Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2016

Kepada Kiai Salam Kajen, Mbah Hasyim Asyari Cerita Soal Cita-Cita yang Belum Tersampaikan

Kitab Kuning Digital - "Aku pengen ketemu Kiai Salam," kata pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Nawawi pun mengantarkan.

Kepada Kiai Salam Kajen, Mbah Hasyim Asyari Cerita Soal Cita-Cita yang Belum Tersampaikan - Kitab Kuning Digital
Kepada Kiai Salam Kajen, Mbah Hasyim Asyari Cerita Soal Cita-Cita yang Belum Tersampaikan - Kitab Kuning Digital


Kepada Kiai Salam Kajen, Mbah Hasyim Asyari Cerita Soal Cita-Cita yang Belum Tersampaikan

Kiai Abdussalam rahimahullah adalah ayahanda dari Kiai Abdullah Salam dan kakek dari Kiai Sahal Mahfudh.

Sampai di kediaman Kiai Salam, didapati tuan rumah sedang mengajar anak-anak kecil mengaji. Kiai Hasyim serta-merta menahan langkah, menyembunyikan diri dari pandangan Kiai Salam, dan menunggu.

Setelah semua anak-anak kecil itu selesai ngajinya, barulah Kiai Hasyim mengucap salam, yang lantas disambut dengan suka-cita luar biasa.

Meninggalkan kediaman Kiai Salam, Kiai Hasyim kelihatan ngungun. Air matanya mengambang.

"Ada apa, ‘Yai?" Kiai Nawawi keheranan. Kiai Hasyim mengendalikan tangisnya, menghela napas dalam-dalam.

"Aku punya cita-cita sudah sejak sangat lama… tapi sampai sekarang belum mampu melaksanakan… Kiai Salam malah sudah istiqomah… Aku iri…"

"Cita-cita apa, ‘Yai?"

"Ta’liimush shibyaan…" (Mengajar anak-anak kecil).

****

Kiai Ali Ma’shum seorang ‘allaamah (sangat banyak dan dalam ilmunya) dan adiib (ahli sastra Arab) sejak remaja. Beliau diambil menantu oleh Kiai Muhammad Munawwir, Krapyak, Yogya, yang mengkhususkan diri dengan pengajaran Al Quran.

Kiai Abdullah Munawwir, kakak ipar Kiai Ali, mementingkan datang ke Lasem untuk memohon kepada Kiai Ma’shum agar Kiai Ali diijinkan tinggal di Krapyak. Mbah Ma’shum meluluskan.

Tapi setelah tinggal di Krapyak, ternyata Kiai Ali sudah “tidak kebagian santri”. Semua santri sudah disibukkan dengan kegiatan mengaji kepada guru masing-masing sehingga tak ada waktu lagi untuk mengaji kepada Kiai Ali.

Selama beberapa waktu Kiai Ali “menganggur”, dan alangkah tidak nyamannya itu bagi seorang yang menanggung begitu banyak ilmu dalam dirinya.

Ditengah waktu-waktu kosong yang membosankan itu, Kiai Ali mengamati anak-anak kecil yang asyik bemain-main, berlarian di halaman Pondok.

Kiai Ali memanggil anak-anak itu, mengajak mereka bercengkerama, membagi-bagikan penganan, lalu membujuk mereka agar mau diajari mengaji. Maka mulailah Kiai Ali dengan pelajaran membaca dan menulis huruf hija’iyyah.

Seiring dengan perkembangan usia, lama-kelamaan mereka siap diajari berbagi macam ilmu dan kitab-kitab, hingga akhirnya anak-anak yang tadinya berkeliaran tak karuan itu menjadi orang-orang ‘alim yang unggul ilmunya.

Di antara mereka adalah junjungan-junjunganku, adik-adik ipar Kiai Ali sendiri, yaitu Kiai Zainal Abidin Munawwir dan Kiai Ahmad Warson Munawwir.

Menceritakan semua itu kepadaku dengan mata berkaca-kaca, Kiai Warson akhirnya berujar, "Berjuang, yang paling berat cobaannya itu mengajar. Sedangkan mengajar, yang paling berat cobaannya itu mengajar anak-anak kecil. Lha mengajar anak-anak kecil, yang paling berat cobaannya itu mengajar kamu!". [Kitab Kuning Digital

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/kepada-kiai-salam-kajen-mbah-hasyim-asyari-cerita-soal-cita-cita-yang-belum-tersampaikan.html

Kamis, 16 April 2015

PCNU Mimika Luncurkan Album Shalawat Senandung Rindu Rasul

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Keramaian suasana Masjid Yapis Mimika dipenuhi oleh siswa-siswi Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) Timika setelah shalat zhuhur, Kamis (28/7) siang. Mereka adalah siswa SMP dan SMK yang mengikuti acara peluncuran Album Shalawat Senandung Rindu Rasul yang dibawakan oleh Majelis Shalawat dan Maulid Syifaul Qalbi Tembagapura, Mimika, Papua.

Acara ini terlaksana atas kerja sama antara PCNU Mimika, Yapis, dan Majelis Shalawat dan Maulid Syifaul Qalbi. Sasaran peluncuran difokuskan kepada anak-anak sekolah untuk memberikan dorongan dan inspirasi mengamalkan shalawat di rumahnya atau sekolahnya.

PCNU Mimika Luncurkan Album Shalawat Senandung Rindu Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Mimika Luncurkan Album Shalawat Senandung Rindu Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)


PCNU Mimika Luncurkan Album Shalawat Senandung Rindu Rasul

Seperti yang saya sampaikan, hari ini akan diluncurkan Album Shalawat: Senandung Rindu Rasul dengan harapan memupuk semangat bershalawat dan diharapkan kalian yang tertarik dan mempunyai bakat suara dan musik untuk membentuk grup shalawat. Kalian bisa mendaftar ke sini, kata Wakil Kepala Sekolah SMK Yapis yang juga Ketua PCNU Mimika H Abdul Wahab.

Sementara itu Sugiarso, produser album shalawat menjelaskan alasan pemilihan maulid Simtud Durar sebagai pokoknya kepada para murid-murid Yapis. Menurutnya, di Kabupaten Mimika khususnya para pendatang dari Jawa dan Makassar yang kental budaya NU-nya lebih mengenal Barzanji dan Diba daripada Simtud Durar. Mereka biasanya ke Mimika dalam rangka ikut program transmigrasi pemerintah yang disediakan lahan dan tempat tinggalnya di Satuan Pemukiman Transmigrasi (SP).

Kitab Kuning Digital

Menurut produser yang juga Wakil Ketua PCNU Mimika ini, album shalawat ini memilih maulid Simtud Durar sebagai pokok rekaman dengan beberapa alasan, seperti Maulid Al-Habsyi sedang populer dengan tokohnya Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf bersama Majelis Ahbabul Musthofa-nya dengan nada dan lagunya yang renyah, ceria, dan bersemangat.

Kitab Kuning Digital

Hal lainnya adalah iringan rebana Al-Banjari sudah berkembang, bukan hanya Al-Banjari, namun sudah memasukkan unsur alat musik lain, missal calty. Sementara itu fenomena Syechermania (para penggemar Habib Syech bin Andul Qadir Assegaf) yang melanda di Nusantara hingga luar negeri juga menjadi alasannya.

Album ini memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan album sejenis lainnya, seperti album pertama dalam sejarah maulid/shalawat di Bumi Mimika, bukan sekedar rekaman event atau kegiatan. Kemudian, latar dan konteks shalawat/maulid yang terintegrasi dengan lingkungan kerja, dengan klip-klip kegiatan operasional sehari-hari di Grasberg, UG, Concentrating, Portsite dan lokasi lainnya. Juga unik karena para personel yang semuanya adalah karyawan namun kesungguhannya dalam bershalawat sama dengan bekerja. Keunikan lainnya album ini membawakan rawi maulid seindah lantunan qasidah dalam satu kesatuan lagu yang syahdu.

lbum rekaman ini menggabungkan antara rawi Maulid Al-Habsyi dan qasidah dan kolaborasi vokalis dan backing vocal yang mencakup empat segmen, yaitu (1) Fayya AyyuhaYa Rabbi ShalliInna FatahnaYa HabibiyYa Asyiqal Musthafa, (2) AssalamualaikRawi/pasal 1Ya Khaira Hadi, (3) Ya Rabbi bil MusthafaRawi/pasal 2Jalla ManAlfa Shallu, dan (4) DauniRawi/pasal 3Ala Ya AllahAllahumma Shalli ala Muhammad.

Di akhir peluncuran, para siswa Yapis menyatakan tertarik untuk membentuk grup shalawat baik untuk putra maupun putri. Selaku produser dan Wakil Ketua PCNU Mimika Sugiarso menyambut baik gagasan ini dan siap memfasilitasi untuk membuat jadwal dan penyediaan pelatih. (Red Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70031/pcnu-mimika-luncurkan-album-shalawat-senandung-rindu-rasul

Kitab Kuning Digital

Kamis, 12 Maret 2015

Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Keberadaan NU sebagai organisasi Islam moderat ditengah-tengah suasana dunia yang semakin terasa tidak aman semakin diakui dan laku oleh dunia internasional. Pada 29 Agustus lalu, Ketua Umum PBNU diangkat sebagai anggota dewan penasehat Rabithah Alam Islami dan selanjutnya beberapa pengakuan internasional lainnya terus diberikan.

Padahal sebelumnya NU diundang saja tidak, NU dianggap bidah, klenik, sinkretis, dan semacamnya yang harus diberantas, lho sekarang kok mereka malah menjadikan kita sebagai dewan penasehat atau mustasyarnya, tandas Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di PBNU, Jumat.

Perubahan sikap bersebut ditanyakan kepada Sekjen Rabithah Alam Islami Syeikh Abdullah At Turki dan dijawabnya karena ia menginginkan mengetahui NU dan Islam Indonesia yang sesungguhnya.

Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku (Sumber Gambar : Nu Online)


Hasyim: NU Sekarang Semakin Laku

Kesempatan tersebut tak disia-siakan untuk menjelaskan perbedaan kondisi Indonesia dengan Arab. Kalau Timur Tengah ada 32 negara dengan satu budaya sedangkan Indonesia adalah satu negara dengan 247 adat. Islamnya sama tapi memaknainya berbeda karena perbedaan kondisi tuturnya.

Pengakuan internasional lainnya terhadap NU juga diberikan saat ketua umum PBNU masih di Arab Saudi dan diminta untuk menjadi salah satu dari sembilan presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) yang saat itu tengah mengadakan konferensi di Tokyo dan dihadiri oleh sekitar 600 tokoh dari 20 agama dari 100 negara sedunia.

Saya dapat telpon diminta menjabat sebagai salah satu presiden WCRP, saya terima saja karena saya ingat bahwa barang siapa yang memperjuangkan kebenaran, pasti diberi jalan, imbuhnya.

Kitab Kuning Digital

WCRP adalah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. WCRP sendiri didirikan pada tahun 1970 dan saat ini berpusat di markas PBB New York.

Beberapa program yang dijalankan adalah menghentikan perang, mengakhiri kemiskinan dan melindungi bumi. Mereka telah berupaya untuk membantu upaya rekonsiliasi di Irak, menjadi mediator dalam perang antar suku di Sierra Leone serta membantu jutaan anak yang terinfeksi virus HIV di Afrika.

Berikutnya PBNU pada 10-13 September diundang ke Thailand untuk mengikuti perayaan 60 tahun penobatan Raja Thailand. Pertemuan tersebut sekaligus digunakan untuk membahas penyelesaian Thailand Selatan. Raja dan Perdana Menteri Thailand sangat gembira atas masukan-masukan yang diberikan PBNU.

Kitab Kuning Digital

Pada tanggal 19 September yang akan datang, PBNU akan berkunjung ke New York untuk mendaftarkan International Conference of Islamic Scholars (ICIS), organisasi yang dikembangkan PBNU untuk menyelesaikan berbagai konflik internasional dengan pendekatan people to people, sehingga organisasi ini akan resmi di dunia Internasional. (mkf).

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/5284/hasyim-nu-sekarang-semakin-laku

Kitab Kuning Digital

Senin, 27 Mei 2013

IPNU Pacitan Targetkan Lima Ratus Santri Ikut Makesta

Pacitan, Kitab Kuning Digital. Pengurus IPNU-IPPNU Pacitan terus berupaya merangkul kembali potensi kader-kader berbasis santri pesantren. Mereka menargetkan lebih banyak lagi para santri pesantren untuk bergabung dengan organisasi pelajar NU. Hal ini selaras dengan arah gerakan IPNU yang didirikan untuk mewadahi organisasi para santri.

Harapan ini disampaikan Ketua IPNU Pacitan Amrudin, mengingat santri pesantren memunyai potensi besar dalam memperbaiki mental bangsa dan menjadikan bangsa lebih bermartabat.

IPNU Pacitan Targetkan Lima Ratus Santri Ikut Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pacitan Targetkan Lima Ratus Santri Ikut Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU Pacitan Targetkan Lima Ratus Santri Ikut Makesta

Sebagai calon pemimpin bangsa, santri perlu menyiapkan diri dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman berorganisasi, salah satunya melalui organisasi IPNU atau IPPNU, katanya kepada Kitab Kuning Digital di sela kegiatan Makesta di Pesantren Modern Al-Istiqomah Pacitan, Sabtu (27/2) malam.

Kitab Kuning Digital

Santri merupakan generasi pewaris ulama yang secara kultur mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Sudah selayaknya para santri diajak untuk turut mengisi struktur IPNU-IPPNU yang merupakan bagian dari keluarga besar NU.

Kami mengajak para santri pesantren untuk ikut berjuang dalam struktural agar gerakan santri semakin lengkap baik secara kultural maupun struktural, jelas Amrudin.

Kitab Kuning Digital

Langkah yang ditempuh IPNU-IPPNU Pacitan untuk mewujudkan targetnya, lanjutnya, di antaranya menjalin komunikasi secara intensif dengan para pengasuh pesantren. Para pengasuh diharapkan memasukkan materi ke-NU-an dan ke-IPNU-an ke dalam kurikulum pesantren atau menyelipkanya saat memberi pengajian kepada para santri.

Selain itu kita akan terus-menerus melakukan pengaderan melalui Makesta di kalangan santri. Target kami tiap tahunya ada lima ratus santri di Pacitan yang akan bergabung dengan IPNU dan IPPNU, katanya.

Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan dan Komisariat Al-Istiqomah menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Pesantren Modren Al-Istiqomah Pacitan, Sabtu dan Ahad (27-28/2).

Makesta diikuti puluhan peserta, terdiri atas mahasiswa, pelajar dan santri. Mereka berasal dari beberapa lembaga pendidikan seperti STAINU Pacitan, STAI Al-Fattah Kikil, dan Pesantren Nahdlatusubban Arjowinangun.

Makesta kali ini dibuka oleh Rais Syuriyah PCNU Pacitan KH Imam Faqih. Menurutnya, IPNU dan IPPNU merupakan wadah bagi para pelajar dalam membendung banyaknya paham keagamaan yang dewasa ini telah melenceng dari Islam dan NKRI.

IPNU-IPPNU merupakan solusi organisasi bagi para pelajar dan para santri, kata kiai yang juga dipercaya sebagai Ketua STAINU Pacitan itu.

Ia berharap, calon anggota IPNU-IPNNU untuk bersungguh-sungguh dalam mengikuti Makesta ini sehingga mereka dapat memperdalam dan menggelorakan kecintaan terhadap NU.

Ia mengajak kalangan pelajar untuk bersama-sama berjuang membesarkan NU. Tidak akan ada yang sengsara bagi siapa saja yang mau berjuang dengan ikhlas untuk para kiai dan NU, tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Jemirin mengatakan, Makesta digelar dalam rangka mengajak para pelajar untuk menyelami lebih dalam organisasi NU. Ia berharap, kader IPNU-IPPNU kelak menjadi kader yang loyal yang siap berjuang dan berkorban untuk NU. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66145/ipnu-pacitan-targetkan-lima-ratus-santri-ikut-makesta

Kitab Kuning Digital

Jumat, 11 November 2011

Muhammad, Nama Bayi Paling Populer di London

London, Kitab Kuning Digital. Muhammad merupakan nama bayi paling populer di London untuk pertama kalinya, seperti dilaporkan oleh the Daily Mail beberapa waktu lalu.

Berbagai kombinasi ejaan dengan menggunakan nama Nabi ini telah memuncaki daftar nama untuk bayi laki-laki di Inggris selama tiga tahun terakhir dan saat ini nama Muhammad menduduki peringkat tertinggi di Ibukota Inggris tersebut.

Sebanyak 768 didaftarkan dengan nama tersebut, melampaui nama Daniel dengan jumlah 666. Nama yang paling populer di Inggris untuk laki-laki adalah Harry sebanyak 6,893. Namun demikian, dengan berbagai variasi ejaan Muhammad (urutan ke 18 secara nasional), Mohammed (25) and Mohammad (58) ketika kombinasi ini disatukan, mengalahkan nama Harry dengan total 7,032 bayi. Sejak 1999, jumlah bayi yang dinamai Muhammad meningkat lebih dari setengahnya, seperti dikutip International Islamic News Agencies. (mukafi niam)

Muhammad, Nama Bayi Paling Populer di London (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammad, Nama Bayi Paling Populer di London (Sumber Gambar : Nu Online)


Muhammad, Nama Bayi Paling Populer di London

Foto: islam.ru

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46975/muhammad-nama-bayi-paling-populer-di-london

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Kamis, 01 September 2011

Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab

KH Said Aqil Siraj dan Sultan Jogja bersalaman kepada pengurus PWNU yang baru dilantik, Kamis (26/01/2017) Kitab Kuning Digital - Dalam acara pelantikan PWNU DIY masa bakti 2017-2022 yang diselenggarakan di Gedung Multi Perpust (MP) UIN Sunan Kalijaga, Kamis (26/01/2017), Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj mengingatkan kembali jargon penting hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Ungkapan tersebut muncul pertama dan dipopulerkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Karena saking polulernya di seluruh dunia, kata Kiai Said, ungkapan itu dianggap sebagai hadits. Padahal bukan.

Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab - Kitab Kuning Digital
Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab - Kitab Kuning Digital


Kiai Said: Nasionalisme Mbah Hasyim Beda dari Nasionalisme Sekuler Arab

Menurut Kiai Said, tidak ada ulama besar di dunia ini yang berani menyatakan hubbul wathan minal iman. Namun KH Hasyim Asy'ari berani mengungkapkannya. "Nasionalisme KH Hasyim Asy'ari berbeda dengan nasionalisme sekuler Arab," ujar Kiai Said.

Menurut Kiai Said, lahirnya ungkapan hubbul wathan minal iman ini tidak lepas dari konsep Islam Nusantara yang telah berhasil mengawinkan antara nasionalisme dan Islam di Indonesia. Ini berbeda dengan di beberapa negara Timur Tengah yang mempunyai kesulitan dalam menyatukan keduanya.

Karenanya, warisan KH. Hasyim Asyari berupa konsep Islam Nusantara ini harus senantiada kita rawat dan jaga, demi tetap tegaknya Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD '45 di bumi nusantara tercinta.

Kitab Kuning Digital

Kiai Said juga berharap agar PWNU DIY yang baru dilantik tetap istiqomah dalam mengawal dan menjaga NKRI dan paham ahlussunah wal-Jamah an-Nahdiyah di Indonesia. Hadir dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono Yogyakarta X. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kiai-said-nasionalisme-mbah-hasyim-beda-dari-nasionalisme-sekuler-arab.html

Kitab Kuning Digital

Kamis, 23 Juni 2011

Sosialisasi Kartanu di Jombang Membludak

Jombang, Kitab Kuning Digital. Sosialisasi Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) di kantor PCNU Jombang, Jalan Gatot Subroto, Senin 28 Januari disambut warga. Panitia menargetkan undangan sekitar 100 orang dari 21 pengurus MWC se Jombang.

Namun, warga NU yang datang lebih dari 200 orang. Kantor PC NU penuh sesak. Melihat antusiasme warga NU, dua tim Kartanu PWNU Jatim langsung melayani permintaan warga untuk mendapatkan Kartanu.

Sosialisasi Kartanu di Jombang Membludak (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosialisasi Kartanu di Jombang Membludak (Sumber Gambar : Nu Online)


Sosialisasi Kartanu di Jombang Membludak

Caranya, isi form, membayar Rp 6 ribu dan langsung difoto, langsung dicetak. Mestinya pelayanan hanya 30 menit. Tapi, karena antrian cukup panjang, pelayanan bisa mencapai 1 jam, kata Ketua PCNU Jombang, DR KH Isrofil Amar.

Kiai Isrofil Amar menyatakan, realisasi Kartanu di Jombang semula direncanakan Maret. Berbarengan dengan Ultah 1 tahun RS NU Jombang. Namun, melihat antusiasme warga NU, pelayanan KARTANU berupa pemotretan dan pencetakan, langsung dilakukan.Pemegang Kartanu bisa mendapatkan keringanan biaya di Rumah Sakit (RS) NU Jombang, tandas Kiai Isrofil.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Koord Prog Kartanu PWNU Jatim Drs M Taufiq menjelaskan, pemegang Kartanu di Jatim juga akan mendapatkan diskon 15 persen biaya pendaftaran di Unisma Malang.

Redaktur : Hamzah Sahal

Kontributor: Jalaludin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42136/sosialisasi-kartanu-di-jombang-membludak

Kitab Kuning Digital

Rabu, 02 Juni 2010

Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak

Kitab Kuning Digital - Bahasa Arab adalah satu di antara bahasa dunia yang kaya makna dan kosakata. Istilah id (hari perayaan) dari bentuk kedua kata kerja bahasa Arab: ’ayyada, artinya merayakan, mengamati sebuah perayaan.

Perkataan fitr dari kata kerja fatara, bermakna memisahkan, membatalkan puasa dengan makan dan minum pada 1 Syawal setelah berpuasa selama satu bulan (29 atau 30 hari), disebut juga iftar, dan juga bermakna menciptakan. Dari akar kata yang sama kita menemukan al-Fatir, yang berarti Maha Pencipta dari tiada kepada ada.

Jadi ’id al-fitri berarti ”merayakan hari 1 Syawal dengan berbuka atau menghentikan puasa”. Puasa diharamkan pada hari itu.

Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak - Kitab Kuning Digital
Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak - Kitab Kuning Digital


Teror Bom Idul Fitri dan Obor Batin yang Terkoyak

Ada juga orang mengartikan ’id dengan kembali. ’Id al-fitri diterjemahkan ”kembali pada asal penciptaan manusia yang bersih, suci, tanpa noda, tanpa dosa”, seperti bayi yang baru lahir setelah dibasuh selama Ramadhan.

Namun, ada kerancuan. Dalam bahasa Arab, perkataan kembali adalah ’aud atau ’audah, berasal dari bentuk pertama kata kerja ’ada, bukan ’id. Saya lebih mengartikan ’id al-fitri atau ’idul fitri sebagai perayaan berbuka puasa, bagian sikap bersyukur manusia beriman, bukan ”kembali suci.”

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Perayaan 1 Syawal adalah hari kegembiraan, dalam batas yang wajar, bagi mereka yang berpuasa Ramadhan, karena iman semata. Di akhir Ramadhan, umat Islam, termasuk bayi, diwajibkan membayarkan sadhaqat al-fitri (zakat fitrah) sebagai simbol spiritual untuk berbagi dengan sektor masyarakat yang serba kekurangan.

Pada waktu yang sama, juga dilakukan pembayaran zakat harta kekayaan yang disalurkan pada mereka yang berhak, seperti fakir, miskin, panitia zakat, mereka yang terlilit utang, dan untuk jalan Allah.

Pelaksanaan zakat sampai kini belum optimal di seluruh dunia sehingga jurang antara si kaya dan si miskin masih lebar. Sebuah kenyataan yang amat pedih dan menyakitkan. Jumlah zakat yang ditunaikan masih setengah lumpuh berhadapan dengan kesenjangan sosial ekonomi.

Kembali pada soal penebusan dosa, memang ada sumber hadis yang menyebutkan, ”Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan berdasarkan iman dan semata mengharapkan keridaan Allah, apa yang terdahulu dari dosanya bakal diampuni.” Mungkin didasarkan pada hadis ini, lalu disimpulkan bahwa orang yang benar-benar berpuasa selama Ramadhan akan menjadi manusia suci kembali.

Sekali lagi perkataan ’id tidak berarti kembali, seperti yang pernah saya tulis tahun 2008, tetapi hari perayaan! Jika tak hati-hati memahami hadis ini, orang yang lemah iman akan mudah berbuat dosa untuk ditebus setiap bulan Ramadhan dengan menjalankan puasa. Dalam Al Quran tidak ada bayangan orang yang berpuasa akan terbebas dari dosa.

Posisi takwa Orang yang sungguh berpuasa diharapkan meraih posisi takwa (kesadaran hati nurani yang sejati dan mendalam tentang kehadiran Allah yang senantiasa mengamati perilakunya), dibenarkan Al Quran surat Al-Baqarah ayat 183. Takwa adalah obor batiniah (atau inner torch dalam ungkapan Fazlur Rahman) yang menuntun manusia ke jalan yang benar dan lurus.

Namun, raihan posisi takwa itu tak datang otomatis dan pasti bagi mereka yang berpuasa. Al Quran memakai kata la’allakum tattaqun (siapa tahu, semoga kamu akan meraih posisi takwa itu). Sangat halus dan tajam pernyataan Al Quran berkaitan dengan puasa Ramadhan ini. Sebuah ketegangan kreatif berlaku di sini antara upaya, fisikal, dan spiritual yang sungguh-sungguh dan kemungkinan hasilnya. Perkataan la’alla mengandung harapan, bukan kepastian.

Ayat 185 surat Al-Baqarah menyebutkan, Al Quran diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu. Di bagian ujung ditegaskan, orang yang berpuasa harus menggenapkan bilangan puasanya selama satu bulan untuk menyambut perayaan Idul Fitri dengan banyak bertakbir, membesarkan nama Allah, karena petunjuk yang telah diberikan-Nya agar manusia pandai bersyukur.

Dalam sejarah, puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah (624 Masehi), berdekatan dengan Perang Badar. Sebelum dilakukan sebulan penuh, ada praktik puasa secara bertahap selama beberapa hari. Umat terdahulu melakukan puasa dengan cara masing-masing.

Umat yang bertakwa semestinya sadar akan tanggung jawab sejarah untuk menegakkan keadilan sebagai perwujudan tauhid di muka bumi dalam kehidupan kolektif. Dunia yang masih berpuasa dan berhari raya tampaknya kehilangan roh takwa.

Akibatnya, umat terkapar dalam perlombaan peradaban di antara manusia lain yang lebih maju sekalipun belum tentu adil. Semestinya hari raya tahun ini bisa menyadarkan mereka, takwa bukan hanya sebatas kepentingan pribadi, tetapi bermakna luas dalam kehidupan bersama dalam suatu negara atau antarnegara.

Quo vadis peradaban Islam? Pertanyaan seperti ini mungkin tak layak dimunculkan saat ini karena menambah beban batin yang sarat, dan itu kenyataan yang pahit. Pada diri umat Islam di tataran global sedang berlaku ungkapan Chairil Anwar: ”Hidup hanyalah menunda kekalahan”.

Sekarang, sebagian dunia Islam dalam situasi kacau. Bom meledak di mana-mana. Kejadian terakhir bom meledak di Istanbul, Turki dan Baghdad, Irak, dengan korban yang banyak. Menyedihkan, bom itu disulut tak jarang dengan nama Tuhan, yang seolah-olah Tuhan itu bisa dikendalikan semau gue.

Ini sebuah kebiadaban teologis yang tidak bisa dimaafkan. Turki yang kewalahan menampung pengungsi Suriah dalam bilangan jutaan orang malah dibalas dengan bom, tidak peduli pada bulan yang dinilai suci, saat pembunuh dan yang terbunuh mungkin saja berpuasa. Alangkah kejamnya drama ini.

Demikian sukarnya umat Islam, terutama di wilayah Arab, menyadari betapa rapuhnya kondisi mereka. Penguasa dan oposisi sama-sama kehilangan akal sehat, tumpulnya kepekaan nurani, dan tega menonton rakyatnya sendiri berkeliaran eksodus ke negara lain melalui rentetan penderitaan yang panjang.

Permulaan abad ke-15 Hijriah, umat Islam sejagat bersorak menyongsong kebangkitan Islam, diawali kemenangan Ayatullah Khomeini di Iran mengusir rezim Shah Reza Pahlevi. Namun, itu kemenangan politik semata, tanpa diikuti oleh pembenahan dasar struktur budaya secara radikal, bisa berujung dengan sebuah ilusi, sebuah fatamorgana.

Adakah jalan keluar? Apabila Al Quran dijadikan pedoman, sesungguhnya untuk bangkit secara otentik dan berkelanjutan tidak terlalu sulit. Musuh terbesar adalah egoisme bangsa dan etnisitas dengan jubah nasionalisme sempit. Barat amat paham fenomena pembusukan budaya ini, lalu diadu domba dengan iming-iming duniawi. Si penguasa dan oposisi tinggal menari mengikuti bunyi genderang pihak lain.

Apa yang dilakukan itu adalah pengkhianatan terhadap diktum Al Quran, dengan menyibukkan diri dalam permusuhan dan peperangan sesama mereka. Barat tinggal mengipas saja agar kondisinya menjadi semakin parah.

Sebuah agama yang mengklaim sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta, tetapi umatnya terpuruk di tikungan sejarah, pasti akibat dari kesalahan kolektif yang fatal. Quo vadis peradaban Islam memerlukan masa untuk menjawabnya.

Saya yakin gelombang kesadaran dan kesediaan mengoreksi diri pasti akan datang dan itu bisa dipercepat. Umat Islam tidak boleh larut dalam keputusasaan. Siapa tahu, dengan perasaan berat, suasana Idul Fitri tahun ini dapat dijadikan momentum untuk berkaca diri dengan jujur sambil menatap masa depan dengan kepala tegak. Selamat berhari raya, 1 Syawal 1437 Hijriah, mohon maaf lahir-batin. [Kitab Kuning Digital]

Prof. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/teror-bom-idul-fitri-dan-obor-batin-yang-terkoyak.html

Sabtu, 26 September 2009

Doa Terbebas dari Hutang

Kitab Kuning Digital - Adakah amalan atau doa agar terbebas dari hutang? Jawabannya tentu saja ada, dan doa ini tidak mengada-ada alias ngawur. Tapi berdasarkan dari hadis-hadis yangdiriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Doa Terbebas Dari Hutang

Bagi Anda yang Terbelit Hutang Ratusan juta, coba amalkan beberapa hal berikut:

1. Perbanyak istighfar karena memohon ampun pada Allah itulah yang akan memudahkan rejeki

Doa Terbebas dari Hutang - Kitab Kuning Digital
Doa Terbebas dari Hutang - Kitab Kuning Digital


Doa Terbebas dari Hutang

2. Perbanyak doa yang dicontohkan Rasul

A. DOA AGAR TIDAK TERLILIT UTANG

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom Artinya: Ya Allah, Aku Berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan sulitnya utang] (HR. Bukhari No. 2397 dan Muslim No. 589) .

B. DOA AGAR LEPAS DARI UTANG SEPENUH GUNUNG

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” Artinya: Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan Cukupkanlah Aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu

Semoga bermanfaat...!!

Mudahan-mudahan Allah selalu mempermudah langkah kita, di manapun dan aalam keadaan apapun kita berada. Aamiin.

Yang mengamalkan, silakan menerima ijazah ini dengan cukup menulis Qobiltu di kotak komentar di bawah ini.

Dari: Habib Novel Al-Jufri

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/doa-terbebas-dari-hutang.html

Senin, 13 Juli 2009

Dalil Dzikir Berjamaah Setelah Sholat

Kitab Kuning Digital - Inilah jawaban atas tuduhan bid'ah dzikir berjama'ah yang selalu dilontarkan oleh kaum wahabi kepada warga ahlus sunnah wal jama'ah di mana pun berada. Jawaban ini ditulis oleh Ustadz Idrus Romli dalam bentuk dialog agar enak dipahami dengan mudah.

WAHABI: “Anda belum menjawab, alasan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah membid’ahkan doa bersama setelah shalat, baik dimpimpin oleh seorang imam atau berdoa sendiri-sendiri.”

SUNNI: “Doa bersama dengan dipimpin oleh seorang imam, itu telah diamalkan oleh umat Islam sejak generasi salaf, dan memiliki dasar yang sangat kuat dalam al-Qur’an dan hadits.”

Dalil Dzikir Berjamaah Setelah Sholat - Kitab Kuning Digital
Dalil Dzikir Berjamaah Setelah Sholat - Kitab Kuning Digital


Dalil Dzikir Berjamaah Setelah Sholat

WAHABI: “Owh, mana dalil Al-Qur’an nya?

SUNNI: “Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala menceritakan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalaam:

Kitab Kuning Digital

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا. (يونس : ٨٩).

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus : 89).

Kitab Kuning Digital

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalaam. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa ‘alaihissalaam, sedangkan Nabi Harun ‘alaihissalaam hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa ‘alaihissalam yang berdoa dan Nabi Harun ‘alaihissalam yang mengucapkan amin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan berdoa. Hal ini menunjukkan bahwa doa bersama dengan dimpimpin oleh seorang imam adalah ajaran al-Qur’an, bukan ajaran terlarang. (Bisa dilihat dalam Tafsir al-Hafizh Ibnu Katsir, 4/291).”

WAHABI: “Selain dalil al-Qur’an, apakah ada dalil hadits?”

SUNNI: “Ya ada. Misalnya hadits berikut ini. Pertama, hadits Habib bin Maslamah al-Fihri:

عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ يَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني في الكبير و الحاكم في المستدرك وقال صحيح على شرط مسلم، وقال الحافظ الهيثمي في مجمع الزوائد: رجاله رجال الصحيح غير ابن لهيعة وهو حسن الحديث.

“Dari Habib bin Maslamah al-Fihri radhiyallahu ‘anhu –beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [3536], dan al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/347).

Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid 10/170, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”

Hadits di atas memberikan petunjuk kepada kita agar sering berkumpul untuk melakukan doa bersama, sebagian berdoa, dan yang lainnya membaca amin, agar doa dikabulkan.

Kedua, hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: اَلدَّاعِيْ وَالْمُؤَمِّنُ فِي اْلأَجْرِ شَرِيْكَانِ. رواه الديلمي في مسند الفردوس بسند ضعيف.

“Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berdoa dan orang yang membaca amin sama-sama memperoleh pahala.” (HR. al-Dailami [3039] dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

Kelemahan hadits ini dapat dikuatkan dengan hadits sebelumnya dan ayat al-Qur’an di atas.

Ketiga, hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : أُعْطِيتُ ثَلاَثَ خِصَالٍ : صَلاَةً فِي الصُّفُوفِ ، وَأُعْطِيتُ السَّلاَمَ وَهُوَ تَحِيَّةُ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَأُعْطِيتُ آمِينَ ، وَلَمْ يُعْطَهَا أَحَدٌ مِّمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، إِلاَّ أَنْ يَكُونَ الله أَعْطَاهَا هَارُونَ ، فَإِنَّ مُوسَى كَانَ يَدْعُو وَيُؤَمِّنُ هَارُونَ. رواه الحارث وابن مردويه وسنده ضعيف

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dikaruniakan tiga perkara; shalat dalam shaf-shaf. Aku dikaruniakan salam, yaitu penghormatan penduduk surga. Dan aku dikaruniakan Amin, dan belum pernah seseorang sebelum kalian dikaruniakan Amin, kecuali Allah karuniakan kepada Harun. Karena sesungguhnya Musa yang selalu berdoa, dan Harun selalu membaca amin.” (HR al-Harits bin Abi Usamah dan Ibnu Marduyah. Sanad hadits ini dha’if. Lihat, al-Amir al-Shan’ani, al-Tanwir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, 2/488).

Kelemahan hadits ini dapat diperkuat dengan hadits-hadits sebelumnya serta ayat Al-Qur’an di atas. Hadits di atas mengisyaratkan pentingnya membaca amin bagi orang orang lain, sebagaimana bacaan amin Nabi Harun ‘alaihissalam atas doa Nabi Musa ‘alaihissalam.

Keempat, hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha

عن عائشة - رضي الله عنها - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُوْدُ عَلىَ شَيْءٍ مَا حَسَدُوْكُمْ عَلىَ السَّلاَمِ وَالتَّأْمِيْنِ أخرجه البخاري في الأدب المفرد وأحمد بمعناه ابن ماجة وقال البوصيري هذا إسناد صحيح، وإسحاق بن راهوية في مسنده قال الأمير الصنعاني قد صححه جماعة، وقال الحافظ ابن حجر صححه ابن خزيمة وأقره.

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang Yahudi tidak hasud kepada kalian melebihi hasud mereka pada ucapan salam dan amin.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad [988], Ahmad 6/134, Ibnu Majah [856], dan Ibnu Rahawaih dalam al-Musnad [1122]. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hafizh Ibnu Hajar, al-Hafizh al-Bushiri dan lain-lain. Lihat al-Amir al-Shan’ani, al-Tanwir Sayrh al-Jami’ al-Shaghir, 9/385).

Hadits di atas menganjurkan kita memperbanyak ucapan salam dan amin. Tentu saja ucapan salam kepada orang lain. Demikian pula memperbanyak ucapan amin, baik untuk doa kita sendiri, maupun doa orang lain. Hadits ini juga menjadi dalil, bahwa ajaran Syiah sangat dekat dengan Yahudi, karena sama-sama melarang membaca amin.

Dari paparan di atas, jelas sekali bahwa doa bersama, dengan dipimpin oleh seorang imam memang ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

WAHABI: “Bagaimana tanggapan Anda terhadap fatwa Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu berikut ini:

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”

Maka beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

SUNNI: “Semoga Allah meridhai dan merahmati Sayyidina al-Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah mengalirkan berkah beliau dan ilmunya kepada kami. Fatwa Imam Ahmad bin Hanbal, tidak diikuti oleh mayoritas ulama. Dalam fatwa di atas, Imam Ahmad tidak suka orang-orang melakukan doa bersama dan dzikir bersama apabila dilakukan dengan sengaja dan terlalu sering.”

WAHABI: “Mengapa mayoritas ulama tidak mengikuti fatwa Imam Ahmad bin Hanbal? Bukankah beliau ulama salaf yang diakui kehebatannya dalam ilmu dan amal?”

SUNNI: “Mayoritas ulama menghargai fatwa beliau, tetapi tidak mengikutinya, karena dalil-dalil Sunnah sangat kuat menganjurkan doa bersama dan dzikir bersama. Sebagaimana dimaklumi, Imam Ahmad dalam fatwanya tidak menjelaskan dalilnya, dan para ulama Wahabi juga tidak pernah menjelaskan dalil beliau.”

WAHABI: “Mana dalilnya? Jangan-jangan dalilnya hanya sedikit.”

SUNNI: “Akhi, dalil itu, selama metode istinbath nya shahih, meskipun hanya ada satu dalil, itu sudah dibenarkan dalam kacamata agama. Apalagi dalilnya banyak. Selain dalil-dalil di atas, yang menganjurkan doa bersama, banyak sekali hadits-hadits yang menganjurkan doa bersama dan dzikir bersama. Misalnya hadits berikut ini:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ للهِ مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ رواه البخاري ومسلم

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan, mereka senantiasa mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka mendapati satu kaum sedang berdzikir kepada Allah, maka mereka akan saling berseru: “Mintalah hajat kalian.” Beliau melanjutkan: “Lalu para malaikat itu mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia.” Beliau melanjutkan: “Lalu Tuhan mereka menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui dari pada mereka: “Apa yang dikatakan oleh hamba-hamba-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Mereka mensucikan, membesarkan, memuji dan mengagungkan-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apakah mereka pernah melihat-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Seandainya mereka pernah melihat-Mu, tentu mereka akan lebih bersungguh-sungguh beribadah, mengagungkan dan semakin banyak mensucikan-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apa yang mereka minta kepada-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Mereka memohon surga-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Belum wahai Tuhan kami.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana jika mereka telah melihat surga-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Tentu mereka akan lebih bersungguh-sungguh memohon dan menginginkannya.” Allah bertanya lagi: “Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Dari neraka-Mu.” Allah bertanya lagi: “Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku?” Para malaikat itu menjawab: “Demi Allah, mereka belum pernah melihat neraka-Mu.” Allah bertanya lagi: “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku?” Para malaikat itu itu menjawab: “Tentu mereka akan semakin lari dan takut pada neraka itu.” Beliau melanjutkan: “Kemudian Allah berfirman: “Saksikanlah oleh kalian, bahwa Aku sudah mengampuni mereka.” Beliau melanjutkan lagi, “Lalu sebagian malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan, ia bukanlah termasuk orang-orang yang berdzikir, hanya saja ia kebetulan datang karena ada keperluan (duduk bersama mereka).” Lalu Allah menjawab: “Mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. al-Bukhari [6408] dan Muslim [4854]).

Hadits di atas jelas memberikan pelajaran tentang keutamaan majlis dzikir. Kita dianjurkan memperbanyak majlis dzikir. Kemudian di bagian akhir hadits tersebut dijelaskan, tentang keutamaan orang yang tidak sengaja datang kepada mereka, lalu diampuni, padahal tidak bermaksud menjadi peserta majlis dzikir. Nah, apabila orang yang tidak sengaja datang, begitu besar pahalanya, apalagi orang yang sengaja datang, tentu lebih besar pahalanya. Bukankah begitu akhi? (Lihat, al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 11 hal. 213).

WAHABI: “Tapi kalau dalam dzikir, membaca dzikiran dengan satu suara itu kan tidak ada dalilnya? Berarti kan bid’ah dholalah dan masuk neraka.”

SUNNI: “Akhi, sebaiknya Anda jangan mudah berburuk sangka kepada umat Islam yang rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi ibadah mereka telah dituntun oleh para ulama sejak awal-awal Islam masuk ke Indonesia. Mereka ulama yang sangat alim ilmunya akhi. Tidak bisa dibandingkan dengan kita-kita yang hanya tahu sedikit sekali ilmu agama. Coba perhatikan hadits ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمْ الْمَلائِكَةُ وَتَغَشَّتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. رواه أحمد وعبد بن حميد وعبد الرزاق وابن أبي شيبة والطبراني.

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum, mereka berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat Allah menaungi mereka, ketenangan dari Allah turun kepada mereka dan Allah menyebutkan mereka di antara orang-orang yang bersama-Nya.” (HR. Ahmad [11892], Abd bin Humaid [861], Abdurrazzaq [20577], dan al-Thabarani dalam al-Ausath [1500]).

Hadits di atas, memberikan pelajaran tentang keutamaan dzikir berjamaah atau dzikir bersama.

WAHABI: “Ya walaupun dzikir bersama, tapi bacaannya kan tidak perlu seragam seperti paduan suara akhi.”

SUNNI: “Akhi, Anda mengerti makna berjamaah? Seandainya ada seratus orang berkumpul di Masjid, tapi shalatnya dilakukan sendiri-sendiri, apakah dinamakan shalat berjamaah? Tentu tidak kan? Nah, dzikir berjamaah itu juga demikian, mereka sama-sama membaca, baik membaca sendiri-sendiri atau dengan satu suara seperti paduan suara. Hal ini juga dipertegas dengan hadits lain tentang membaca satu suara:

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ إِنَّا لَعِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه ووسلم إِذْ قَالَ هَلْ فِيْكُمْ غَرِيْبٌ يَعْنِيْ أَهْلَ الْكِتَابِ قُلْنَا لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ فَقَالَ ارْفَعُوْا أَيْدِيَكُمْ فَقُوْلُوْا لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً ثُمَّ وَضَعَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه ووسلم يَدَهُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ للهِ اللّهُمَّ إِنَّكَ بَعَثْتَنِيْ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَأَمَرْتَنِيْ بِهَا وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهَا الْجَنَّةَ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ثُمَّ قَالَ أَبْشِرُوْا فَإِنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ. (رواه أحمد والحاكم والطبراني والبزار وحسنه الحافظ المنذري).

“Syaddad bin Aus berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau berkata, “Apakah di antara kalian ada orang asing (ahli kitab)?” Kami menjawab, “tidak ada wahai Rasulullah.” Lalu beliau memerintahkan agar mengunci pintu dan berkata, “Angkatlah tangan kalian, lalu katakan Laa ilaaha illallaah!” Kami mengangkat tangan beberapa saat, kemudian Rasulullah meletakkan tangannya. Lalu bersabda, “Alhamdulillah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengutusku membawa kalimat tauhid ini, Engkau memerintahkannya kepadaku dan menjanjikanku surga karenanya, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian beliau bersabda, “Bergembiralah, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.” (HR. Ahmad [17121], al-Hakim 1/501, al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin [921], dan al-Bazzar. Hadits ini dihasankan oleh al-Hafizh al-Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib 2/415).

Perhatikan, dalam hadits di atas, para sahabat membaca kalimah thoyyibah bersama-sama berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/dalil-dzikir-berjamaah-setelah-sholat.html

Minggu, 05 Juli 2009

Ulama Lebanon Hadiri Istighotsah Warga NU

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan yang digelar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) berlangsung khidmat, Rabu (27/2). Majelis rutin ini mendapat kunjungan dari salah seorang ulama Lebanon, Syaikh Khalil ad-Dabbagh.

Dipimpin para kiai, istighotsah dimulai selepas sembahyang isya di Masjid An-Nahdloh, lantai dasar gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Turut hadir Ketua Pengurus Pusat LDNU KH Zakky Mubarak, Penasehat LDNU KH Nuril Huda, dan sejumlah ulama lainnya.

Ulama Lebanon Hadiri Istighotsah Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Hadiri Istighotsah Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Ulama Lebanon Hadiri Istighotsah Warga NU

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Nuril mengungkapkan terima kasih atas keikutsertaan Syaikh Kholil dalam acara yang dimotori LDNU. Sesepuh PMII ini mengajak kepada warga NU untuk selalu mengormati ulama dan para pendahulu yang telah gigih berjuang.

Di hadapan ratusan Nahdliyin dari Jakarta dan sekitarnya, Syaikh Khalil membahas konsep tauhid. Menurut dia, tauhid dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) tak mengenal antropomorfisme (tajsim).

Kitab Kuning Digital

Laisa kamitslihi syai. Tak ada satupun yang menerupai Allah. Itulah akidah ahlussunnah wal jamaah. Allah tidak membutuhkan siapapun. Karena setiap yang membutuhkan pasti bukan Tuhan terangnya.

Selain mengisi pengajian, Syaikh Khalil juga membagikan ratusan buku secara gratis kepada seluruh peserta istighotsah. Pengajar di Universias Global Lebanon ini mengaku sangat gembira dapat bersilaturrahim dengan kiai dan warga NU.

Kitab Kuning Digital

Bulan lalu, ulama asal Palestina, Dr Syaikh Muhammad Utsman, juga ikut serta dalam Istighotsah LDNU. Setelah menjadi pengungsi, kini ia menjadi dosen di Universitas Global Lebanon sebagaimana Syaikh Khalil.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42813/ulama-lebanon-hadiri-istighotsah-warga-nu

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock