahadat akan kebenaran risalah yang benar. Maka itu adalah suatu kehormatan bagi Rasulullah. Hadits tentang ini dan yang mengatakan dha‘if adalah orang yang dha‘if sendiri dan tidak tahu hakikat sebenarnya.

Asy-Sya'rani mengatakan, bahwa Imam as-Suyuthi banyak menulis kitab yang berkenaan dengan status orang tua Nabi yang selamat dari siksa neraka, termasuk satu risalah yang ditulis dalam Al-Hawi lil Fatawi. Dan di antara yang menyutujui hadits tersebut (tidak menyebut maudhu’ seperti penilaian al-Hafizh Ibnul Jauzi) adalah al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu ‘Asakir, Ibnu Syahin, as-Suhaili, al-Qurthubi, ath-Thabari, Ibnu Munayyir, Ibnu Nashiruddin, Ibnu Sayyid an-Nas dan ash-Shafadi.

Kemudian akhir dari kesimpulan pendapat-pendapat ulama dalam lingkungan Ahlussunah adalah, orang tua Nabi Muhammad termasuk orang-orang yang selamat dari neraka, dengan alasan, 1). Hadits di atas dapat diterima, karena meskipun dha‘if secara ilmu riwayat atau musthalah, tapi shahih secara kasyf. Adapun penilaian maudhu’ Ibnul Jauzi tidak dibenarkan ulama. 2). Orangtua Nabi termasuk ahli fatrah (hidup masa kekosongan utusan yang menyampaikan risalah).

Maka, jagalah lidah Anda jika tidak ingin disebut menyakiti Rasulullah. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/bantahan-kepada-yang-mengkafirkan-orang.html

Rabu, 16 Maret 2011

Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya

Kitab Kuning Digital - Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah) sekarang itu banyak yang kecampuran paham wahabi. Ada yang menyebutnya kecampuran syiah, liberal dan juga radikal. Namun, kali ini Kitab Kuning Digital mengkhususkan pembahasan pada yang wahabi saja mengingat akhir-akhir ini, banyak yang bertanya.

Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya - Kitab Kuning Digital
Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya - Kitab Kuning Digital


Asrabi (Aswaja Rasa Wahabi), Ini Dia Cirinya

Selain itu, kenyataan bahwa yang selama ini sering menyerang ulama aswaja, khususnya Nahdlatul Ulama, adalah golongan wahabi ini. Mereka memiliki banyak karya, media, dan jaringan yang mudah dibaca serta memang secara terang-terangan menyerang langsung kepada NU. Jadi, cara mendeteksi ajaran dan perilakunya sangat mudah dibanding syiah dan liberal. (Wahabi Indonesia Lebih Galak Daripada Wahabi Arab)

Gerakan syiah cenderung politis. Yang dikutuk oleh wahabi kepada syiah juga hal-hal yang, jika kita mau meneliti, selalu berurusan dengan politik internasional. Kalau wahabi, mereka selalu menyatakan sebagai gerakan pemurnian tauhid, walaupun, jika mau menganalisis, itu hanya pintu masuk negara asal wahabi (Arab Saudi dkk) untuk menguasai generasi muda agar kelak bisa dimanfaatkan untuk mendominasi kepentingan Saudi di pemerintahan.

Beda dengan syiah. Dananya lebih minim dibanding wahabi, yang memang harus melakukan kaderisasi jangka panjang. Mereka harus menghancurkan umat Islam berhaluan aswaja agar mudah bergerak secara politis. Paling tidak, bos-bos petro dolar wahabi harus bisa memecah belah aswaja hingga antar mereka saling hujat dan lebur sendiri.

Inilah yang kemudian disebut Kitab Kuning Digital sebagai Aswaja Rasa Wahabi (Asrabi), yakni, secara praktik keagamaan mereka sama seperti nahdliyyin, tapi lakunya tidak beradab. Ciri paling menonjol adalah merasa paling benar, lalu yang lain salah, disebut tidak mengerti agama, tidak bisa baca kitab kuning, atau paling parah justru menghina dan menistakan.

Bisa jadi ia alim secara syariat, paham dalil-dalil amaliyah aswaja, ditakuti di kalangan wahabi, syiah maupun liberal. Tapi lakunya, innalillah, mudah mengafirkan dan mengerdilkan ulama atau tokoh aswaja lain jika tidak setuju atas pendapat dan ucapannya.

Pemikiran agamanya moderat seperti aswaja, tapi akhlaknya melaknat seperti wahabi. Ia tidak mau berdebat kecuali harus diamini. Dalam kultur santri, ia harus diterima kala memberikan keterangan (qobiltu), walaupun cara yang digunakan adalah dengan merendahkan kiai atau ulama yang lebih kredibel tingkat spiritual dan kezuhudannya.

Di NU, ukuran derajat keulamaan bukan dari ilmunya saja, lebih utama adalah akhlaq, adab dan tatakrama kepada yang lebih sepuh. Kalau sesama santri masih bengkerengan, wajar. Karena faktor adab yang tidak dijaga inilah, Asrabi sering mendapatkan serangan balik anak-anak muda NU. Dimanapun dan kapan pun. Kitab Kuning Digital adalah bagian dari situs yang tugas utamanya adalah menjaga ulama dan NKRI dari Asrabi ini. [Kitab Kuning Digital]

Contoh: Ulama Dukung Ahok Adalah Ulama Babi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/asrabi-aswaja-rasa-wahabi-ini-dia-cirinya.html

Rabu, 12 Januari 2011

Tiga Kunci Konsep Kebudayaan Gus Dur

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Secara jasad, Gus Dur telah meninggalkan kita semua. Namun, pemikiran-pemikirannya masih hidup, dan terus diperjuangkan oleh orang-orang yang mencintainnya. Di antara warisan pemikiran Gus Dur, ialah mengenai Kebudayaan.

Zastrouw Al-Ngatawi sebagai orang yang punya perhatian pada kebudayaan dan dekat dengan Gus Dur memaparkan tentang konsep kebudayaan Gus Dur di hadapan peserta Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) di Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (1/4).

Tiga Kunci Konsep Kebudayaan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Kunci Konsep Kebudayaan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


Tiga Kunci Konsep Kebudayaan Gus Dur

Menurutnya, ada 3 kata kunci kebudayaan yang dirumuskan Gus Dur, yaitu kebudayaan itu terkait dengan manusia, terkait dengan kehidupan, dan terkait dengan lingkungan.

Pertama, kebudayaan terkait dengan manusia, ia mengatakan, bahwa yang membedakan manusia dengan hewan, yang membedaakan manusia dengan malaikat, yang membedakan manusia dengan jin dan lain sebagainya itu adalah kebudayaan.

Kitab Kuning Digital

Anda tidak disebut sebagai manusia kalau anda tidak berbudaya. Anda bisa turun menjadi hewan karena hewan itu ya makan, beranak, kentut, tapi dia ga berbudaya, manusia kan ya makan, kentut, kata Zastrouw.

Kitab Kuning Digital

Kedua, kebudayaan terkait dengan kehidupan, menurutnya, budaya itu berlaku, berjalan , dan terbentuk selama orang masih hidup. Jadi kalau orang sudah meninggal, maka sudah tidak butuh kebudayaan, tidak bisa menciptakan kebudayaan, dan sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kebudayaan.

Maka kebudaayan itu dalam kacamata Gus Dur harus terkait dengan hidup, jelas mantan Ketua Lesbumi PBNU ini.

Ketiga, kebudayaan terkait dengan alam dan lingkungan. Jadi kalau anda tidak berinteraksi dengan alam, ya anda tidak berkebudayaan, ujarnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76638/tiga-kunci-konsep-kebudayaan-gus-dur

Kitab Kuning Digital

Rabu, 02 Juni 2010

Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak

Kitab Kuning Digital - Bahasa Arab adalah satu di antara bahasa dunia yang kaya makna dan kosakata. Istilah id (hari perayaan) dari bentuk kedua kata kerja bahasa Arab: ’ayyada, artinya merayakan, mengamati sebuah perayaan.

Perkataan fitr dari kata kerja fatara, bermakna memisahkan, membatalkan puasa dengan makan dan minum pada 1 Syawal setelah berpuasa selama satu bulan (29 atau 30 hari), disebut juga iftar, dan juga bermakna menciptakan. Dari akar kata yang sama kita menemukan al-Fatir, yang berarti Maha Pencipta dari tiada kepada ada.

Jadi ’id al-fitri berarti ”merayakan hari 1 Syawal dengan berbuka atau menghentikan puasa”. Puasa diharamkan pada hari itu.

Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak - Kitab Kuning Digital
Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak - Kitab Kuning Digital


Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak

Ada juga orang mengartikan ’id dengan kembali. ’Id al-fitri diterjemahkan ”kembali pada asal penciptaan manusia yang bersih, suci, tanpa noda, tanpa dosa”, seperti bayi yang baru lahir setelah dibasuh selama Ramadhan.

Namun, ada kerancuan. Dalam bahasa Arab, perkataan kembali adalah ’aud atau ’audah, berasal dari bentuk pertama kata kerja ’ada, bukan ’id. Saya lebih mengartikan ’id al-fitri atau ’idul fitri sebagai perayaan berbuka puasa, bagian sikap bersyukur manusia beriman, bukan ”kembali suci.”

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Perayaan 1 Syawal adalah hari kegembiraan, dalam batas yang wajar, bagi mereka yang berpuasa Ramadhan, karena iman semata. Di akhir Ramadhan, umat Islam, termasuk bayi, diwajibkan membayarkan sadhaqat al-fitri (zakat fitrah) sebagai simbol spiritual untuk berbagi dengan sektor masyarakat yang serba kekurangan.

Pada waktu yang sama, juga dilakukan pembayaran zakat harta kekayaan yang disalurkan pada mereka yang berhak, seperti fakir, miskin, panitia zakat, mereka yang terlilit utang, dan untuk jalan Allah.

Pelaksanaan zakat sampai kini belum optimal di seluruh dunia sehingga jurang antara si kaya dan si miskin masih lebar. Sebuah kenyataan yang amat pedih dan menyakitkan. Jumlah zakat yang ditunaikan masih setengah lumpuh berhadapan dengan kesenjangan sosial ekonomi.

Kembali pada soal penebusan dosa, memang ada sumber hadis yang menyebutkan, ”Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan berdasarkan iman dan semata mengharapkan keridaan Allah, apa yang terdahulu dari dosanya bakal diampuni.” Mungkin didasarkan pada hadis ini, lalu disimpulkan bahwa orang yang benar-benar berpuasa selama Ramadhan akan menjadi manusia suci kembali.

Sekali lagi perkataan ’id tidak berarti kembali, seperti yang pernah saya tulis tahun 2008, tetapi hari perayaan! Jika tak hati-hati memahami hadis ini, orang yang lemah iman akan mudah berbuat dosa untuk ditebus setiap bulan Ramadhan dengan menjalankan puasa. Dalam Al Quran tidak ada bayangan orang yang berpuasa akan terbebas dari dosa.

Posisi takwa Orang yang sungguh berpuasa diharapkan meraih posisi takwa (kesadaran hati nurani yang sejati dan mendalam tentang kehadiran Allah yang senantiasa mengamati perilakunya), dibenarkan Al Quran surat Al-Baqarah ayat 183. Takwa adalah obor batiniah (atau inner torch dalam ungkapan Fazlur Rahman) yang menuntun manusia ke jalan yang benar dan lurus.

Namun, raihan posisi takwa itu tak datang otomatis dan pasti bagi mereka yang berpuasa. Al Quran memakai kata la’allakum tattaqun (siapa tahu, semoga kamu akan meraih posisi takwa itu). Sangat halus dan tajam pernyataan Al Quran berkaitan dengan puasa Ramadhan ini. Sebuah ketegangan kreatif berlaku di sini antara upaya, fisikal, dan spiritual yang sungguh-sungguh dan kemungkinan hasilnya. Perkataan la’alla mengandung harapan, bukan kepastian.

Ayat 185 surat Al-Baqarah menyebutkan, Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu. Di bagian ujung ditegaskan, orang yang berpuasa harus menggenapkan bilangan puasanya selama satu bulan untuk menyambut perayaan Idul Fitri dengan banyak bertakbir, membesarkan nama Allah, karena petunjuk yang telah diberikan-Nya agar manusia pandai bersyukur.

Dalam sejarah, puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah (624 Masehi), berdekatan dengan Perang Badar. Sebelum dilakukan sebulan penuh, ada praktik puasa secara bertahap selama beberapa hari. Umat terdahulu melakukan puasa dengan cara masing-masing.

Umat yang bertakwa semestinya sadar akan tanggung jawab sejarah untuk menegakkan keadilan sebagai perwujudan tauhid di muka bumi dalam kehidupan kolektif. Dunia yang masih berpuasa dan berhari raya tampaknya kehilangan roh takwa.

Akibatnya, umat terkapar dalam perlombaan peradaban di antara manusia lain yang lebih maju sekalipun belum tentu adil. Semestinya hari raya tahun ini bisa menyadarkan mereka, takwa bukan hanya sebatas kepentingan pribadi, tetapi bermakna luas dalam kehidupan bersama dalam suatu negara atau antarnegara.

Quo vadis peradaban Islam? Pertanyaan seperti ini mungkin tak layak dimunculkan saat ini karena menambah beban batin yang sarat, dan itu kenyataan yang pahit. Pada diri umat Islam di tataran global sedang berlaku ungkapan Chairil Anwar: ”Hidup hanyalah menunda kekalahan”.

Sekarang, sebagian dunia Islam dalam situasi kacau. Bom meledak di mana-mana. Kejadian terakhir bom meledak di Istanbul, Turki dan Baghdad, Irak, dengan korban yang banyak. Menyedihkan, bom itu disulut tak jarang dengan nama Tuhan, yang seolah-olah Tuhan itu bisa dikendalikan semau gue.

Ini sebuah kebiadaban teologis yang tidak bisa dimaafkan. Turki yang kewalahan menampung pengungsi Suriah dalam bilangan jutaan orang malah dibalas dengan bom, tidak peduli pada bulan yang dinilai suci, saat pembunuh dan yang terbunuh mungkin saja berpuasa. Alangkah kejamnya drama ini.

Demikian sukarnya umat Islam, terutama di wilayah Arab, menyadari betapa rapuhnya kondisi mereka. Penguasa dan oposisi sama-sama kehilangan akal sehat, tumpulnya kepekaan nurani, dan tega menonton rakyatnya sendiri berkeliaran eksodus ke negara lain melalui rentetan penderitaan yang panjang.

Permulaan abad ke-15 Hijriah, umat Islam sejagat bersorak menyongsong kebangkitan Islam, diawali kemenangan Ayatullah Khomeini di Iran mengusir rezim Shah Reza Pahlevi. Namun, itu kemenangan politik semata, tanpa diikuti oleh pembenahan dasar struktur budaya secara radikal, bisa berujung dengan sebuah ilusi, sebuah fatamorgana.

Adakah jalan keluar? Apabila Al Quran dijadikan pedoman, sesungguhnya untuk bangkit secara otentik dan berkelanjutan tidak terlalu sulit. Musuh terbesar adalah egoisme bangsa dan etnisitas dengan jubah nasionalisme sempit. Barat amat paham fenomena pembusukan budaya ini, lalu diadu domba dengan iming-iming duniawi. Si penguasa dan oposisi tinggal menari mengikuti bunyi genderang pihak lain.

Apa yang dilakukan itu adalah pengkhianatan terhadap diktum Al Quran, dengan menyibukkan diri dalam permusuhan dan peperangan sesama mereka. Barat tinggal mengipas saja agar kondisinya menjadi semakin parah.

Sebuah agama yang mengklaim sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta, tetapi umatnya terpuruk di tikungan sejarah, pasti akibat dari kesalahan kolektif yang fatal. Quo vadis peradaban Islam memerlukan masa untuk menjawabnya.

Saya yakin gelombang kesadaran dan kesediaan mengoreksi diri pasti akan datang dan itu bisa dipercepat. Umat Islam tidak boleh larut dalam keputusasaan. Siapa tahu, dengan perasaan berat, suasana Idul Fitri tahun ini dapat dijadikan momentum untuk berkaca diri dengan jujur sambil menatap masa depan dengan kepala tegak. Selamat berhari raya, 1 Syawal 1437 Hijriah, mohon maaf lahir-batin. [Kitab Kuning Digital]

Prof. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/teror-bom-idul-fitri-dan-obor-batin-yang-terkoyak.html

Sabtu, 08 Agustus 2009

Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain

Kitab Kuning Digital - Untuk kesekian kalinya organisasi intoleran yang menamakan diri ANNAS (Aliansi Nasional Anti-Syi'ah) mencatut nama Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari gerakan mereka. Kali ini terjadi menjelang acara pelantikan pengurus ANNAS Bogor Raya.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor baru-baru ini menerima selebaran acara pengukuhan ini. Di dalamnya tertulis acara meliputi “Materi Ilmiyyah” yang berisi diskusi “Syiah Bukan Islam”, “Bahaya Syiah terhadap NKRI”, dan “Bahaya Syiah terhadap Umat Islam”.

Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain - Kitab Kuning Digital
Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain - Kitab Kuning Digital


Lagi, ANNAS Catut NU Musuhi Kelompok Lain

Ini logo sakral NU. Mohon janga catut sembarangan! Selebaran tersebut memasang logo resmi NU dan ormas-ormas lain seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Hidayatullah, MUI, Persis, Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Forum Umat Islam, Majelis Az Zikra, dan lainnya. Di kertas itu juga terpampang foto Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto dan Ketua Dewan Syuro ANNAS Bogor Didin Hafiduddin sebagai pembicara kunci.

Kitab Kuning Digital

Ketua PCNU Bogor Ifan Haryanto mengatakan sangat keberatan dengan aksi pencantuman logo NU itu. “Jika organisasi tersebut tidak merevisi undangan yang mencatut logo NU itu, PCNU Kota Bogor mempertimbangkan untuk melaporkan organisasi tersebut ke pihak yang berwajib,” katanya kepada NU Online, Kamis (19/11) malam.

Berdasarkan selebaran itu, acara pelantikan digelar Ahad, 22 November 2015, pukul 08.00 sampai dengan 11.30 WIB, di Aula KONI Kota Bogor, Jalan Pemuda No. 4, GOR Padjajaran Bogor, Jawa Barat. Narasumber pada “Materi Ilmiyyah” antara lain KH. Khaerul Yunus (Penasihat MUI Bogor dan Ketua Dewan Pakar ANNAS), Dr. H. Abdul Chair Ramadhan SH, MH (Komisi Hukum MUI Pusat dan Ketua Litbang MIUMI), dan KH. M. Rizal Fadhilah, SH (Dewan Pakar ANNAS Pusat).

Kitab Kuning Digital

Dalam aksinya di berbagai daerah ANNAS kerap mencatut NU secara organisasi terlibat dalam sejumlah aksi intoleransi. Dalam aksi deklarasi anti Syiah di Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan pada Maret 2015 lalu, organisasi yang diketuai tokoh Wahabi KH Athian Ali Da'i ini juga melakukan hal yang sama. PCNU setempat menegaskan menolak kegiatan tersebut.

Sebagai ormas berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, dalam berbagai forum, NU berulang kali menyatakan tak sepaham dengan Syiah. Hanya saja, perbedaan pendapat tersebut tak mesti diekspresikan dengan jalan memusuhi. [Kitab Kuning Digital/ mahbib]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/lagi-annas-catut-nu-untuk-musuhi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock