Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2016

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Narasi ekstrimisme begitu masif dan viral di media sosial, khususnya Twitter Konten ini sampai mampu menjadi image Islam yang seolah identik dengan kekerasan, perang, dan bom. Dasar ini adalah salah satu alasan bagi The Wahid Institute untuk menggandeng Twitter Indonesia untuk menggelar Workshop Tweet For Peace bersama puluhan aktivis media.

Menurut salah satu narasumber dari pihak Twitter Indonesia Roy Simangunsong, twitter memang dibangun berdasarkan konsep freedom of expressions atau kebebasan berekspresi para penggunanya.

Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter (Sumber Gambar : Nu Online)


Ini Cara Melaporkan Akun-akun Radikal di Twitter

Tetapi kebebasan berekspresi tetap harus menjunjung tanggung jawab dan etika. Sebab itu, Twitter sangat mendukung dalam memerangi radikalisme, tegas Roy.

Roy mengajak kepada para pengguna twitter untuk melaporkan akun-akun radikal yang berpotensi ke tindakan terorisme dengan melaporkan ke platform yang disediakan oleh Twitter yaitu dengan mengakses: support.twitter.com/forms.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Untuk mendukung gerakan radikal di media sosial, lanjut Roy, twitter juga menyediakan berbagai tools (alat) yang dapat dimanfaatkan oleh para pengguna. Hingga saat ini menurut Roy, tagar atau hashtag merupakan tools yang sangat efektif untuk mempopulerkan konten atau pesan damai. Selain itu, banyak tools-tools lain yang bisa dimanfaatkan.

Namun demikian, partisipasi aktif dalam menyampaikan konten dan informasi yang baik sangat penting. Karena Twitter juga sangat menekankan konten yang beretika di Twitter, tutur Roy.

Kegiatan workshop ini dihadiri oleh puluhan aktivis media dan komunitas yang aktif dalam menangkal serta memerangi radikalisme dan terorisme di dunia maya. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65655/ini-cara-melaporkan-akun-akun-radikal-di-twitter

Kitab Kuning Digital

Senin, 29 Agustus 2016

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Mataram, Kitab Kuning Digital. Pondok Pesantren Abhariyah Jerneng Asuhan Rais Syuriyah PCNU Lombok Barat TGH Ulul Azmi keluar sebagai juara Group A setelah mengungguli Pesantren Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah dengan skor 2-0 di Stadion Kediri Lombok Barat, Senin (21/9).

Babak penyisihan Liga Santri Nusantara (LSN) Zona NTB sudah berjalan dua hari dengan jadwal tiga kali pertandingan setiap hari. Pagi satu kali pertandingan dan sore dua kali pertandingan.

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Jalannya pertandingan

Kemenangan Abhariyah diraih setelah Hariadi, pemain dengan nomor punggung 6 menjebol gawang Qomarul Huda dari Bagu di babak pertama.

Kitab Kuning Digital

Kemudian di babak kedua, pemain lini tengah, Lalu Zainul Hafidz dari Abhariyah melepaskan tendangan dari luar kotak penalti hingga kembali menjebol gawang lawan. Kedudukan 2-0 bertahan hingga pluit panjang berbunyi tanda pertandingan telah selesai.

Suharto, Pelatih Abhariyah menargetkan, timnya bisa meraih kemenangan pada semi final yang akan dihelat Jumat (25/9).

Kitab Kuning Digital

Guru senior Abhariyah ini juga berspesan kepada pemain asuhannya agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan bermain sportif. "Saya berpesan kepada semua pemain dan para suporter agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan tetap mejaga sportivitas," katanya. (Hadi/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62354/pesantren-abhariyah-juara-grup-a-lsn-zona-ntb

Kitab Kuning Digital

Senin, 29 Februari 2016

Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal

Bekasi, Kitab Kuning Digital. Masyarakat dengan tingkat stres tinggi di kota-kota besar adalah sasaran potensial penyebar paham radikalisme. Guru besar ilmu pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Abuddin Nata, menyatakan itu, Ahad.

"Gerakan radikal umumnya muncul di kota-kota besar karena orangnya stres akibat aktivitas kerja, kemacetan lalu-lintas dan faktor lain," katanya.

Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)


Masyarakat Perkotaan Sasaran Potensial Paham Radikal

Salah satu iming-iming yang lumrah ditawarkan adalah peningkatan status dan ekonomi masyarakatnya.

"Problem politik dan ekonomi di kota besar lebih mudah dijual dalam masyarakat seperti itu. Kemudian agama hanya dijadikan alat untuk melegitimasi seolah kekeliruan itu dibenarkan oleh ajaran agama," ujarnya.

Kitab Kuning Digital

Adapun salah satu modus dari kaum radikal adalah mengambil alih Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di lingkungan masyarakat.

"Dakwah masih banyak yang menyampaikan kekerasan, seperti masjid dikuasai komunitas radikal," katanya.

Kitab Kuning Digital

Abuddin menilai, aksi teror dari kalangan radikalisme sulit untuk dideteksi dini karena pergerakannya yang tertutup. (Antara/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65078/masyarakat-perkotaan-sasaran-potensial-paham-radikal

Kitab Kuning Digital

Jumat, 01 Mei 2015

Globalisasi Ekonomi Harus Disikapi Serius

Jember, Kitab Kuning Digital. Globalisasi ekonomi, sesungguhnya merupakan ancaman bagi pelaku ekonomi kerakyatan. Namun, hal itu tidak bisa dicegah. Sebab, lambat atau cepat era perdagangan bebas akan menjadi bagian sitem perdangan global.

Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah menyampaikan hal ini saat memberi pengarahan dalam acara Silaturahmi dan Turba PWNU Jawa Timur di halaman Pesantren Nuris, Antirogo, Sumbersari, Jember, Sabtu (31/5).

Globalisasi Ekonomi Harus Disikapi Serius (Sumber Gambar : Nu Online)
Globalisasi Ekonomi Harus Disikapi Serius (Sumber Gambar : Nu Online)


Globalisasi Ekonomi Harus Disikapi Serius

Menurut Kiai Mutawakkil, globalisasi ekonomi kini menjadi keniscayaan zaman yang harus disikapi dengan serius melalui kreatifitas dan terobsoan-terobosan ekonomi yang mumpuni. Coba, siapa yang bisa menolak Indonmaret, Alfamart, dan sejenisnya? Makanya kita harus kuat dan mempunyai kreasi agar pedagang-pedagang kecil yang notabene warga NU, tidak mati. Kalau sekarang, Jember punya khas makanan suwar-suwir, nanti bukan tidak mungkin ada suwar-suwir dari Barat, jelasnya.

Oleh karena itu, kata Kiai Mutawakkil, PWNU Jawa Timur menaruh perhatian khusus di bidang perekonomian umat. Melalui Lembaga Perkonomian Nahdlatul Ulama yang dipimpin Arief Affandi (mantan Walikota Surabaya), PWNU Jatim tengah menggarap semacam jaringan perdagangan dengan sistem bagi hasil berbasis ekonomi kerakyatan.

Kitab Kuning Digital

Kitab Kuning Digital

Kita polanya seperti ritel, tapi jauh lebih mementingkan ekonomi daerah, tandasnya. Ia menargetkan setiap kabupaten bisa berdiri 10 toko.

Acara kali ini adalah Turba yang ke-8 PWNU Jawa Timur. Masing-masing pertemuan dihadiri oleh maksimal 4 PCNU. Dalam kesempatan itu, hadir semua pengurus NU Jember, Kencong dan Lumajang (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/52381/globalisasi-ekonomi-harus-disikapi-serius

Kamis, 28 November 2013

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Wonosobo mengadakan pertemuan perdana dengan pengurus MWCNU Wadaslintang berikut ranting-ranting NU di SMA Maarif NU Wadaslintang pada Ahad (27/9). Mereka membahas hasil-hasil putusan Muktamar Ke-33 NU awal Agustus lalu.

Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Khalim Alhafidzmenyatakan bahwa NU di Wonosobo tetap rukun dan solid. Implementasi Islam Nusantara di Wonosobo sangat tepat untuk menyikapi paham-paham radikal yang mengancam keutuhan NKRI.

PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)


PCNU Wonosobo Sosialisasikan Hasil-Hasil Muktamar Ke-33 NU

Rencananya sosialisasi hasil-hasil muktamar ke-33 NU akan dilaksanakan secara berurutan dengan mendatangi setiap MWCNU dan mengundang ranting-ranting di lingkungan MWC setempat.

PCNU Wonosobo, Sekretaris PCNU Wonosobo Nurcholismenambahkan, menyambut baik penerapan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi. Dengan sistem ini, NU menjunjung tinggi maruah ulama.

Kitab Kuning Digital

Secara personal merasa sangat bangga karena embrio Ahlul Halli dicetuskan dalam Rapat Pleno PBNU tahun 2013 yang diselenggarakan di Wonosobo. Dengan demikian warga NU Wonoosbo selayaknya merasakan kebanggaan sebagai bagian dari sejarah besar NU, kata Sekretaris PCNU Wonosobo. (Red Alhafiz K)

Kitab Kuning Digital

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/62513/pcnu-wonosobo-sosialisasikan-hasil-hasil-muktamar-ke-33-nu

Kitab Kuning Digital

Kamis, 28 Maret 2013

Alasan Gus Dur Menolak Naik Heli Dan Memilih Kereta Api

Kitab Kuning Digital - Suatu ketika Gus Dur berkenan menghadiri undangan di daerah Tegal. Seperti biasa, Gus Dur selalu didampingi pengawal dan sopir serta beberapa orang lain yang menemani perjalanan beliau.

Cerita perjalanan ini merupakan rangkaian dari beberapa undangan dari warga nahdliyin kepada beliau untuk menghadiri acara haul para kiai dan acara PKB di daerah yang ketika itu dipimpinnya.

Alasan Gus Dur Menolak Naik Heli Dan Memilih Kereta Api - Kitab Kuning Digital
Alasan Gus Dur Menolak Naik Heli Dan Memilih Kereta Api - Kitab Kuning Digital


Alasan Gus Dur Menolak Naik Heli Dan Memilih Kereta Api

Dari Jakarta kami ke Surabaya dan keliling ke beberapa daerah di Jawa Timur, diteruskan ke Jawa Tengah. Dari Semarang kami melanjutkan ke daerah Tegal lewat jalan darat. Memang ada pengusaha yang menawarkan helikopter untuk dipergunakan selama perjalanan oleh beliau. Namun dengan halus beliau menolaknya.

Suatu ketika aku (NH) bertanya: “Pak, itu Pak …(X)… nawarin Heli kok dipun tolak?”

GD: "Ra sah numpak Heli, nanti kita lewat jalan darat saja sekalian mampir ziarah ke makam para ulama dulu yang tidak kamu kenal. Lha wong dia nyediain Heli karena ada maunya."

Kitab Kuning Digital

NH: "Nyuwun sewu gadah kepentingan napa Pak."

Kitab Kuning Digital

GD: “O dia lagi ada masalah, sekarang belum ada apa-apa tapi nanti bakalan diusut, dan jadi rame.”

NH: “O... ngaten to?” (Dan ternyata beberapa tahun kemudian memang pengusaha tersebut tersangkut masalah).

Akhirnya, rombongan kami pun sampai di kota Tegal dan langsung menuju ke lokasi acara di sebuah desa di selatan kota Tegal. Ribuan orang sudah memadati lapangan sejak pagi untuk mendengarkan taushiyah dari Gus Dur dalam acara haul salah satu kiai pendiri pesantren di Tegal.

Seperti biasa ketika acara berlangsung saya pergi memisahkan diri dari rombongan jalan-jalan di seputar lokasi acara sambil melihat langsung kehidupan masyarakat desa.

Selesai acara haul, rombongan kami hendak kembali ke Jakarta dengan menggunakan kereta api dari stasiun Tegal. Hiruk pikuk pun terjadi di stasiun Tegal. Semua pejabat di Tegal ikut mengantar keberangkatan beliau, tak lupa juga kepala stasiunnya. Masyarakat yang tidak menduga kalau Gus Dur akan naik KA berebut ingin bersalaman hanya ingin "ngalap barokah", suatu hal yang biasa di masyarakat NU.

Tiba waktunya kami berangkat di gerbong eksekutif yang sudah kami pesan duduk bersama dengan para penumpang yang sudah naik terlebih dahulu dari kota-kota sebelumnya. 15 menit setelah kereta api berjalan, Gus Dur memanggil pengawal kalau mau tidur di bawah saja. Kami pun bingung, aku beranikan diri menjawab: "Pak nyuwun sewu ini di Kereta pak."

Kata beliau: "Emang kenapa kalau di kereta? Rakyat kecil kalau naik kereta itu pada tiduran di bawah, cepet ndang to digelari koran."

Aku hanya terdiam mendengar jawaban beliau. Akhirnya, kursi kami putar posisi saling berhadapan dan di lantai kami gelari selimut. Dan dengan nikmatnya beliau tidur mendengkur tanpa mempedulikan status yang melekat pada dirinya (mantan Presiden RI ).

Kami pun akhirnya duduk di lantai KA dan mungkin karena sungkan para penumpang yang duduk dekat dengan kami akhirnya pada duduk di lantai mengobrol bersama dan diantaranya ada yang menitikkan air mata karena terharu melihat kerendahan hati beliau.

Tulisan ini hanya sebagai obat rindu kepada Gus Dur. Khushushan ila hadhrati Habibina Syech KH. Abdurrahman ad-Dakhil bin Abdul Wahid Hasyim, al-Fatihah. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/alasan-gus-dur-menolak-naik-heli-dan-memilih-kereta-api.html

Sabtu, 16 Maret 2013

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

Kitab Kuning Digital - Selama ini masyarakat melihat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) selalu menempelkan nama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun bila ditilik nama pengurus GNPF-nya, ternyata bukanlah pengurus MUI yang sedang menjabat. Masalahnya adalah kepentingan siapa yang menunggangi dan siapa ditunggangi? Siapa yang memanfaatkan dan siapa yang dimanfaatkan?

Berpikir ke depan, sebaiknya MUI minta secara resmi agar GNPF membubarkan diri. Kepolisian negara dapat mengawal permintaan MUI ini. Paling tidak, pembubaran dapat diagendakan setelah Pilgub DKI usai. Tidak ada alasan bagi MUI yang membiarkan GNPF hidup terus-menerus. Apalagi dibuat permanen.

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Kitab Kuning Digital
Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Kitab Kuning Digital


Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

MUI harus berani tegas dengan pembubaran ini. Bila dibiarkan, mereka akan terus bawa-bawa nama MUI untuk kepentingan dan agendanya sendiri. Tarikan kepentingan yang dalam jangka panjang dapat menyulitkan MUI sendiri di lain waktu.

Kitab Kuning Digital

Bukan tidak mungkin, GNPF bisa tumbuh menjadi anak nakal yang sulit dikendalikan oleh MUI sendiri. Apalagi GNPF sampai tumbuh dan berkembang menjadi sel-sel perlawanan yang suka membuat gaduh kerukunan antar umat beragama sampai mengaduh-aduh.

MUI juga harus tegas tidak libatkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang anti Pancasila untuk ikut dalam setiap rapat dan kegiatan yang MUI adakan. Kehadiran mereka adalah citra buruk bagi MUI. Bila hal itu dibiarkan, akan membuat kecewa:

a). Ormas pendukung berdirinya MUI (NU, Muhammadiyah, dll),

Kitab Kuning Digital

b). Penyelenggara Negara, seperti Pemerintah, MPR, DPR, MK, dll,

c). Elemen masyarakat pendukung PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, & UUD 1945) seperti Parpol, Ormas, dll.

Semua ini dimaksudkan untuk mengembalikan bangsa dan negara dalam keseimbangan hemeostasis. Terajut dan harmoni kembali setelah Gaduh Ahok. Tidak perlu terus berkembang menjadi gerakan massa aksi, apalagi sampai menjadi faktor yang dapat men-destabilisasi keamanan nasional. Bhinneka dalam keharmonisan kita damba. [Kitab Kuning Digital/ hsg]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/bubarkan-saja-gnpf-biar-tidak-mengaduh-sampai-gaduh.html

Kamis, 12 Januari 2012

Usep Romli HM: Jika Bahasa Ibu Hilang, Itu Kufur Nikmat

Bahasa ibu merupakan bahasa pertama kali yang dipelajari atau digunakan seseorang. Misalnya anak Aceh atau Papua, pertama kali menggunakan yang otomatis mempelajari dalam bahasa tersebut, maka anak itu berbahasa ibu Aceh atau Papua. Anak itu kemudian disebut penutur asli bahasa itu.

Karena berbagai faktor, ketahanan bahasa ibu di berbagai daerah di Indonesia semakin terdesak oleh bahasa-bahasa lain. Mulai dari bahasa Indonesia sendiri dan bahasa asing, misalnya Inggris atau Arab. Keterdesakan itu, jika dibiarkan, lama kelamaan menyebabkan bahasa itu hilang.

Usep Romli HM: Jika Bahasa Ibu Hilang, Itu Kufur Nikmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usep Romli HM: Jika Bahasa Ibu Hilang, Itu Kufur Nikmat (Sumber Gambar : Nu Online)


Usep Romli HM: Jika Bahasa Ibu Hilang, Itu Kufur Nikmat

Terkait bahasa ibu yang biasa diperingati tiap 21 Februari, Abdullah Alawi dari Kitab Kuning Digital berhasil mewaawancarai salah seorang budayawan dan agamawan Sunda, KH Usep Romli HM melalui surat elektronik 21 Februari lalu. Pria yang produktif nulis dan pernah aktif di IPNU dan GP Ansor tersebut mengurai prntingnya bahasa ibu, dan kerugian jika kita kehilangannya.

Kitab Kuning Digital

Pengasuh pesantren Raksa Sarakan di Cibiuk, Garut, Jawa Barat tersebut menjawab hal itu dengan dasar-dasar agama. Berikut petikannya:

Menurut Anda, bagaimana kondisi bahasa ibu secara umum di Indonesia?

Kitab Kuning Digital

Kondisi bahasa Ibu di Indonesia ada yang bertahan, ada yang mengalami kemunduran. Yang bertahan, antara lain bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Itu ditunjukkan dari lahirnya karya-karya tulis dalam bahasa itu yang tiap tahun mendapat hadiah dari Yayasan Rancage, baik untuk karya sastra maupun jasa terhadap bahasa dan sastra. Hadiah Yayasan Rancage yang digagas Ajip Rosidi sudah berlangsung 25 tahun.

Bagaimana kecenderungan penggunaan bahasa ibu oleh anak muda sekarang di zaman sosial media?

Mungkin menurun. Tapi bukan bahasa ibu di daerah Indonesia saja. Konon anak-anak muda Spanyol, lebih suka menggunakan bahasa asing Inggris dan Prancis di media sosial. Sehingga Akdemi Keraajaan Spanyol menyelenggarakan berbagai lomba untuk merangsang anak-anak muda berbahasa Spaanyol di media sosiial. Khusus bahasa Sunda, lumayan masih mampu menggunakan bahasa Sunda di media sosial. Di Facebook, banyak dibuka akun berbahasa Sunda, seperti Fiksimini Basa Sunda, Pustaka Sunda, Forum Jurnalis Sunda, Guguyon, dsb.

Apa pentingnya menjaga dan melindungi bahasa ibu?

Bahasa Ibu mengandung filosofi, kearifan dan pandangan hidup masyarakat penggunanya. Untuk menjaga semua itu, baahasa ibu diperlukan hidup dan berkembang. Firman Allah dalam Q S Ar Rum ayat 22. Dan beberapa hadits yang menyangkut antum alamu bi umurid dunyakum.

Bagaimana peran pesantren, khsusnya di wilayah berbahasa Sunda dalam menjaga bahasa ibu?

Ketika lembaga pesantrren masih utuh dan murni berdasarkan prinsif tafwidz (hanya Allah yang merancang), bahasa daerah terpelihara. Hingga tahun 1960-an, santri di Tatar Sunda masih mengaji kitab dengan bahasa Jawa, karena ajengannya ngaji di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Sekarang pesantren telah berubah menajdi lembaga pendidikan umum, yang menganut prinsip tadbir (ditentukan manusia, proposal, subsidi, dlsb), bahasa daerah nyaris hilang dalam kegiatan formal.Kecuali dalam pergaulan sehari-hari yang amat terbatas.

Mungkinkah bahasa ibu itu hilang, dan bagaiamana konseuensinya dalam bahasa agama?

Selama ada yang menggunakan dan memperjuangkan, insya Allah, akan tetap ada. Jika diabaikan, ya nikmat bahasa itu dicabut oleh pemiliknya, Allah SWT. Dia tidak akan mencabut anugrah nikmat-Nya dari suatu kaum, jika kaum itu tidak mengabaikan nikmat tersebut dengan sikap kufur nikmat (tafsir Ath Thabari, Jalalain, Khozin, atas ayat 11 S.Ar Rodu Innallaha laa yughoyyiru ma bi qowmin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim. Para mufsir andal tersebut mengkategorikan ayat ini sebagai ayat syukur wa kufur nikmat. Para ulama Orde Baru menganggap ayat ini sebagai ayaat pem bangunan).

Jika bahasa Ibu hilang, kerugian buat kita adalah kerugian yang ditimpakan Allah SWT kepada bangsa kufur nikmat. Dijerumuskan ke Negara Kebinasaan (Q,s.Ibrahim : 28). Manusia kufur nimat mendapat azab pedih (Q.s.Ibrahim : 7). Bahasa Ibu adalah nikmat Allah. Orang yang mensyukuriya dengan memelihara, memajukan, memperjuangkan kelanggengannya, akan ditingkatan nikmatnya (Q.S.Ibrahim : 7).

Bagaimana caranya menjaga bahasa ibu yang efektif?

Pergunakan di lingkungan keluarga. Anak yang mengusai bahasa ibu sejak lahir, setelah masuk sekolah akan menguasai dua bahasaa (bahasa ibu dan bahasa nasional). Pada tingkat pendidikan selanjutnya tambah bahasa asing. Jadi seorang pengguna bahasa ibu akan mampu menguasai minimal dua atau tiga bahasa. Di Kompas kemarin ada berita agar pelajaran bahasa Inggris di SD dihapus, karena tidak efektif dan efesien. Bagus. Sebab belajar sesuatu bahasa , sekalipun tingkat dasar, harus disertai pengenalan filosofi, kearifan, dan wisdom pemilik bahaasa tersebut. Tidak hanya sekadar menguasai spelling, prononcion, idiomatik dsb. Artinya harus mengubah visi dan tatacara hidup sesuai dengan bahasa yang diperlajari.

Apa peran lembaga masyarakat atau pemerintah?

Peran pemerintah memberi ruang seluas-luasnya bagi pendidikan dan pembelajaran bahasa ibu. Itu kalau pemerintah masih menghargai Bhineka Tunggal Ika. Keluarga dan masyarakat juga harus punya kesadaran akan manfaat bahasa ibu bagi ketahanan karakter generasi bangsa.

Profil singkat Usep Romli HM

Usep Romli H. M.

Wartawan, guru, sastrawan, agamawan yang menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Lahir di Limbangan, Garut, 16 April 1949. Anggota IPNU (1964-1966), GP Ansor (1966-1972), anggota penasihat Lajnah Talif wan Nasr PWNU Jawa Barat.

Karir Usep dimulai sebagai seorang guru, kemudian menggeluti dunia jurnalistik. Ia menulis di mingguan Fusi (1972), Giwangkara (1972-1976), sk Pelita (1977-1979) sk Sipatahunan (1979-1980) dan Pikiran Rakyat (1984-1991).

Usep menulis sajak dan cerpen dimuat di Kalawarta Kujang, Mangle, Hanjuang, Gondewa, Galura, dll. Sebagai seorang santri, karya-karya Usep sangat kental dengan pesantren, diantaranya Bentang Pasantren (bintang Pesantren, novel, 1983), Cuerik Santri (Tangis Santri, kumpulan Cerpen, 1985) Jiad Ajengan, (Jampi-jampi Kiai, cerpen, 1991), Percikan Hikmah (kumpulan anekdot Islam, 1999), dll.

Usep pernah mendapat penghargaan Hadiah Sastra Mangle (1977), Hadiah Penulisan Buku Depdikbud (1977), Piagam Wisata Budaya Diparda Jabar (1982) serta Hadiah Sastra LBSS (1995).

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50408/usep-romli-hm-jika-bahasa-ibu-hilang-itu-kufur-nikmat

Kitab Kuning Digital

Rabu, 23 November 2011

Sejarah Natal dan Kontroversi Hari Dewa Matahari

Kitab Kuning Digital - Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan pagan Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil oleh Kristen.

Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama pagan ini. Disamping itu, Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada Dewa Matahari yang seharusnya tidak perlu.

Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.

Sejarah Natal dan Kontroversi Hari Dewa Matahari - Kitab Kuning Digital
Sejarah Natal dan Kontroversi Hari Dewa Matahari - Kitab Kuning Digital


Sejarah Natal dan Kontroversi Hari Dewa Matahari

Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu.

Kitab Kuning Digital

Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari – dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu - red.)

Dan bagaimana pengaruh kepercayaan Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan – Yesus).

Kemungkinan besar bangsa Latin/ Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran Dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak Dewa Mitra atau kelahiran Dewa Matahari yang tak terkalahkan.

Kitab Kuning Digital

Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus.

Demikianlah kontroversi asal usul “Christmas - Natal” yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sejarah-natal-dan-kontroversi-hari-dewa-matahari.html

Jumat, 08 April 2011

MWCNU Balen Gelar Konferensi

Bojonegoro, Kitab Kuning Digital. Para Pengurus Ranting NU di Kecamatan Balen, Ahad (17/3/2013), berkumpul di kantor Majelis Wakil Cabang (MWC) NU setempat untuk menggelar konferensi yang berlangsung lima tahun sekali.

Kegiatan tersebut untuk memilih rais syuriyah dan ketua tanfidziyah MWC NU Balen masa khidmat 2013-2018.

MWCNU Balen Gelar Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Balen Gelar Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)


MWCNU Balen Gelar Konferensi

Ikut dalam pembukaan pengurus musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Balen dan pimpinan cabang (PC) NU Bojonegoro.

Demikian pula hadir pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) mulai dari Fatayat, Muslimat, GP Ansor, IPNU-IPPNU dan koordinator kecamatan (Kortan) TPQ An-Nahdliyah. Peserta konferensi dari ranting di 23 desa se-Kecamatan Balen.

Kitab Kuning Digital

Ketua panitia konferensi MWCNU Balen masa khidmat 2013-2018, Thoyib Suprapto, mengatakan, dari masing-masing desa ada tiga perwakilan, yakni rais syuriyah, ketua tanfidziyah, dan peninjau.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada peserta dan udangan yang hadir. "Diharapkan konferensi ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai harapan," jelasnya.

Kitab Kuning Digital

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Bojonegoro KH Misbah Syakur dalam sambutannya mengatakan, setelah terpilih kembali menjadi Rais Syuriyah, ini merupakan kegiatan pertamanya.

Mbah Misbah, demikian ia biasa dipanggil, juga sedikit bercerita tentang NU. NU bagian dari Indonesia, makanya mengakui adanya Pancasila dan Undang-Undang.

"NU bukan teroris dan tidak akan menjadi teroris, karena NKRI harga mati," pungkasnya.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: M. Yazid

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43147/mwcnu-balen-gelar-konferensi

Jumat, 06 Agustus 2010

Ini Tokoh Khawarij Pertama Sejak Rasul Diutus

Kitab Kuning Digital - Firqah salaf (terdahulu) atau firqah pada zaman Rasulullah yang gemar menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka adalah orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim

Dzul Khuwaishirah tokoh penduduk Najed dari bani Tamim juga termasuk salaf karena bertemu dengan Rasulullah namun tidak mendengarkan dan mengikuti Rasulullah melainkan mengikuti pemahaman atau akal pikirannya sendiri yang berakibat menjadikannya sombong dan durhaka kepada Rasulullah yakni merasa lebih pandai dari Rasulullah sehingga berani menyalahkan dan menghardik Rasulullah

Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu! Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. (HR Bukhari 3341)

Abu Sa’id berkata; Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, kenapa pemimpin-pemimpin Najd yang diberi pembagian oleh Rasulullah, dan kita tidak dibaginya? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: Sesungguhnya aku lakukan yang demikian itu untuk membujuk hati mereka.

Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul. Ia berkata, Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika aku sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku? (HR Muslim 1762)

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim adalah orang-orang yang menyalahkan umat Islam lainnya yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka sehingga mereka menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) yang disebut dengan khawarij. Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar.

Oleh karena orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah, penduduk Najed dari bani Tamim salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah sehingga mereka bersikap takfiri yakni mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham (sependapat) dengan mereka dan berujung menghalalkan darah atau membunuhnya.

Lihat saja sejarah kebengisan mulai dari perebutan dan perampasan kekuasaannya terhadap khalifah Utsmaniyah. Setelah kekuasaan di tangannya, mereka mulai mencari keturunan nabi dan membunuhinya. Maka timbul pertanyaan. Untuk apa mereka mumbunuh keturunan Rasul?

Jelas ini menyangkut banyak masalah. Di antaranya dendam keluarga, dendam kekuasaan, dendam kesukuan dan keturunan serta dendam dendam lainnya. Makanya mereka mencari cari kesalahan dan kelemahan yang sejak dulu kala sudah dianggap musuh oleh mereka.

Cuma saja para pengikutnya dan pembeonya di Indonesia ini tidak paham apa sesungguhnya yqng terjadi. Kebanyakan dari mereka hanya ikut ikutan. Kalau ustadznya sudah caci maki, mereka pun ikut seperti itu. Kalau ustadz nya membenci mereka pun ikut benci.

Inilah salah satu pemisah antara satu kelompok dan kelompok lainnya sampai akhir zaman.

Sampai turunnya imam mahdi, keturunan Rasulullah, yang kata mereka terputus-putus itu.

Kalau keturunan nabi terputus, tentulah Imam Mahdi tidak akan turun. Kalau Imam Mahdi tidak turun tentu hadits Nabi dianggap palsu oleh mereka. La haula wala quwwata illa billahil'aliyyil 'azim. Na'uzubillah. [Kitab Kuning Digital/abd]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/ini-tokoh-khawarij-pertama-sejak-rasul-diutus.html

Minggu, 27 September 2009

Semakin Banyak Isi Kitab Kuning Yang Diubah

Kitab Kuning Digital - Kementerian Agama (Kemenag) mengingatkan kepada pihak pondok pesantren bahwa fenomena perang pemikiran yang terjadi sekarang ini di kalangan internal umat Islam, telah mengancam isi dari kitab kuning.

Kitab Kuning yang menjadi rujukan pesantren kepada kitab-kitab keislaman kontemporer ini menjadi legitimasi arus pemikiran di luar yang telah diajarkan oleh para penulisnya.

Semakin Banyak Isi Kitab Kuning Yang Diubah - Kitab Kuning Digital
Semakin Banyak Isi Kitab Kuning Yang Diubah - Kitab Kuning Digital


Semakin Banyak Isi Kitab Kuning Yang Diubah

Hal itu disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Ace Saefuddin usai menerima perwakilan dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) di kantor Kemenag Jakarta. “Saat ini upaya pengubahan dan penyusupan isi kitab-kitab pelajaran agama atau biasa disebut kitab kuning semakin gencar,” ujarnya, Kamis (23/1).

Kitab Kuning Digital

Hal ini, menurut dia, terjadi karena perang pemikiran antara kelompok Salafiyah yang diwakilkan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan Kelompok Islam garis keras atau yang biasa dikenal dengan Wahabi. “Di dalam kitab yang disusupi ada kalimat-kalimat tertentu yang menyalahkan arti sehingga mengandung perbedaan faham,” kata dia.

Penyusupan itu, kata Ace, seperti dengan tahrib atau menghilangkan ide yang asli, ada juga melalui tahqiq atau membuat tafsir baru seperti AlQurannya Ahmadiyah. Penyusupan terjadi melalui software komputer dalam penggunaan kitab-kitab ini yaitu Maktabah Syamila yang kini mulai populer digunakan dikalangan para santri pondok pesantren modern.

Karenanya, ia mengingatkan kepada pihak pondok pesantren baik Kiai atau santri untuk memperhatikan hal ini. Pihaknya juga menghimbau agar Kiai bisa memberikan pemahaman yang benar sesuai asli penulisnya kepada para santri. Ini sebagai bentuk antisipasi, agar santri bisa membedakan seperti apa kitab-kitab yang masih asli sesuai karangan penulisnya dan mana yang telah diubah.

Kitab Kuning Digital

Begitu banyak kitab para ulama dicetak dan beredar, tetapi isinya sudah diputar-balik sedemikian rupa, sehingga seolah-olah penulisnya itu 100 persen cocok dengan ‘selera’ mereka. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kitmanul-haq, atau setidaknya sebuah pengkhianatan. Dalam istilah ilmu hadits, namanya tadlis.

Berikut isi kitab kuning yang telah diubah oleh tangan-tangan jahil Wahabi: Bila dalam kitab kuning al-Ibanah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari terdapat tulisan yang secara eksplisit maupun implisit mendukung tajsim dan tasybih, maka dipastikan kitab tersebut diubah.

Bila dalam kitab kuning Shahih Bukhari, pasal al-Ma’rifah dan Bab al-Madholim tidak ada/hilang, maka dapat dipastikan kitab tersebut diubah, karena Imam Ibnu Hajar al-Asqolani dalam Fathul Bari menjelaskan adanya pasal tersebut.

Bila pasal Ziarah Kubur Nabi Muhammad SAW di dalam kitab kuning Riyadlus Sholihin berubah menjadi pasal Ziarah Masjid Nabi SAW, maka kitab tersebut diubah.

Di dalam kitab Diwan Asy Syafi’i halaman 47 ada bait yang berbunyi, “Faqihan wa Shufiyyan Fakun Laisa Wahidan, yang artinya "Jadilah ahli fiqih dan Shufi sekaligus, jangan hanya salah satunya…dan seterusnya." Bila bait ini hilang maka kitab kuning tersebut diubah.

Bila Hadits tentang Fadhoil Maryam, Asiyah, Khodijah dan Fatimah hilang dari kitab Shahih Muslim, maka kitab itu diubah karena Mustadrak al-Hakim mencatat itu.

Bila Hadits tentang Nabi SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor, serta mempersaudarakan dirinya dengan Sayidina Ali tidak ada di dalam Musnad Imam Ahmad, maka Musnad tersebut diubah.

Bila pasal khusus tentang Wali, Abdal, Sholihin dan Karomah, tidak ada di dalam Hasyiyah Ibnu Abidin yang bermadzhab Hanafi, maka kitab tersebut diubah.

Bila tulisan bahwa "Wahabi adalah jelma'an khawarij yang telah merusak penafsiran Al-Qur'an dan As-Sunnah, suka membunuh kaum muslimin…dan seterusnya" dalam kitab Hasyiyah Ash-Showi ala Tafsir Jalalain karya Syeikh Ahmad bin Muhammad Ash-Showi al-Maliki halaman 78 tidak ada, maka kitab tersebut diubah!

Di dalam kitab Al-Fawaid Al-Muntakhobat karya Ibnu Jami Aziz Zubairi halaman 207 menyatakan bhwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah Thoghut Besar. Bila tulisan ini tidak ada, maka kitab tersebut diubah.

Bila Bab Istighothah pada kitab al-Mughni karya Imam Ibnu Qudamah al-Hanbali tidak ada, maka kitab tersebut diubah. Demikian pengumuman isi kitab kuning yang diubah oleh tangan-tangan wahabi hingga saat ini. Jangan mudah untuk download kitab kuning di sembarang situs. Jika Anda ingin mendownload pdf kitab kuning ulama nusantara, Anda bisa klik Download Ratusan Karya Ulama Nusantara. [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/semakin-banyak-isi-kitab-kuning-yang-diubah.html

Selasa, 28 Juli 2009

Kata Sayyidina Sebelum Menyebut Nama Nabi Muhammad

Menambah kata "Sayyid" sebelum menyebut nama Nabi Muhammad adalah perkara yang dibolehkan di dalam syari’at. Karena pada kenyataannya Rasulullah adalah seorang Sayyid, bahkan beliau adalah Sayyid al-‘Alamin, penghulu dan pimpinan seluruh makhluk. Salah seorang ulama bahasa terkemuka, ar-Raghib al-Ashbahani dalam kitab Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan bahwa di antara makna “Sayyid” adalah seorang pemimpin, seorang yang membawahi perkumpulan satu kaum yang dihormati dan dimuliakan (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 254).

Dalam al-Qur’an, Allah menyebut Nabi Yahya dengan kata “Sayyid”:

وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (ءال عمران: 39)

“... menjadi pemimpin dan ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (QS. Ali ‘Imran: 39)

Nabi Muhammad jauh lebih mulia dari pada Nabi Yahya, karena beliau adalah pimpinan seluruh para nabi dan rasul. Dengan demikian mengatakan “Sayyid” bagi Nabi Muhammad tidak hanya boleh, tapi sudah selayaknya, karena beliau lebih berhak untuk itu. Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah sendiri menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang “Sayyid”. Beliau bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ ءَادَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ (رواه الترمذي)

“Saya adalah penghulu manusia di hari kiamat”. (HR. at-Tirmidzi)

Dengan demikian di dalam membaca shalawat boleh bagi kita mengucapkan “Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad”, meskipun tidak ada pada lafazh-lafazh shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-Shalawat al Ma'tsurah) dengan penambahan kata “Sayyid”. Karena menyusun dzikir tertentu yang tidak ma'tsur boleh selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur.

Sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menambah lafazh talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Lafazh talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Namun kemudian sabahat Umar ibn al-Khaththab menambahkannya. Dalam bacaan beliau:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

Dalil lainnya adalah dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa beliau membuat kalimat tambahan pada Tasyahhud di dalamnya shalatnya. Kalimat Tasyahhud dalam shalat yang diajarkan Rasulullah adalah “Asyhadu An La Ilaha Illah, Wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah”. Namun kemudian ‘Abdullah ibn ‘Umar menambahkan Tasyahhud pertamanya menjadi:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Tambahan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah” sengaja diucapkan oleh beliau. Bahkan tentang ini ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha...”. Artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”. (HR Abu Dawud)

Dalam sebuah hadits shahih, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa'ah ibn Rafi', bahwa ia (Rifa'ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku' beliau membaca: “Sami’allahu Liman Hamidah”, tiba-tiba salah seorang makmum berkata:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Setelah selesai shalat Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?". Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah...”. Lalu Rasulullah berkata:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ

“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.

al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, dalam menjelaskan hadits sahabat Rifa’ah ibn Rafi ini menuliskan sebagai berikut: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan kepada beberapa perkara. Pertama; Menunjukan kebolehan menyusun dzikir yang tidak ma'tsur di dalam shalat selama tidak menyalahi yang ma'tsur. Dua; Boleh mengeraskan suara dzikir selama tidak mengganggu orang lain di dekatnya. Tiga; Bahwa orang yang bersin di dalam shalat diperbolehkan baginya mengucapkan “al-Hamdulillah” tanpa adanya hukum makruh” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).

Dengan demikian boleh hukumnya dan tidak ada masalah sama sekali di dalam bacaan shalawat menambahkan kata “Sayyidina”, baik dibaca di luar shalat maupun di dalam shalat. Karena tambahan kata “Sayyidina” ini adalah tambahan yang sesuai dengan dasar syari’at, dan sama sekali tidak bertentangan dengannya.

Asy-Syaikh al’Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam kitab al-Minhaj al-Qawim, halaman 160, menuliskan sebagai berikut:

وَلاَ بَأْسَ بِزِيَادَةِ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ، وَخَبَرُ"لاَ تُسَيِّدُوْنِي فِيْ الصَّلاَةِ" ضَعِيْفٌ بَلْ لاَ أَصْلَ لَهُ

“Dan tidak mengapa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum Muhammad. Sedangkan hadits yang berbunyi “La Tusyyiduni Fi ash-Shalat” adalah hadits dla'if bahkan tidak memiliki dasar (hadits maudlu/palsu)”.

Di antara hal yang menunjukan bahwa hadits “La Tusayyiduni Fi ash-Shalat” sebagai hadits palsu (Maudlu’) adalah karena di dalam hadits ini terdapat kaedah kebahasaan yang salah (al-Lahn). Artinya, terdapat kalimat yang ditinjau dari gramatika bahasa Arab adalah sesuatu yang aneh dan asing. Yaitu pada kata “Tusayyiduni”. Di dalam bahasa Arab, dasar kata “Sayyid” adalah berasal dari kata “Saada, Yasuudu”, bukan “Saada, Yasiidu”. Dengan demikian bentuk fi’il Muta'addi (kata kerja yang membutuhkan kepada objek) dari “Saada, Yasuudu” ini adalah “Sawwada, Yusawwidu”, dan bukan “Sayyada, Yusayyidu”.

Dengan demikian, -seandainya hadits di atas benar adanya-, maka bukan dengan kata “La Tasayyiduni”, tapi harus dengan kata “La Tusawwiduni”. Inilah yang dimaksud dengan al-Lahn. Sudah barang tentu Rasulullah tidak akan pernah mengucapkan al-Lahn semacam ini, karena beliau adalah seorang Arab yang sangat fasih (Afshah al-‘Arab).

Bahkan dalam pendapat sebagian ulama, mengucapkan kata “Sayyidina” di depan nama Rasulullah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat lebih utama dari pada tidak memakainya. Karena tambahan kata tersebut termasuk penghormatan dan adab terhadap Rasulullah. Dan pendapat ini dinilai sebagai pendapat mu’tamad.

Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Bajuri dalam kitab Hasyiah al-Bajuri, menuliskan sebagai berikut:

الأوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ لأَنّ الأفْضَلَ سُلُوْكُ الأدَبِ، خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ الأوْلَى تَرْكُ السّيَادَةِ إقْتِصَارًا عَلَى الوَارِدِ، وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ، وَحَدِيْثُ لاَ تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاتِكُمْ بِالوَاوِ لاَ بِاليَاءِ بَاطِلٌ

“Yang lebih utama adalah mengucapkan kata “Sayyid”, karena yang lebih afdlal adalah menjalankan adab. Hal ini berbeda dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa lebih utama meninggalkan kata “Sayyid” dengan alasan mencukupkan di atas yang warid saja. Dan pendapat mu’tamad adalah pendapat yang pertama. Adapun hadits “La Tusawwiduni Fi Shalatikum”, yang seharusnya dengan “waw” (Tusawwiduni) bukan dengan “ya” (Tusayyiduni) adalah hadits yang batil” (Hasyiah al-Bajuri, j. 1, h. 156). [Kitab Kuning Digital]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/kata-sayyidina-sebelum-menyebut-nama-nabi-muhammad-saw.html

Senin, 06 Juli 2009

Warga NU Harus Cancut Taliwondo Hadapi Propaganda Khilafah

Rembang, Kitab Kuning Digital. Dalam menghadapi propaganda yang mulai kembali ditebarkan di sebagian wilayah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Rembang mengajak kepada segenanp warga NU diseluruh wilayah Rembang khususnya dan seluruh Indonesia pada umumnya untuk semakin merapatkan barisan.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil ketua Tanfidziyah PCNU Gus Adib, Kamis (21/4) saat memberikan sambutan Harlah ke-93 NU di aula Pesantren Raudlatut Tholibien Leteh Rembang.

Warga NU Harus Cancut Taliwondo Hadapi Propaganda Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Harus Cancut Taliwondo Hadapi Propaganda Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)


Warga NU Harus Cancut Taliwondo Hadapi Propaganda Khilafah

Pemilik nama lengkap KH Bisri Adib Hattani ini menyampaikan, kalau Nahdlatul Ulama dihadapkan dengan persoalan khilafiyah seperti tahlilan, manaqiban, kita biarkan saja. ia berpendapat tidak apa-apa. Ia berpendapat, jika ada orang yang mengajak untuk merobohkan NKRI, Adib Hattani berpendapat kita harus Cancut Taliwondo.

Kitab Kuning Digital

"Mungkin yang dari Pamotan kemarin ketemu dengan yang namanya organisasi yang mengajak-ajak kita bikin khilafah. Organisasi yang mengajak untuk merobohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mendirikan khilafah, didepan masjid kemarin di Pamotan.

Kitab Kuning Digital

Gus Adib berpesan, ini menjadi tugas kita bersama bukan hanya MWCNU Pamotan tetapi menjadi tugas kita bersama untuk mewaspadai tumbuhnya organisasi radikal seperti yang mulai terlihat di Kecamatan Pamotan, laporkan kepada pihak berwenang seperti TNI dan Polri. Menurut Gus Adib bukan wewenang kita untuk mengambil tindakan atas nama pemerintah. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67523/warga-nu-harus-cancut-taliwondo-hadapi-propaganda-khilafah

Kitab Kuning Digital

Selasa, 20 Mei 2008

Suriah Tawarkan Beasiswa untuk Kader NU

Jakarta, Kitab Kuning Digital. Salah satu perguruan tinggi terkemuka di Suriah, Universitas Syekh Ahmad Kaftaro, menawarkan beasiswa pendidikan kepada kader Nahdlatul Ulama (NU). Beasiswa ini ditujukan untuk para dosen di lingkungan perguruan tinggi NU dan calon mahasiswa yang tertarik belajar di Suriah.

Tawaran disampaikan langsung oleh Rektor Universitas Syekh Ahmad Kaftaro, Dr Muhammad Syarif Showaf, saat bersilaturrahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta, Kamis (17/5).

Suriah Tawarkan Beasiswa untuk Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Suriah Tawarkan Beasiswa untuk Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)


Suriah Tawarkan Beasiswa untuk Kader NU

Muhammad Syarif disambut hangat oleh Ketua PBNU H Iqbal Sullam yang didampingi Dosen STAINU Jakarta Nasrullah dan beberapa pengurus lembaga di lingkungan NU. Ia sendiri didampingi Ketua Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Suriah Muhammad Ahsin Mahrus.

Beasiswa yang ditawarkan Universitas Syekh Ahmad Kaftaro meliputi program kuliah pendek (short course) untuk 30 dosen di universitas setempat, dan beasiswa S1 pendidikan di Fakultas Usuluddin dan Dakwah.

Kitab Kuning Digital

Sayang untuk tahun ini, pihak Universitas Syekh Ahmad Kaftaro meminta semua persyaratan dari calon peserta harus diterima pada bulan Mei ini juga, sehingga waktunya terlalu mendesak. PBNU baru menyanggupi menerima program beasiswa untuk tahun depan.

Kitab Kuning Digital

Namun demikian Ketua PBNU H Iqbal Sullam mengatakan, kesempatan bagi para kader NU untuk belajar di luar negeri, terutama di Timur Tengah sangat terbuka. Para calon peserta diminta menyiapkan persyaratan akademik, terutama terkait kemampuan berbahasa asing. Kalau ada informasi beasiswa kita langsung siap, katanya sembari meminta setiap informasi beasiswa untuk dipublikasikan segera melalui Kitab Kuning Digital.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37972/suriah-tawarkan-beasiswa-untuk-kader-nu

Kitab Kuning Digital

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Kitab Kuning Digital sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Kitab Kuning Digital. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Kitab Kuning Digital dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock